Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 19/07/2022, 16:34 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Kementerian Koperasi dan UKM (Kemenkop-UKM) meminta nelayan tradisional segera berkoperasi agar bisa naik kelas atau meningkatkan kesejahteraannya. 

Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Menkop-UKM) Teten Masduki mengatakan sektor kelautan merupakan salah satu penyumbang jumlah UMKM yang paling banyak di Indonesia.

"Namun, kenapa nelayan masih miskin? pasti ada kesalahan. Saya ditugaskan Presiden Jokowi untuk mendorong UMKM naik kelas, salah satu UMKM yang paling banyak itu sektor kelautan ini," kata dia dalam Musyawarah Nasional IV Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia Tahun 2022 (MUNAS IV KNTI 2022) di Jakarta, Selasa (19/7/2022).

Baca juga: KKP: Penangkapan Ikan Berbasis Kuota Akan Sejahterakan Nelayan Tradisional

Menkop-UKM menambahkan, upaya membuat UMKM naik kelas tidak dapat dijalankan satu per satu. Pihaknya ingin dalam upaya untuk naik kelas, nelayan tidak lagi melangkah sendiri-sendiri, tetapi dapat bergabung dengan koperasi sehingga skala ekonomi nelayan berada dalam satu koperasi.

Teten menceritakan, di negara lain koperasi memegang peran penting dalam pengembangan bisnis dari berbagai sektor usaha.

"Penghasil susu terbesar di dunia itu dari New Zaeland, Fonterra, itu koperasi. Peternak mengembangkan ternah supaya produktif susunya. Lalu koperasi yang membeli tunai, koperasi punya alat dan pabrik untuk mengolah susu jadi banyak produk. Koperasi yang menjual itu ke pasar," urai dia.

"Dengan begitu, peternak tidak perlu pusing menjual susu itu ke mana. Seperti itu yang kita ingin bangun," imbuh dia.

Teten menambahkan, koperasi adalah bentuk yang paling cocok untuk mengkonsolidasi usaha-usaha kecil perorangan untuk menjadi berlembaga.

Sebelumnya, Ketua Dewan Pembina KNTI Riza Damanik mengatakan, dari sekitar 40 daerah anggota KNTI, sebanyak 15 anggota sudah memiliki koperasi.

Baca juga: Menkop-UKM: Koperasi Harus Diminati Anak Muda

Lebih lanjut mantan kepala staf kepresidenan itu menjelaskan, berdasarkan Undang-undang Cipta Kerja tempat pelelangan ikan saat ini sudah boleh dikelola oleh koperasi lagi.

"Ada apa di baliknya? Saya menangkap masalah ternyata para nelayan selalu dicurangi oleh tempat pelelangan. Oleh karena itu, sekarang nelayan yang melaut berkoperasi, Tempat Pelelangan Ikan (TPI) dikelola koperasi ini kan satu organisasi. Kalau masih curang sih keterlaluan," ucap dia.

Ia mengungkapkan, saat ini pihaknya telah melakukan uji coba dengan Koperasi Mino Saroyo di Cilacap, Jawa Tengah.

"Supaya nanti antara nelayan yang melaut dan TPI-nya satu koperasi. Mudah-mudahan nanti dari situ bisa direplikasi," tandas dia.

Baca juga: KKP: Kuota Penangkapan Ikan untuk Nelayan Lokal Jadi Prioritas Pemerintah

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Video rekomendasi
Video lainnya


Rekomendasi untuk anda
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Ekonomi Jawa Tengah Diprediksi Tumbuh 5,3 Persen, Didorong Investasi dan Konsumsi

Ekonomi Jawa Tengah Diprediksi Tumbuh 5,3 Persen, Didorong Investasi dan Konsumsi

Whats New
Saham Sektor Teknologi Catatkan Kenaikan Paling Tinggi Awal 2023, Ini Katalisnya

Saham Sektor Teknologi Catatkan Kenaikan Paling Tinggi Awal 2023, Ini Katalisnya

Whats New
Soal Jalan Berbayar, Bos Bluebird: Kalau Bisa Taksi Digratiskan

Soal Jalan Berbayar, Bos Bluebird: Kalau Bisa Taksi Digratiskan

Whats New
8 Penyakit Kritis yang Biaya Rawat Inapnya Ditanggung Asuransi

8 Penyakit Kritis yang Biaya Rawat Inapnya Ditanggung Asuransi

Whats New
Airlangga Sebut RI Tak Akan Setop Ekspor Sawit ke Eropa

Airlangga Sebut RI Tak Akan Setop Ekspor Sawit ke Eropa

Whats New
Kurangi Konsumsi Listrik, Perusahaan Wajib Bangun Infrastruktur Green Data Center

Kurangi Konsumsi Listrik, Perusahaan Wajib Bangun Infrastruktur Green Data Center

Rilis
Strategi Anak Usaha ABM Investama Perkuat Ekosistem Logistik Nasional

Strategi Anak Usaha ABM Investama Perkuat Ekosistem Logistik Nasional

Rilis
Larang Minyakita Dijual Online, Kemendag Turunkan 6.678 Tautan Toko 'Online'

Larang Minyakita Dijual Online, Kemendag Turunkan 6.678 Tautan Toko "Online"

Whats New
Program Kartu Prakerja Gelombang 48 Belum Dimulai, PMO: Baru Sekadar Daftar Akun

Program Kartu Prakerja Gelombang 48 Belum Dimulai, PMO: Baru Sekadar Daftar Akun

Whats New
Januari 2023, Penjualan Eceran Diprediksi Tumbuh 1,7 Persen secara Tahunan

Januari 2023, Penjualan Eceran Diprediksi Tumbuh 1,7 Persen secara Tahunan

Whats New
Dukung Promosi UMKM, GoSend Sediakan Wadah Komunitas Best Seller GoSend

Dukung Promosi UMKM, GoSend Sediakan Wadah Komunitas Best Seller GoSend

Whats New
Pesawat Susi Air Dibakar di Nduga, INACA Minta Keamanan Penerbangan Ditingkatkan

Pesawat Susi Air Dibakar di Nduga, INACA Minta Keamanan Penerbangan Ditingkatkan

Whats New
Kartu Prakerja Diperkenalkan Lagi di Forum PBB, Disebut Berdampak Positif untuk Kesejahteraan

Kartu Prakerja Diperkenalkan Lagi di Forum PBB, Disebut Berdampak Positif untuk Kesejahteraan

Whats New
Kementan Fokus Tuntaskan Arahan Presiden Tanam 1 Juta Batang Kelapa Sesuai Target

Kementan Fokus Tuntaskan Arahan Presiden Tanam 1 Juta Batang Kelapa Sesuai Target

Smartpreneur
Indonesia dan Malaysia Sepakat Lawan Diskriminasi Sawit oleh Uni Eropa

Indonesia dan Malaysia Sepakat Lawan Diskriminasi Sawit oleh Uni Eropa

Whats New
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+