Ronny P Sasmita
Analis Senior Indonesia Strategic and Economic Action Institution

Penikmat kopi yang nyambi jadi Pengamat Ekonomi

Masa Depan Suram Petani Kita

Kompas.com - 28/06/2022, 06:47 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

Dengan kondisi itu, praktis yang tersisa di sektor pertanian adalah mereka yang memang terpaksa menjadi petani karena tidak ada lagi yang bisa dilakukan di luar sektor tersebut. Pertanian menjadi sektor turun-temurun yang dilakukan karena keterpaksaan. Tak heran, komoditas pertanian hasil garapan petani dinilai berkualitas di bawah standar.

Petani sawit misalnya, mereka cenderung mendapat harga jual yang jauh lebih rendah dibanding sawit hasil perkebunan milik korporasi. Sedikit beruntung bagi petani padi, sekalipun masih sering dilanda kejatuhan harga di saat panen.

Sementara untuk petani holtikultura, misalnya, tak sedikit yang mengeluhkan soal kurangnya sentuhan teknologi, kurangnya sumber pembiayaan untuk berproduksi, dan lemahnya institusi sosial pendukung. Dampaknya, kualitas komoditas yang dihasilkan kurang mendapat jaminan mutu dan pemasarannya tak terlembagakan dengan baik.

Cilakanya, penguasaan tengkulak atas harga jauh lebih besar ketimbang penghasil komoditas holtikultura. Tengkulak adalah pihak yang paling banyak mendapat untung dari disparitas harga jual di level petani dan harga jual di level konsumen.

Berkaca pada data BPS sampai Februari 2017, jumlah penduduk yang bekerja di sektor pertanian hanya 39,68 juta orang atau 31,86 persen dari jumlah penduduk bekerja Indonesia. Dari jumlah tersebut ternyata sebagian besar tercatat sudah berusia tua. Bahkan dari data yang ada, tercatat hanya ada 15,38 persen petani yang produktif untuk memenuhi seluruh kebutuhan pangan nasional.

Persoalannya ternyata tak sampai di situ, menurut catatan Kementerian Pertanian (Kementan), terjadi penurunan lahan pertanian 100.000 hektar per tahun, dengan 80 persen terjadi di sentra produksi pangan. Di tengah jumlah petani dan lahan garapan yang menurun, justru kemudian Kementan juga pernah mengklaim jumlah produksi pangan, terutama beras, terus meningkat bahkan surplus.

Terdengar kontradiktif memang, karena tak jarang isu impor juga muncul tanpa rasa bersalah dari para pihak di jajaran pemangku kepentingan. Saat dipertanyakan banyak pihak, ujuk-ujuk kebijakan impor dibatalkan sampai bulan tertentu untuk diaktivasi lagi di saat situasi sudah adem.

Tetapi katakanlah produksi memang meningkat seiring besarnya jumlah subsidi pertanian, intensifikasi, dan industrialisasi pangan. Dengan kata lain, anggap saja Kementan benar bahwa stok sejatinya tak bermasalah, sekalipun ada cerita soal gagal panen di beberapa daerah. Yang menjadi pertanyaan adalah kenapa dengan klaim surplus pangan, justru serapan Bulog tak pernah membaik. Kondisi serapan Bulog ini kemudian dijadikan alasan oleh pihak-pihak tertentu di dalam pemerintahan untuk sesumbar bahwa cadangan pangan nasional kurang memadai, meskipun terjadi surlus hasil panen di level petani.

Yang mengherankan, kapasitas serap Bulog ini sejak bertahun-tahun lalu tak pernah membaik, sehingga sewaktu-waktu akan kembali dijadikan alasan untuk lahirnya kuota impor baru.

Dari paparan data di atas, ada irisan bahwa penuruan dan penuaan pelaku pertanian berbanding lurus dengan pengurangan lahan pertanian, pengeringan sumber daya petani, dan kapasitas serap Bulog yang tak pernah membaik secara signifikan. Sementara kita tidak bisa memungkiri bahwa perut yang harus diberi makan dari waktu ke waktu semakin bertambah, penduduk Indonesia semakin banyak, sementara sektor yang harus memenuhinya justru mengalami pengerdilan akut. Lahan berkurang, SDM pun demikian, dan harga-harga yang didapat oleh pelaku produksi pertanian terus terganggu oleh harga-harga komoditas yang sama yang didapat dari impor.

Baca juga: Indonesia Ekspor 200.000 Ton Beras, Ini Alasan Menko Airlangga

Perlu perhatian

Untuk itu, harus ada yang benar-benar peduli dengan petani dan pertanian. Soal ancaman degenerasi petani, pemerintah perlu mendorong akselerasi inovasi dan transfer teknologi di sektor pertanian dengan memfasilitasi terjadinya sinergi dengan berbagai pihak, seperti kampus, start-up pertanian, lembaga penelitian pertanian, dan otoritas terkait.

Perpaduan kebijakan pengembangan SDM pertanian dan bauran inovasi teknologi pertanian, diyakini selain bisa membuat sektor pertanian menjadi semakin menarik bagi generasi muda, juga bisa meningkatkan kualitas dan produktivitas pertanian, sekaligus bisa memperbesar peluang pasar komoditas pertanian.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Pemerintah Tetapkan Bunga KUR Super Mikro jadi 3 Persen

Pemerintah Tetapkan Bunga KUR Super Mikro jadi 3 Persen

Whats New
Kemenhub Sebut Penetapan Tarif Ojol Akan Dialihkan ke Gubernur

Kemenhub Sebut Penetapan Tarif Ojol Akan Dialihkan ke Gubernur

Whats New
Bos Sampoerna Sebut Perusahaan Besar Perlu Melakukan Inovasi Disruptif

Bos Sampoerna Sebut Perusahaan Besar Perlu Melakukan Inovasi Disruptif

Rilis
Luhut: Jika Kurs Rupiah Tembus Rp 16.000, Bukan karena Ekonomi RI Enggak Bagus

Luhut: Jika Kurs Rupiah Tembus Rp 16.000, Bukan karena Ekonomi RI Enggak Bagus

Whats New
Kalah Gugatan soal Nikel di WTO, Indonesia Akan Terus Jalankan Hilirisasi

Kalah Gugatan soal Nikel di WTO, Indonesia Akan Terus Jalankan Hilirisasi

Whats New
Tekan Emisi Karbon, BCA Tanam 1.000 Bibit Pohon Durian di Gunung Sasak

Tekan Emisi Karbon, BCA Tanam 1.000 Bibit Pohon Durian di Gunung Sasak

Whats New
Maksimalkan Penggunaan Produk Dalam Negeri, Kemenperin Permudah Aturan Verifikasi TKDN

Maksimalkan Penggunaan Produk Dalam Negeri, Kemenperin Permudah Aturan Verifikasi TKDN

Whats New
Petakan Masalah Pangan di RI, BPS Akan Lakukan Sensus Pertanian pada 2023

Petakan Masalah Pangan di RI, BPS Akan Lakukan Sensus Pertanian pada 2023

Whats New
Bersertifikasi TKDN, UMK Diharapkan Tak Lagi Jual Produk Impor

Bersertifikasi TKDN, UMK Diharapkan Tak Lagi Jual Produk Impor

Whats New
Ombudsman RI: Kementan Dinyatakan Lakukan Maladministrasi Terkait Pendataan Kartu Tani untuk Penerima Pupuk Bersubsidi

Ombudsman RI: Kementan Dinyatakan Lakukan Maladministrasi Terkait Pendataan Kartu Tani untuk Penerima Pupuk Bersubsidi

Whats New
Diminta Mundur, Karyawan Jiwasraya Tuntut Hak Dipenuhi

Diminta Mundur, Karyawan Jiwasraya Tuntut Hak Dipenuhi

Whats New
BPJS Orang Kaya Tidak Dibedakan, Begini Penjelasan Menkes

BPJS Orang Kaya Tidak Dibedakan, Begini Penjelasan Menkes

Whats New
PMI Program IJEPA Akan Dapat Pelatihan Bahasa Jepang

PMI Program IJEPA Akan Dapat Pelatihan Bahasa Jepang

Whats New
Ini Kriteria Perusahaan yang Masuk Papan Ekonomi Baru Bursa Efek Indonesia

Ini Kriteria Perusahaan yang Masuk Papan Ekonomi Baru Bursa Efek Indonesia

Whats New
RUU EBT Atur Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir

RUU EBT Atur Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir

Whats New
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.