KOLOM BIZ
Konten ini merupakan kerja sama Kompas.com dengan Experd Consultant
Eileen Rachman dan Emilia Jakob
Character Building Assessment & Training EXPERD

EXPERD (EXecutive PERformance Development) merupakan konsultan pengembangan sumber daya manusia (SDM) terkemuka di Indonesia. EXPERD diperkuat oleh para konsultan dan staf yang sangat berpengalaman dan memiliki komitmen penuh untuk berkontribusi pada perkembangan bisnis melalui layanan sumber daya manusia.

Bahasa Suportif

Kompas.com - 11/06/2022, 12:40 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

SEORANG atasan pernah diberikan sebuah pertanyaan, apakah ia sadar telah melukai hati bawahannya dengan kata-kata yang menunjukkan ketidakpercayaan pada kualitas kerja anak buahnya dan bahkan sampai membuat mereka merasa kecil dan bodoh?

Ternyata si atasan tidak pernah menyadari hal itu. Ia malah menganggap bahwa hal tersebut merupakan cara mendidik anak buah agar “jadi orang”. Ia juga menganggap bahwa kalimat empati kurang business-like dan khawatir ucapannya tidak dianggap oleh anak buahnya.

Akibat perilaku demikian, alih-alih berkembang, anak buah malah semakin menjaga jarak dengan atasannya karena menghindari konfrontasi.

Dua tahun terakhir ini, isu well-being semakin banyak diangkat ke permukaan. Isu ini berkembang seiring peningkatan kesadaran orang tentang kesehatan fisik yang perlu diikuti dengan kesehatan jiwa. Rupanya, kita memang tidak cukup bila hanya fokus pada hal-hal terkait operasional dan sumber daya.

Kelly Greenwood dan Julia Anas dalam artikel berjudul “It’s a New Era for Mental Health at Work” di laman Harvard Business Review, Senin (4/10/2021), menyatakan bahwa semakin kuat hubungan personal di organisasi, maka semakin jarang karyawan izin sakit.

Jadi, agar karyawan lebih produktif dan inovatif, atasan perlu mengubah cara berkomunikasinya. Using emotionally supportive language is an important part of that.

Toxic positivity

Kita percaya bahwa kalimat yang kita gunakan akan memengaruhi cara berpikir dan emosi kita, serta bisa menularkan emosi tersebut ke orang lain. Ada pepatah “mulutmu adalah harimaumu” yang mengajarkan untuk berhati-hati dengan ucapan kita.

Oleh karena itu, kata-kata yang diucapkan jangan sampai membawa hal-hal buruk menjadi kenyataan. Jangan pula sampai menyakiti orang lain. Bahkan, ada orang yang sampai pantang mengucapkan kata bangkrut, rugi, susah, dan kata berkonotasi negatif lain.

Eileen RachmanDok. EXPERD Eileen Rachman

Namun, bila kita meminta orang yang sedang bermasalah untuk tetap berpikiran positif, dampaknya bisa jadi malah membuat mereka semakin merasa terasingkan. Misalnya, memberikan pernyataan- pernyataan seperti “semua hal itu pasti ada hikmahnya” atau “kita positive thinking saja deh, jangan mikir yang enggak-enggak”.

Meski bertujuan menenangkan atau membangkitkan pikiran positif mereka, tanpa kita sadari, hal itu sebenarnya tidak memberikan kelegaan sama sekali kepada teman atau anak buah yang sedang dalam kesusahan. Justru, hal tersebut bisa membuat mereka semakin tertekan karena tidak dapat melepaskan emosi negatifnya.

Menurut psikolog dari University of Washington, Tabitha Kirkland, penyebab toxic positivity adalah kurangnya empati. Individu yang tidak nyaman dengan emosi-emosi negatif dan tidak tahu cara bereaksi dengan tepat cenderung menggunakan pernyataan-pernyataan positif agar emosi negatif yang mereka rasakan segera berganti.

Ada juga individu yang memberikan solusi cepat dengan harapan dapat menyelesaikan masalah teman yang sedang ditimpa kemalangan. Tujuannya memang baik, yaitu ingin memberikan semangat baru atau jalan keluar. Namun, pada implementasinya, hal ini justru dapat membuat orang yang sedang mengalami masalah merasa terabaikan, terasing, dan tidak memiliki orang yang dapat memahaminya.

Kebahagiaan tidak berasal dari penekanan atau pengabaian emosi negatif. Justru, kebahagiaan dapat diraih dengan menerima apa pun emosi yang sedang kita alami secara sadar, baik negatif maupun positif, sebagai bagian dari diri dan dari hidup yang sedang kita jalani.

Kita perlu menyadari bahwa emosi sebenarnya merupakan sumber informasi yang sangat kaya. Rasa takut membuat kita berhati-hati terhadap kemungkinan adanya bahaya. Sementara, perasaan bersemangat dapat mendorong kreativitas dan keterbukaan dalam melihat peluang-peluang baru.

Dengan menerima emosi orang lain dan diri sendiri, kita pun menjadi lebih nyaman dengan diri sendiri serta merasa terbebas dari keharusan membuat orang lain merasa nyaman. Sebagai atasan, kita perlu hati-hati. Jangan sampai kita menciptakan suasana yang membuat anak buah merasa unseen, unheard, atau unsupported.

Kekuatan emotional intelligence

Banyak pemimpin berpikir bahwa tempat bekerja adalah tempat rasio harus berperan secara penuh, tanpa emosi. Mereka tidak percaya bahwa emosi juga sangat berpengaruh dalam pekerjaan. Padahal, bukankah pemecahan masalah, pengambilan keputusan, apalagi membangkitkan semangat pada saat menghadapi kesulitan mengandalkan kekuatan emosi?

Terapis asal Amerika Serikat, Farah Harris, mengatakan bahwa orang yang memiliki kecerdasan emosi tinggi adalah mereka yang nyaman dengan emosinya dan bisa menebarkan aura nyaman sehingga membuat suasana kerja menjadi produktif. Ada beberapa hal yang bisa diingat bila mau menerapkan kehidupan emosional yang sehat di lingkungan kerja.

Pertama, validasikan pengalaman lawan bicara. Tindakan ini merupakan pengakuan terhadap apa yang dirasakan oleh lawan bicara. Hal ini bisa diekspresikan dengan kata-kata “saya mengerti…” atau “saya bisa merasakan apa yang kamu rasakan…”.

Kedua, dalami masalahnya. Bila ingin bersikap suportif, kita perlu belajar mendalami situasi yang dialami lawan bicara. Optimalkan keterampilan mendengar aktif sampai benar-benar tahu dukungan apa yang bisa kita berikan pada mereka.

Ketiga, bimbing fisik dan emosinya. Dalam keadaan kritis, seseorang sering mengalami kebingungan dalam menyelesaikan masalahnya. Kita bisa menawarkan bantuan spesifik yang kita pikir akan berguna baginya atau langsung bertanya, “bagaimana saya dapat membantumu?” Tunjukkan bahwa kedua tangan Anda terbuka untuk apa pun yang ia butuhkan.

Keempat, ajak berbagi perspektif. Mereka yang sedang mengalami kesulitan sering kali memiliki pandangan yang terbatas karena sisi lainnya ditutupi rasa kalut, khawatir, atau takut. Kita bisa membantu mereka melihat hal-hal lain dari permasalahan tersebut yang mungkin dapat memberikan titik terang. Di sisi lain, kita juga harus berhati-hati untuk tidak memaksakan pandangan yang belum tentu cocok bagi mereka.

Kelima, akui dan tunjukkan penghargaan. Untuk datang dan berhadapan dengan pemimpin saja, anggota tim sudah membutuhkan keberanian. Mereka datang karena percaya bahwa pimpinannya akan bertindak adil. Di sinilah, pemimpin harus berterima kasih atas kepercayaan dan menambah sense of safety mereka.

Dengan kita ke babak baru pascapandemi, disrupsi tetap berlanjut. Namun, kita memiliki pilihan apakah akan menjadi pemimpin yang memberi beban kepada anak buah atau justru meringankan hati mereka? Bila hanya dengan memperbaiki cara bicara, kita bisa membuat beban lebih ringan, bahkan suasana kerja lebih segar, mengapa tidak?


Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.