Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
RILIS BIZ

Mengenal Platform Data Radiasi Matahari Karya AESI dan Synkrona

Kompas.com - 17/06/2022, 19:15 WIB
Hotria Mariana,
Sri Noviyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com – Indonesia punya ambisi dalam penerapan energi baru dan terbarukan (EBT). Paling tidak hal ini mesti teraplikasikan hingga 23 persen pada 2025.

Untuk merealisasikan tujuan itu, seluruh pihak perlu bersinergi sesuai kapasitasnya masing-masing, mulai dari pemerintah pusat, pemerintah daerah (pemda), swasta, asosiasi, komunitas, hingga masyarakat.

Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Dadan Kusdiana, mengungkapkan bahwa kapasitas pembangkit listrik tenaga energi baru terbarukan (PLT-EBT) tenaga surya di dunia mencapai 845 gigawatt (GW).

Jumlah itu, lanjut Dadan, setara dengan 28 persen dari kapasitas pembangkit lain. Angka ini juga menjadi target dari capaian penetrasi EBT yang mungkin dilakukan.

“Kami terus bekerja mencari cara terbaik untuk solusi konkret, yaitu menambah kapasitas pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) EBT,” jelasnya dalam keterangan resmi yang diterima Kompas.com, Kamis (16/6/2022).

Menghitung cadangan energi nasional

Guna mendukung upaya Kementerian ESDM, Asosiasi Energi Surya Indonesia (AESI) meluncurkan platform data radiasi matahari. Peluncuran dikemas dalam kajian bertajuk “Hosting Capacity PLTS di Jawa-Madura-Bali”, Kamis.

Sebagai informasi, platform yang turut dikembangkan oleh PT Synkrona Enjiniring Nusantara (Synkrona) itu menyimpan data hasil pengukuran yang dapat diakses publik secara gratis melalui laman www.indonesiasolarmap.com.

Dengan begitu, platform data iradiasi matahari dapat digunakan sebagai basis data energi nasional serta sumber data primer bagi peneliti, universitas, pengembang, atau pegiat tenaga surya.

Dalam kajian tersebut, dijabarkan soal potensi energi surya di Jawa, Madura, dan Bali (Jamali), baik secara teknis maupun peran dalam memasok listrik secara nyata.

Adapun kajian mencakup pengukuran iradiasi (intensitas pencahayaan) matahari secara real time di 54 titik di Jamali sejak 2020. Pengukuran ini merupakan pertama kali di Indonesia sehingga diharapkan hasilnya dapat menjadi basis data energi nasional.

Ketua Umum AESI Fabby Tumiwa mengatakan, penempatan alat ukur tersebut dikarenakan minimnya data pengukuran radiasi matahari secara langsung di Indonesia.

Selama ini, Fabby mengungkapkan, Indonesia menggunakan perangkat lunak yang datanya berasal dari interpolasi stasiun cuaca terdekat. Tingkat akurasi dan ketelitian hasil pun lebih rendah ketimbang pengukuran langsung.

“Kami ingin melihat profil iradiasi matahari di Jamali dan intermittency-nya. Hasil pengukuran juga bisa diakses publik melalui sebuah platform dan dimanfaatkan untuk studi Hosting Capacity,” ucapnya.

Kajian Hosting Capacity yang dilakukan AESI dan Synkrona. Dok. AESI Kajian Hosting Capacity yang dilakukan AESI dan Synkrona.

Fabby menambahkan, penempatan alat ukur di 54 titik itu difasilitasi PT PLN (Persero) dalam bentuk penyediaan lokasi gardu induk.

Oleh karena itu, data platform iradiasi matahari juga bermanfaat bagi PLN dalam memperkuat sistem ketenagalistrikan di Jamali.

Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

 Info Pangan 5 Maret 2024: Harga Beras Premium dan Daging Ayam Naik, Cabai Merah Keriting Turun

Info Pangan 5 Maret 2024: Harga Beras Premium dan Daging Ayam Naik, Cabai Merah Keriting Turun

Whats New
Awal Sesi, IHSG dan Rupiah Masih Lesu

Awal Sesi, IHSG dan Rupiah Masih Lesu

Whats New
Penyaluran Kredit Perbankan Tumbuh 11,83 Persen pada Januari 2024

Penyaluran Kredit Perbankan Tumbuh 11,83 Persen pada Januari 2024

Whats New
Langkah Banding OJK Hadapi Putusan Pembatalan Pencabutan Izin Usaha Kresna Life

Langkah Banding OJK Hadapi Putusan Pembatalan Pencabutan Izin Usaha Kresna Life

Whats New
Rincian Harga Emas Hari Ini di Pegadaian 5 Maret 2024

Rincian Harga Emas Hari Ini di Pegadaian 5 Maret 2024

Spend Smart
Bisakah IHSG Hari Ini Bangkit? Simak Analisis dan Rekomendasi Sahamnya

Bisakah IHSG Hari Ini Bangkit? Simak Analisis dan Rekomendasi Sahamnya

Whats New
Pemerintah Luncurkan Indeks Desa, Untuk Apa?

Pemerintah Luncurkan Indeks Desa, Untuk Apa?

Whats New
Benarkah Petani hingga Buruh Tani Untung Kenaikan Harga Gabah?

Benarkah Petani hingga Buruh Tani Untung Kenaikan Harga Gabah?

Whats New
Reli Wall Street Terhenti, Nasdaq Turun dari Level Tertinggi Sepanjang Masa

Reli Wall Street Terhenti, Nasdaq Turun dari Level Tertinggi Sepanjang Masa

Whats New
Belanja Jadi Tenang dengan Shopee Garansi Tepat Waktu, Jaminan Pesanan Sampai Sesuai Jadwal

Belanja Jadi Tenang dengan Shopee Garansi Tepat Waktu, Jaminan Pesanan Sampai Sesuai Jadwal

Whats New
OJK Cabut Izin Usaha BPR Aceh Utara

OJK Cabut Izin Usaha BPR Aceh Utara

Whats New
JR Connexion Rute PIK 2-Sedayu City Beroperasi, Simak Tarif dan Jam Operasionalnya

JR Connexion Rute PIK 2-Sedayu City Beroperasi, Simak Tarif dan Jam Operasionalnya

Spend Smart
Produsen Sebut Stok Beras di Penggilingan Masih 50 Persen

Produsen Sebut Stok Beras di Penggilingan Masih 50 Persen

Whats New
Cerita Rengkuh Banyu Mahandaru, Bangun Bisnis Kemasan Ramah Lingkungan ‘Plepah’

Cerita Rengkuh Banyu Mahandaru, Bangun Bisnis Kemasan Ramah Lingkungan ‘Plepah’

Smartpreneur
[POPULER MONEY] Kemenaker Gagalkan Keberangkatan 8 TKI Ilegal | Asosiasi Guru Tolak Program Makan Siang Gratis Pakai Dana BOS

[POPULER MONEY] Kemenaker Gagalkan Keberangkatan 8 TKI Ilegal | Asosiasi Guru Tolak Program Makan Siang Gratis Pakai Dana BOS

Whats New
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com