KOLOM BIZ
Konten ini merupakan kerja sama Kompas.com dengan Experd Consultant
Eileen Rachman dan Emilia Jakob
Character Building Assessment & Training EXPERD

EXPERD (EXecutive PERformance Development) merupakan konsultan pengembangan sumber daya manusia (SDM) terkemuka di Indonesia. EXPERD diperkuat oleh para konsultan dan staf yang sangat berpengalaman dan memiliki komitmen penuh untuk berkontribusi pada perkembangan bisnis melalui layanan sumber daya manusia.

Pendekatan Ergo, Ego, dan Eco

Kompas.com - 02/07/2022, 08:03 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

DARI ungkapan “I hate Monday” sampai ”Thank God it’s Friday”, kita semua menyadari bahwa banyak sekali yang menganggap pekerjaan adalah suatu hal menyiksa.

Bahkan, banyak data menunjukkan, penderita penyakit-penyakit seperti jantung dan kolesterol kini berusia muda. Padahal, dahulu kita pikir penyakit-penyakit tersebut diidap oleh mereka yang berusia lanjut.

Hal itu memunculkan anggapan bahwa tingkat stres dalam bekerja menyumbang pada kenaikan angka tersebut.

Belum lagi, penyakit yang berhubungan dengan mobilitas, seperti sakit punggung, juga mendera mereka yang berusia muda.

Baca juga: Kepemimpinan Inklusif

Hal tersebut dikarenakan mereka terlalu banyak duduk dengan postur yang salah. Penyakit tersebut juga diderita oleh petugas-petugas bandara yang kerap mengangkat barang berat.

Tak hanya itu, sakit punggung umumnya juga terjadi karena gerakan-gerakan berulang. Contohnya sering terjadi pada seorang operator mesin yang tidak pernah dirotasi.

Banyak juga kita kenal orang yang terlalu berfokus pada pekerjaannya dan mengabaikan kesehatannya sendiri. Sementara, perusahaan tidak menaruh peduli ketika sang karyawan tidak lagi dapat bekerja dengan produktif bagi perusahaan.

Apakah dengan demikian, berhenti bekerja menjadi solusinya? Padahal, bisa jadi kita menikmati tantangan yang ada dalam pekerjaan kita.

Baca juga: Menerapkan Mindfulness di Tempat Kerja

Kita pun belum tentu bisa mendapatkan tempat kerja yang lebih baik di tempat lain. Sementara, tuntutan kebutuhan hidup pasti tidak bisa diabaikan.

Di sisi lain, perusahaan pun akan mengalami kerugian bila kehilangan talenta-talenta terbaiknya yang mengundurkan diri karena kondisi kesehatannya yang memburuk.

Di sinilah konsep ergonomi harus menjadi pertimbangan penting di lingkungan kerja. Sayangnya, tidak semua pimpinan perusahaan ataupun karyawan menyadari pentingnya kenyamanan dan keamanan kerja ini.

Ergonomi terkait pada semua aspek dalam pekerjaan yang berhubungan dengan stres yang menekan, baik fisik maupun mental manusia.

Tekanan-tekanan itu bisa berimbas pada persendian, otot, syaraf, tulang, ataupun pendengaran dan kenyamanan kesehatan yang lebih umum.

Baca juga: Bahasa Suportif

Ilmu pengetahuan sudah meyakinkan kita bahwa solusi kreatif datang dari pemikiran yang relaks dan tubuh yang juga tidak tertekan atau kesakitan.

Ahli Zen Natalie Goldberg, mengatakan “Creativity exists in the present moment. You can’t find it anywhere else”.

Bukankah kita juga menyadari bahwa ide-ide cemerlang sering muncul pada saat berenang, bersepeda, ataupun ketika mandi di bawah pancuran air? Jadi, bila pikiran dibiarkan bebas, kita seolah bisa menemukan bola lampu lain.

Pelawak Fannie Flagg mengatakan: “If you cage a wild thing, you can be sure it will die, but if you let it run free, nine times out of ten it will run back home”.

Baca juga: Tebar Pengaruh

Penelitian neuroscience mengatakan bahwa cairan kreatif mengalir bila pikiran dan tubuh santai, terbuka, dan jernih. Kondisi ini bisa kita dapatkan juga dengan cara-cara sederhana untuk microbreak, seperti mengatur ulang perabot, jalan di sekitar halaman, atau mengobrol santai dengan orang lain yang dapat membuat pikiran menjadi lebih jernih.

Ergo, ego, dan eco

Sudah bukan zamannya, pemberi kerja merasa lebih berkuasa terhadap para karyawannya ataupun perusahaan yang mementingkan keuntungan di atas kepentingan manusia yang bekerja padanya.

Eileen RachmanDok. EXPERD Eileen Rachman
Perusahaan semacam itu tidak akan bertahan lama, apalagi dengan masuknya pekerja milenial yang mempunyai idealisme berbeda.

Dengan banyaknya pilihan cara kerja, tempat kerja, dan pasar kerja, kita memang perlu berpikir keras tentang wadah seperti apa yang hendak kita sediakan bagi para karyawan bila ingin membangun hubungan harmonis di antara karyawan.

Baca juga: Kontrol Kinerja

Seperti apa lingkungan yang ergonomis itu?

Kondisi pandemi yang kita alami kemarin telah membuka mata bahwa bentuk kantor tidak harus berupa kubikel-kubikel berisi orang yang sibuk menghadap komputernya masing-masing.

Bekerja bisa dari mana dan kapan saja. Hal ini membuat banyak individu sadar bahwa bekerja tidak berarti menghilangkan unsur kemanusiaan yang kita miliki.

They want to be embraced in their entire humanity. Tantangan kantor saat ini adalah menyediakan ruang, wadah tempat “ego” bisa bekerja secara utuh.

Baca juga: Batu Sandungan Pengembangan Pribadi

Kita sudah tidak berbicara tentang ruangan yang dihiasi tanaman dengan lukisan cantik, tetapi suatu kesempatan bekerja yang lebih memperhatikan kesehatan jiwa dan raga pekerja.

Seperti apa pendekatan human-centered itu?

Banyak benturan yang terjadi tidak selalu antara manajemen dengan pekerja, tetapi bisa saja antara sesama karyawan. Ada politik kantor, perlombaan mencari muka atasan, dan upaya karyawan untuk menghindari risiko.

Pernah lihat juga kan bahwa diskusi-diskusi tentang pekerjaan bisa saja berubah menjadi penyebaran gosip yang tidak bermutu?

Penelitian meyakinkan kita bahwa emosi adalah unsur paling penting dalam nilai-nilai yang dijunjung tinggi seseorang.

Bila kita merasa dihargai, rasa aman akan meningkat, dan semakin berkurang keinginan untuk mengutamakan hal-hal yang berfokus pada ego masing-masing. Karenanya, self interest akan berkurang.

Baca juga: Organisasi yang People-centric

Dengan meningkatnya kebutuhan kita akan individu yang berpikir kritis, taktis, dan inovatif, maka perhatian ke setiap ego harus menjadi prioritas. Semakin ego tercukupi, maka dia semakin kreatif dan inovatif.

Seperti apa pendekatan ekonomis itu?

Siapa yang menyangkal bahwa produktivitas adalah hal terpenting dalam kinerja perusahaan?
Bila disuruh memilih mana yang lebih penting antara produktivitas atau kesejahteraan manusia, banyak orang, terutama manajemen, akan memilih produktivitas.

Akan tetapi, apakah produktivitas bisa tercapai melalui cara yang sama seperti ketika teknologi baru mulai dikenal beberapa dekade lalu?

Baca juga: Kelak-kelok Karier

Paradigma kerja baru sebagai respons terhadap krisis dan disrupsi menuntut perubahan, baik pada model mental maupun sistem-sistem yang sudah usang.

Manusia tidak lagi tergantung sistem, kaku terhadap jalannya prosedur, tidak bersikap kritis terhadap situasi kerja. Bila sikap ini dipelihara, produktivitas pasti terganggu.

Keluasan dan kedalaman transformasi yang kita lakukan bukan sekadar menentukan bekerja dari rumah (WFH) atau hybrid, tetapi kepada perilaku yang lebih altruis, yakni berpikir ke depan agar dapat mencapai aspirasi baru yang lebih maju.

Sikap ‘design thinking’ harus tertanam menyeluruh dalam benak setiap karyawan.
Dengan begitu, keuntungan baru dapat tercapai ketika organisasi mengintegrasikan antara produktivitas dengan kemanusiaan.

 


Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,44 Persen, Sri Mulyani: RI Terbukti Tangguh Hadapi Gejolak Global

Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,44 Persen, Sri Mulyani: RI Terbukti Tangguh Hadapi Gejolak Global

Whats New
Bitcoin Dekati Rp 350 Juta Per Keping, Cek Harga Kripto Hari Ini

Bitcoin Dekati Rp 350 Juta Per Keping, Cek Harga Kripto Hari Ini

Spend Smart
1 Tahun Alih Kelola Blok Rokan, Pertamina Kembangkan 376 Sumur Baru hingga Genjot Produksi Minyak Jadi 161.000 Bph

1 Tahun Alih Kelola Blok Rokan, Pertamina Kembangkan 376 Sumur Baru hingga Genjot Produksi Minyak Jadi 161.000 Bph

Whats New
Erick Thohir: Program BUMN Jadi Penggerak Ekonomi Desa

Erick Thohir: Program BUMN Jadi Penggerak Ekonomi Desa

Whats New
PLN Kirim Surat kepada 20 Perusahaan terkait Sertifikat EBT

PLN Kirim Surat kepada 20 Perusahaan terkait Sertifikat EBT

Whats New
Lelang Rumah Murah di Bekasi, Harga Limit Mulai Rp 99 Juta

Lelang Rumah Murah di Bekasi, Harga Limit Mulai Rp 99 Juta

Spend Smart
Sido Muncul Ajak Penderita Bibir Sumbing Tersenyum Kembali

Sido Muncul Ajak Penderita Bibir Sumbing Tersenyum Kembali

BrandzView
Awali Pekan, IHSG Bergerak Fluktuatif

Awali Pekan, IHSG Bergerak Fluktuatif

Whats New
Harga Emas Antam Kembali Turun, Simak Daftar Lengkapnya

Harga Emas Antam Kembali Turun, Simak Daftar Lengkapnya

Whats New
Jokowi Sebut Ekonomi Global Tahun Depan Akan Gelap, Benarkah Demikian?

Jokowi Sebut Ekonomi Global Tahun Depan Akan Gelap, Benarkah Demikian?

Whats New
Imbauan Kemenhub soal Harga Tiket Pesawat, Garuda Indonesia: Ini Jadi Pengingat

Imbauan Kemenhub soal Harga Tiket Pesawat, Garuda Indonesia: Ini Jadi Pengingat

Whats New
Hati-hati, Ada Pekerjaan Rekonstruksi Perkerasan di Ruas Tol Jakarta-Tangerang

Hati-hati, Ada Pekerjaan Rekonstruksi Perkerasan di Ruas Tol Jakarta-Tangerang

Whats New
Lowongan Kerja Honda Prospect Motor  untuk D3 hingga S1, Ini Posisi dan Syaratnya

Lowongan Kerja Honda Prospect Motor untuk D3 hingga S1, Ini Posisi dan Syaratnya

Work Smart
Dugaan Penggelapan Premi Wanaartha Life,  Bagaimana Nasib Cicilan Nasabah? Ini Kata Manajemen

Dugaan Penggelapan Premi Wanaartha Life, Bagaimana Nasib Cicilan Nasabah? Ini Kata Manajemen

Whats New
Mampukah IHSG Lanjutkan Tren Penguatan?

Mampukah IHSG Lanjutkan Tren Penguatan?

Whats New
komentar di artikel lainnya
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.