Usai Naik 5 Persen, Harga Minyak Dunia Bervariasi

Kompas.com - 13/05/2022, 10:37 WIB

NEW YORK, KOMPAS.com - Harga minyak mentah dunia bergerak bervariasi pada akhir perdagangan Kamis (12/5/2022) waktu setempat (Jumat pagi WIB), di tengah kekhawatiran pasokan dan ketidakpastian ekonomi global imbas perang Rusia-Ukraina.

Mengutip CNBC, Jumat (13/5/2022), harga minyak mentah berjangka Brent turun 6 sen menjadi ke level 107,45 dollar AS per barrel. Sementara harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik 0,4 persen ke level 106,13 dollar AS per barrel.

“Perdagangan tipis dan tidak ada yang tahu apa yang akan menggerakkan jarum (arah harga minyak),” kata John Kilduff, Mitra di Again Capital LLC, New York.

Baca juga: Kemendag Gagalkan Ekspor 81. 000 Liter Minyak Goreng ke Timor Leste

Padahal pada perdagangan Rabu kemarin, harga minyak dunia sempat melonjak 5 persen setelah Rusia memberikan sanksi ke 31 perusahaan yang berbasis di negara-negara yang memberlakukan sanksi terhadap Rusia karena invasinya ke Ukraina.

Namun kini pergerakan harga minyak dunia bervariasi. Langkah Uni Eropa yang melarang impor minyak Rusia, diperkirakan akan semakin memperketat pasokan global. Adapun Rusia merupakan pemasok utama minyak mentah dan bahan bakar ke blok tersebut.

Kendati demikian, Uni Eropa saat ini masih tawar-menawar terkait rincian embargo minyak Rusia dan membutuhkan suara bulat dari seluruh negara anggota. Lantaran, Hongaria menentang larangan tersebut karena akan sangat mengganggu perekonomiannya.

Secara lebih luas, harga minyak dan pasar keuangan dunia telah berada di bawah tekanan sepanjang pekan ini. Hal itu dikarenakan kekhawatiran pasar atas kenaikan suku bunga, penguatan dollar AS ke level tertinggi dalam dua dekade, kekhawatiran atas inflasi, dan kemungkinan resesi.

Laporan indeks harga konsumen (IHK) AS di April 2022 yang melonjak 8,3 persen dibandingkan periode sama di tahun lalu, memicu kekhawatiran tentang kenaikan suku bunga Bank Sentral AS yang lebih besar, dan dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi.

Di sisi lain, Lockdown yang berkepanjangan di China akibat Covid-19, juga turut mempengaruhi pasar minyak global. Hal ini mengingat China merupakan importir minyak mentah terbesar di dunia, namun lockdown menurunkan permintaan dari negara tersebut.

"Lockdown yang diperpanjang di seluruh China mendorong perlambatan signifikan di konsumen minyak terbesar kedua di dunia," tulis Badan Energi Internasional (IEA) dalam laporan bulanannya.

Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) pun memangkas perkiraan pertumbuhan permintaan minyak dunia pada 2022 untuk dua bulan berturut-turut, dengan alasan dampak invasi Rusia ke Ukraina, kenaikan inflasi, dan tingginya kasus Covid-19 di China.

Baca juga: Harga Minyak Dunia Melonjak 5 Persen, Ada Apa?

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.