Wall Street Mayoritas Merah, Saham Twitter dan Tesla Rontok

Kompas.com - 17/05/2022, 07:10 WIB

NEW YORK, KOMPAS.com – Bursa saham Amerika Serikat atau Wall Street ditutup mayoritas merah pada Senin (16/5/2022) waktu setempat. Indeks S&P 500 dan Nasdaq melemah didorong oleh sentimen kekhawatiran pasar akan potensi resesi di AS.

Dow Jones Industrial Average (DJIA) naik tipis 0,08 persen atau 26,76 poin menjadi 32.223,42. S&P 500 turun 0,39 persen menjadi 4.008,01, dan Nasdaq Composite turun 1,2 persen menjadi 11.662,79.

Saham teknologi menjadi pemberat pergerakan Nasdaq di awal pekan, dengan penurunan harga saham perusahaan cloud seperti Datadog, Cloudflare dan Atlassian masing-masing 10,7 persen, 13,6 persen, dan 6,3 persen. Sementara itu, saham Twitter anjlok 8,1 persen, dan perusahaan kendaraan listrik Tesla turun sekitar 5,9 persen.

Baca juga: Saham Twitter Ambles Lebih dari 9 Persen, Usai Elon Musk Tunda Akuisisi

Bill Northey, direktur investasi senior di U.S. Bank Wealth Management mengatakan, pelemahan  telah berlangsung sejak pekan lalu, karena kekhawatiran atas perlambatan pertumbuhan ekonomi AS, kenaikan suku bunga dari Federal Reserve, dan inflasi yang melonjak.

“Jadi, karena kurva imbal hasil Treasury AS terus bergerak lebih tinggi untuk mengantisipasi inflasi realisasi yang lebih tinggi dan penyesuaian kebijakan Federal Reserve, kami telah melihat penyesuaian yang konsisten dan luas terhadap valuasi aset yang telah terjadi konsisten dengan meningkatnya kekhawatiran inflasi,” kata Northey mengutip CNBC.

Imbal hasil Treasury telah melonjak tahun ini karena The Fed memperketat kebijakan moneter untuk mencegah inflasi yang tinggi selama beberapa dekade. Treasury AS 10 tahun melampaui angka 3 persen pada awal bulan ini.

Analis Citi Scott Chronert mengungkapkan, rata-rata indeks utama telah jatuh jauh dari rekor tertinggi mereka. Dow dan S&P 500 masing-masing sekitar 12,8 persn dan 16,8 persen setelah mencapai posisi tertinggi pada Januari. Nasdaq juga dalam trend bearish, dan turun 28 persen dari posisi tertingginya pada November tahun lalu.

"S&P 500 dengan cepat mendekati level yang secara historis mengindikasikan adanya kekhawatiran pertumbuhan di masa depan," kata Chronert.

Sektor energi memimpin kenaikan di S&P 500, dengan kenaikan 2,6 persen, ditopang oleh kenaikan saham Occidental Petroleum 5,7 persn, dan Marathon Oil 3,6 persen. Kenaikan harga saham ditopang oleh kenaikan harga minyak mentah AS 3 persen, di tengah kekhawatiran pemulihan ekonomi China akibat adanya penguncian karena melonjaknya kasus Covid-19.

Baca juga: Wall Street Berakhir Hijau, Saham Meta Platforms, Alphabet hingga Tesla Terbang

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Sumber CNBC
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.