Ini Upaya Super Indo jika Harga Daging dan Telur Mahal akibat Larangan Ekspor Gandum India

Kompas.com - 19/05/2022, 13:10 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Pemerintah India resmi mengeluarkan larangan ekspor gandum lantaran terimbas gelombang panas yang membuat produksi gandum di India tersendat.

Para ekonom pun menilai hal ini bisa membuat komoditas pangan, seperti daging, mi, dan telur, mengalami kenaikan harga.

Vice President of Buying & Indirect Procurement Super Indo Donny Ardianta Passa mengatakan, sebagai ritel di Indonesia, pihaknya tetap mengantisipasi bilamana hal itu terjadi.

Oleh sebab itu, pihaknya akan terus menggenjot kerja sama dengan para mitra supplier Super Indo untuk komoditas tersebut.

Baca juga: India Larang Ekspor Gandum, Bagaimana Nasib RI?

"Hal ini memang harus diantisipasi meskipun ini permasalahan global. Salah satunya dengan terus bekerja sama dengan mitra supplier kami dalam mendapatkan suplai," ujarnya saat ditemui Kompas.com pada acara Halalbihalal Super Indo, Rabu (18/5/2022).

"Pemerintah pasti tidak akan tinggal diam lantaran permasalahan pangan ini adalah permasalahan global pasti ada program itu dari pemerintah. Namun, dari sisi perusahaan,- kami tetap mengantisipasinya sehingga suplai dari supplier aman sekalipun demand-nya tinggi," sambungnya.

Sebelumnya diketahui, Direktur Center of Economic and Law Studies Bhima Yudhistira menilai, larangan ekspor gandum akan berdampak pada harga gandum di internasional yang sebelumnya telah naik 58,8 persen dalam setahun terakhir.

Baca juga: India Larang Ekspor Gandum, Ekonom : Bisa Bikin Harga Daging dan Telur Naik

Apalagi, inflasi yang mulai naik juga dikhawatirkan akan menambah garis kemiskinan. Karena itu, imbas inflasi pangan akan menekan daya beli masyarakat.

“Contohnya tepung terigu, mi instan sangat butuh gandum dan Indonesia tidak bisa produksi gandum. Banyak industri makanan dan minuman skala kecil yang harus putar otak untuk bertahan di tengah naiknya biaya produksi,” kata Bhima.

Bhima juga mengatakan, pelarangan ekspor gandum dinilai bisa mengancam pasokan global yang sebelumnya telah turun akibat invasi Rusia.

Hal tersebut tentu akan berimbas pada keberlanjutan usaha yang membutuhkan gandum. Karenanya, pengusaha harus segera mencari sumber alternatif gandum.

Ia menjelaskan, pakan ternak yang sebagian menggunakan campuran gandum juga berpotensi akan menyebabkan harga daging dan telur naik.

Oleh karena itu, Bhima berharap agar pemerintah mempersiapkan strategi untuk mitigasi berlanjutnya ekspor gandum India.

Baca juga: Setelah RI Larang Ekspor CPO, Giliran India Kini Larang Ekspor Gandum

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.