Pemerintah Mulai Waspada, Konflik Rusia-Ukraina Bisa Kerek Inflasi Tinggi

Kompas.com - 18/05/2022, 14:34 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan terus waspada dengan konflik Rusia-Ukraina. Pasalnya, konflik tersebut membawa dampak negatif pada perdagangan global.

Kepala BKF, Febrio Nathan Kacaribu menyebut, perdagangan global yang terdisrupsi akan menekan pemulihan ekonomi. Lonjakan harga komoditas akibat disrupsi tersebut pun berpotensi mengerek inflasi.

"Disrupsi perdagangan global akan menekan laju pemulihan ekonomi global yang diproyeksi semakin melambat. Sementara itu, lonjakan kenaikan harga komoditas, khususnya energi dan pangan, akan mendorong kenaikan inflasi di dalam negeri," kata Febrio dalam siaran pers, Rabu (18/5/2022).

Baca juga: Rusia-Ukraina Berperang, BPS: Konflik Merugikan Kita...

Namun demikian, kata Febrio, pemerintah akan terus mewaspadai dampak tak langsung dari konflik Rusia–Ukraina, baik terkait pelemahan kinerja ekonomi global maupun terkait dengan lonjakan harga komoditas.

Di sisi lain, Kementerian Keuangan sebagai bendahara negara melakukan berbagai upaya untuk menjaga kestabilan harga dan menjaga daya beli masyarakat. Upaya ini bekerjasama dengan kementerian/lembaga teknis terkait.

"Berbagai upaya telah dilakukan pemerintah untuk menjaga kestabilan harga dan kecukupan ketersediaan kebutuhan pangan pokok dan energi, termasuk memberikan bantalan kebijakan berupa bansos minyak goreng untuk kelompok berpendapatan rendah," ucap Febrio.

Baca juga: Kadin Ungkap Potensi Krisis Pangan Global akibat Konflik Rusia dan Ukraina

Lebih lanjut Febrio mengungkapkan, konflik Rusia-Ukraina memiliki dampak positif dan dampak negatif terhadap Indonesia. Dampak tersebut berupa dampak langsung dan dampak tak langsung.

Meskipun dampak langsungnya diperkirakan relatif kecil bagi kinerja perdagangan Indonesia, pemerintah terus memantau potensi dampak ketegangan Rusia-Ukraina.

Di satu sisi, kenaikan harga komoditas global membawa dampak positif pada ekspor kita khususnya terkait komoditas energi, mineral dan logam dimana Indonesia mengekspor dalam jumlah yang besar sehingga menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.

“Menguatnya ekspor diharapkan terus menopang surplus neraca perdagangan sehingga terus memberikan dampak positif bagi aktivitas sektor riil. Likuiditas yang meningkat yang diperoleh dari aktivitas ekspor akan berdampak positif bagi aktivitas konsumsi dan investasi domestik, sehingga diharapkan dapat menjaga momentum pemulihan ekonomi," tandas Febrio.

Baca juga: Harga Minyak Dunia Melonjak Usai Uni Eropa Ajukan Boikot Impor dari Rusia

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.