Ini Alasan BI Belum Naikkan Suku Bunga meski The Fed Sudah Naikkan Dua Kali

Kompas.com - 16/07/2022, 12:02 WIB

BADUNG, KOMPAS.com - Saat ini perekonomian dunia bergejolak dan inflasi meningkat, bank sentral beberapa negara telah mengambil langkah menaikkan suku bunga acuannya.

Namun, Bank Indonesia (BI) masih tetap mepertahankan suku bunga acuannya di Juni lalu di level 3,5 persen sedangkan Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) telah menaikkan suku bunga dua kali di 2022.

Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI, Sahminan mengatakan, setiap negara memiliki arah kebijakan moneter yang berbeda.

Baca juga: Inflasi AS Melonjak 9,1 Persen Bisa Berdampak ke Indonesia, Sinyal BI Naikkan Suku Bunga

Sebab, setiap negara memiliki kecepatan pemulihan ekonomi yang tidak sama. Misalnya, kecepatan pemulihan negara berkembang tidak secepat negara maju.

Kendati demikian, dia memastikan, bauran kebijakan yang diambil tiap negara telah dipertimbangkan dan ditakar sesuai dengan tantangan yang dihadapi negara tersebut.

"Kecepatan pemulihan ekonomi domestik suatu negara tidak sama antara negara maju dan berkembang sehingga kebijakan yang diambil tidak bisa one size all atau serupa," ucapnya dalam Taklimat Media: Policy Mix, Jumat (15/7/2022).

Dia menjelaskan, BI harus melakukan komunikasi, perencanaan, dan kalibrasi yang baik dalam menentukan normalisasi kebijakan. Hal ini agar kebijakan yang diambil tidak menimbulkan risiko terhadap pemulihan ekonomi negara berkembang.

Baca juga: Mengapa Kenaikan Suku Bunga The Fed Berdampak ke Pergerakan Pasar Modal Indonesia?

Oleh karenanya, BI perlu berkoordinasi dengan Kementerian Keuangan dari sisi fiskal dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dari sisi makroprudensial.

"Ini semua didasarkan pada asesmen dan takaran yang diukur, bahkan inflasi AS 9,1 persen itu juga kita masukkan dalam asesmen kita. Inilah yang nanti akan diformulasikan dalam suatu bauran yang pada akhirnya diputuskan di dalam Rapat Dewan Gubernur," jelasnya.

Dia menyebut, untuk saat ini bauran kebijakan BI terbagi menjadi kebijakan moneter ditujukan untuk stabilisasi sedangkan kebijakan makroprudensial, sistem pembayaran, pendalaman pasar keuangan, dan UMKM untuk mendorong pemulihan pertumbuhan ekonomi.

"BI mempunyai berbagai instrumen di dalam bauran kebijakan BI di tahun ini," kata Sahminan.

Baca juga: Sri Mulyani: Negara Berkembang Perlu Waspadai Kenaikan Suku Bunga Global

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan Video Lainnya >

Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.