Lewat Usaha Toko Kelontong, Dadan Subandi Bisa Sekolahkan Anaknya hingga ke Perguruan Tinggi

Kompas.com - 22/06/2022, 10:00 WIB
Penulis Kiki Safitri
|

JAKARTA, KOMPAS.com - Dadan Subandi, pria berusia 61 tahun asal Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, bercerita bagaimana bisnis beromzet miliaran miliknya terpaksa gulung tikar di awal tahun 2000-an.

Kala itu, Dadan memiliki pabrik kimia berskala rumahan, namun mengalami kesulitan ekonomi, sehingga ia terpaksa menutup usahanya.

“Omzetnya per bulan mencapai Rp 1,2 miliar, namun mengalami kesulitan ekonomi. Saya bangkrut. Saya memulai semuanya kembali dari nol dengan membuka toko kelontong,” ujar Dadan dalam siaran pers, Selasa (21/6/2022).

Baca juga: Industri Penerbangan Mulai Pulih, Volume Angkutan Kargo di Bandara AP I Melonjak

Namun, kesulitan ekonomi yang ia jalani tak berlangsung lama. Ia terus berpikir memutar otak bagaimana cara untuk kembali membuka usaha dengan modal yang ia miliki saat itu. Ia kemudian mencoba keberuntungan dengan membuka toko kelontong dengan modal 40 juta pada tahun 2003.

Usaha Dadan tak sia-sia, hasil keringatnya berjualan makanan, minuman, hingga keperluan sehari-hari lainnya di toko kelontong membuahkan hasil. Namun saat itu, usaha toko kelontong milik Dadan cenderung masih sangat tradisional, tidak rapi, gelap, dan penuh sesak dengan berbagai produk yang digantung di mana-mana.

Namun, Dadan bertekad agar bisa memenuhi ekspektasi pembeli dengan menhadirkan warung yang bersih, dan nyaman. Akhirnya pada tahun 2009, Dadan bergabung dengan Sampoerna Retail Community (SRC).

SRC merupakan program pembinaan terhadap toko kelontong oleh PT HM Sampoerna Tbk. (Sampoerna).

Baca juga: Selama 2015-2021, Kementerian PUPR Telah Membangun 410 Jembatan Gantung

Di SRC, ia menerima banyak pengetahuan baru, seperti pentingnya penataan toko secara rapi, bersih, dan terang. Konsep ini membuat toko kelontongan tradisional miliknya berubah drastis.

Tak hanya itu, Dadan mendapat bimbingan manajemen hingga pembukuan. Sesekali ia mengikuti aktivitas hingga kompetisi yang digelar SRC, yang memacu semangatnya mengembangkan toko miliknya. Cara SRC ini tanpa disadari membuat omzet anggota komunitas melesat.

“Sebelum gabung, omzet saya Rp 500.000, Rp 800.000, paling besar Rp 1 juta per hari. Begitu gabung mencapai Rp 2 juta-3 juta per hari. Fluktuatif, tapi rata-rata di Rp 2 juta per hari,” kata Dadan.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Produk UMKM Indonesia Sukses Jadi Sorotan Warga Paris Usai Diboyong Shopee ke Le BHV Marais

Produk UMKM Indonesia Sukses Jadi Sorotan Warga Paris Usai Diboyong Shopee ke Le BHV Marais

Whats New
Nasib 6 Juta Pekerja Tembakau, Bertahan dari Isu Kesehatan hingga Lingkungan

Nasib 6 Juta Pekerja Tembakau, Bertahan dari Isu Kesehatan hingga Lingkungan

Whats New
Didominasi Generasi Muda, Investor Pasar Modal Indonesia Mencapai 9 Juta

Didominasi Generasi Muda, Investor Pasar Modal Indonesia Mencapai 9 Juta

Whats New
Pluang: Inklusi Finansial Masih Jauh Tertinggal dari Inklusi Digital

Pluang: Inklusi Finansial Masih Jauh Tertinggal dari Inklusi Digital

Whats New
Pastikan Daging Kerbau Impor Bebas PMK, Bulog Kirim Tim ke India

Pastikan Daging Kerbau Impor Bebas PMK, Bulog Kirim Tim ke India

Whats New
Komisi VI DPR Dukung BNI dan Jamkrindo Fasilitasi Petani Bogor Ekspor Tanaman ke Belanda

Komisi VI DPR Dukung BNI dan Jamkrindo Fasilitasi Petani Bogor Ekspor Tanaman ke Belanda

Whats New
Ini Daftar 12 Outlet Holywings di Jakarta yang Izin Usahanya Dicabut

Ini Daftar 12 Outlet Holywings di Jakarta yang Izin Usahanya Dicabut

Whats New
Garuda Diminta Fokus Layani Penerbangan Domestik, Erick Thohir: Ngapain Kita Bisnis Gaya-gayaan...

Garuda Diminta Fokus Layani Penerbangan Domestik, Erick Thohir: Ngapain Kita Bisnis Gaya-gayaan...

Whats New
Dari Pelonggaran PPKM hingga Peningkatan Permintaan GrabCar, Ekonomi Mulai Pulih?

Dari Pelonggaran PPKM hingga Peningkatan Permintaan GrabCar, Ekonomi Mulai Pulih?

Work Smart
3 Persen Kreditur Garuda Tak Setujui Restrukturisasi, Erick Thohir: Mungkin Akan Tertinggal Pembayarannya

3 Persen Kreditur Garuda Tak Setujui Restrukturisasi, Erick Thohir: Mungkin Akan Tertinggal Pembayarannya

Whats New
Tetap Ingin Berkurban Meski Ada Wabah PMK? Simak Aturannya

Tetap Ingin Berkurban Meski Ada Wabah PMK? Simak Aturannya

Whats New
Menperin Ajak Perusahaan Asal Prefektur Aichi Investasi di Indonesia

Menperin Ajak Perusahaan Asal Prefektur Aichi Investasi di Indonesia

Rilis
Rincian Biaya Admin BRI Tabungan BritAma hingga Simpedes

Rincian Biaya Admin BRI Tabungan BritAma hingga Simpedes

Spend Smart
Perkuat Sistem Perpajakan, Indonesia Dapat Pinjaman Rp 11 Triliun dari Bank Dunia

Perkuat Sistem Perpajakan, Indonesia Dapat Pinjaman Rp 11 Triliun dari Bank Dunia

Whats New
Menang PKPU, Erick Thohir Pastikan Garuda Indonesia Disuntik PMN Rp 7,5 Triliun

Menang PKPU, Erick Thohir Pastikan Garuda Indonesia Disuntik PMN Rp 7,5 Triliun

Whats New
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.