Pasar Modal Tanah Air Masih Menarik Pascapandemi Covid-19, Ini Sebabnya

Kompas.com - 06/06/2022, 12:12 WIB
Penulis Kiki Safitri
|

JAKARTA, KOMPAS.com - Pasar modal di tanah air masih menarik dan menjadi tujuan investasi di masa pemulihan ekonomi pascaCovid-19.

Salah satu hal yang menjadi penopang minat investasi, adalah tingkat inflasi yang tetap terjaga di kisaran 3,5 persen, atau di bawah konsensus yakni 3,6 persen.

Praktisi pasar modal Vicella Tjhin memaparkan faktor tersebut dibandingkan rerata inflasi Indonesia selama 25 tahun terakhir yang sekitar 8,9 persen, persentasenya tergolong kecil.

Baca juga: Gubernur BI Buka Kemungkinan Inflasi Lebihi 4 Persen hingga Akhir 2022

Inflasi terjaga

 

Persentase itu pun masih sesuai dengan apa yang dicanangkan oleh pemerintah maupun Bank Indonesia (BI) yaitu 3 plus minus 1.

“Kalau selama masih dalam range itu seharusnya masih oke. Kalau inflasi masih dalam batas-batas yang bisa diterima oleh pemerintah, oleh seperti yang dicanangkan pemerintah itu harusnya masih bagus untuk pertumbuhan,” kata Vicella dalam siaran pers, Senin (6/6/2022).

Baca juga: IHSG Sepekan Naik 2,9 Persen, Dana Asing Parkir di Pasar Modal Mencapai Rp 1,8 Triliun

Suku bunga tetap 3,5 persen

Kemudian, dengan tingkat inflasi terjaga, BI pun masih menetapkan suku bunga di 3,5 persen.

Bahkan persentase itu sudah bertahan 15 bulan sejak Februari 2021. Persentase suku bunga itu pun menjadi yang terendah.

“Karena pertumbuhan ekonomi kita paling 5 persen – 6 persen. Kalau inflasi di atas itu sudah tidak bagus. Dan rata-rata inflasi ini di dunia 9,2 persen ya sampai bulan April kemarin,” ujarnya.

Baca juga: Biang Kerok Inflasi Mei 2022, BPS: Harga Tiket Pesawat hingga Bawang Merah

Strategi BI naikkan GWM

Di sisi lain, langkah Bank Indonesia menaikkan giro wajib minimum menurutnya sebagai strategi tepat ketika tren inflasi global meningkat.

Hal itu membuat likuiditas di masyarakat tidak berlebihan.

Baca juga: Klaim Ekonomi RI Kalahkan China, Singapura hingga AS, Airlangga: Hanya di Bawah Vietnam...

Rating setingkat di atas investment grade

Faktor berikutnya adalah Indonesia mendapatkan rating satu tingkat di atas investment grade. Hal itu menjadi acuan fund manager asing berinvestasi di Indonesia. Hal itu terlihat dari dana asing yang masuk lagi dalam jumlah besar pasca momentum Lebaran.

BI mencatat dana asing masuk ke pasar keuangan Indonesia mencapai Rp 10,37 triliun pada periode 30 Mei – 2 Juni 2022. Rinciannya, melalui pasar Surat Berharga Negara (SBN) sebesar Rp 5,94 triliun dan pasar saham ada sebanyak Rp 4,43 triliun.

“Untuk tujuan investasi Indonesia masih menarik. Jadi kadar ekonominya masih bagus. Makanya kita lihat dana asing juga mulai masuk lagi walaupun sempat kemarin keluar waktu Lebaran. Tapi sekarang sudah mulai masuk lagi. Karena mereka melihat ada potensi,” jelas dia.

Baca juga: Moodys Pertahankan Rating Utang RI Satu Tingkat di Atas Investment Grade, Prospek Stabil

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.