Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Khrushchyovka, Cara Uni Soviet Sediakan Rumah Murah bagi Warganya

Kompas.com - Diperbarui 20/07/2022, 22:33 WIB
Muhammad Idris

Penulis

KOMPAS.com - Tren kenaikan suku bunga acuan secara global sebagai imbas lonjakan inflasi akan berdampak terhadap masyarakat Indonesia. Khususnya bagi masyarakat yang ingin memiliki rumah.

Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan, inflasi tinggi akan mendorong kenaikan suku bunga acuan. Hal ini akan diikuti oleh semakin tingginya bunga perbankan. Sehingga masyarakat harus menguras kantong lebih dalam untuk mendapatkan rumah.

Belum lagi, kenaikan harga rumah dan tanah yang semakin liar bisa membuat generasi muda semakin sulit punya rumah sendiri. Belum lagi, harga bahan bangunan juga semakin mahal.

Cara Uni Soviet sediakan rumah murah

Sejatinya, masalah harga hunian yang mahal terjadi hampir seluruh negara di dunia. Namun, setiap pemerintah di tiap negara memiliki caranya masing-masing dalam penyelesaikan kebutuhan papan bagi warga negaranya.

Baca juga: Sisi Kelam Ukraina: Bisnis Surogasi Rahim atau Pabrik Bayi

Negara berhaluan sosialisme komunisme, Uni Soviet, jadi salah satu pemerintahan yang bisa dibilang cukup sukses menyediakan hunian murah bagi semua rakyatnya.

Uni Soviet sejak lama mengandalkan hunian bernama Khrushchyovka untuk mengatasi masalah tempat tinggal. Meski kerap jadi olok-olok Barat, Khrushchyovka terbukti menjadikan Uni Soviet nyaris tanpa gelandangan, masalah demografi yang justru lazim terjadi di negara-negara Barat.

Pembangunan Khrushchyovka sendiri saat ini masih terus dilanjutkan oleh beberapa negara eks Soviet, Rusia salah satunya. Meski di Rusia sendiri, banyak Khrushchyovka lama dihancurkan dan penghuninya di relokasi ke tempat baru.

Lalu apa sebenarnya makna Khrushchyovka?

Khrushchyovka adalah bangunan-bangunan yang dibangun sejak era Soviet sebagai hunian dengan ciri khas bertingkat yang memenuhi pinggiran kota, bentuk gaya bangunan seragam dan monoton, tembok tebal, dan terlihat identik.

Pekerja darurat Ukraina bekerja untuk menarik orang keluar dari puing-puing setelah serangan roket Rusia menabrak gedung apartemen, di Chasiv Yar, wilayah Donetsk, Ukraina timur, Senin, 11 Juli 2022.AP PHOTO/NARIMAN EL MOFTY Pekerja darurat Ukraina bekerja untuk menarik orang keluar dari puing-puing setelah serangan roket Rusia menabrak gedung apartemen, di Chasiv Yar, wilayah Donetsk, Ukraina timur, Senin, 11 Juli 2022.

Baca juga: Sebagai Negara Maju, Kenapa AS Enggan Mengembangkan Kereta Cepat?

Di semua kota di Rusia dan negara pecahan Soviet lainnya, Khrushchyovka sangat mudah ditemui. Di Indonesia, konsep Khrushchyovka sebenarnya hampir mendekati rumah susun (rusun) yang dikelola pemerintah.

Khrushchyovka sejatinya bukan penemuan Soviet. Bangunan model semacam itu telah lebih dahulu digunakan di Jerman, Belanda, dan Prancis sebelum Perang Dunia II. Namun, Sovietlah yang menyempurnakan model rumah susun berkonsep Khrushchyovka. 

Dikutip dari RBTH, kantor berita yang masih terafiliasi dengan pemerintah Rusia, Khrushchyovka mulai dibangun di Uni Soviet pada tahun 1940-an atau di era kamerad Josef Stalin.

Namun pembangunannya secara massal, baru dilakukan di era pemimpin Soviet kala itu, Nikita Khrushchev. itu sebabnya, blok apartemen sederhana itu kemudian dinamakan Khrushchyovka.

Baca juga: 22 Tahun Pisah dari RI, Mengapa Timor Leste Setia Gunakan Dollar AS?

Konsep Khrushchyovka

Khrushchyovka pada dasarnya adalah bangunan tempat tinggal rakyat yang dirancang untuk dibangun secara massal, dalam waktu singkat, dan dengan biaya minimal.

Sebagian besar bangunan Khrushchyovka memiliki lima lantai, yang secara kebetulan adalah jumlah lantai maksimum yang diizinkan oleh peraturan bangunan era Soviet untuk bangunan tanpa lift.

Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

[POPULER MONEY] Kartu Prakerja Gelombang 66 Dibuka | Luhut dan Menlu China Bahas Kelanjutan Kereta Cepat Sambil Makan Durian

[POPULER MONEY] Kartu Prakerja Gelombang 66 Dibuka | Luhut dan Menlu China Bahas Kelanjutan Kereta Cepat Sambil Makan Durian

Whats New
Ada Konflik di Timur Tengah, RI Cari Alternatif Impor Migas dari Afrika dan Amerika

Ada Konflik di Timur Tengah, RI Cari Alternatif Impor Migas dari Afrika dan Amerika

Whats New
Langkah PAI Jawab Kebutuhan Profesi Aktuaris di Industri Keuangan RI

Langkah PAI Jawab Kebutuhan Profesi Aktuaris di Industri Keuangan RI

Whats New
Akar Masalah BUMN Indofarma Belum Bayar Gaji Karyawan

Akar Masalah BUMN Indofarma Belum Bayar Gaji Karyawan

Whats New
Nestapa BUMN Indofarma, Sudah Disuntik APBN, tapi Rugi Terus

Nestapa BUMN Indofarma, Sudah Disuntik APBN, tapi Rugi Terus

Whats New
Tol Japek II Selatan Diyakini Jadi Solusi Kemacetan di KM 66

Tol Japek II Selatan Diyakini Jadi Solusi Kemacetan di KM 66

Whats New
Punya Gaji Tinggi, Simak Tugas Aktuaris di Industri Keuangan

Punya Gaji Tinggi, Simak Tugas Aktuaris di Industri Keuangan

Whats New
Nasib BUMN Indofarma: Rugi Terus hingga Belum Bayar Gaji Karyawan

Nasib BUMN Indofarma: Rugi Terus hingga Belum Bayar Gaji Karyawan

Whats New
Pembatasan Pembelian Pertalite dan Elpiji 3 Kg Berpotensi Berlaku Juni 2024

Pembatasan Pembelian Pertalite dan Elpiji 3 Kg Berpotensi Berlaku Juni 2024

Whats New
OJK Sebut 12 Perusahaan Asuransi Belum Punya Aktuaris

OJK Sebut 12 Perusahaan Asuransi Belum Punya Aktuaris

Whats New
OJK Cabut Izin Usaha BPR Syariah Saka Dana Mulia di Kudus

OJK Cabut Izin Usaha BPR Syariah Saka Dana Mulia di Kudus

Whats New
Ada Indikasi TPPU lewat Kripto, Indodax Perketat Pengecekan Deposit

Ada Indikasi TPPU lewat Kripto, Indodax Perketat Pengecekan Deposit

Whats New
Produk Petrokimia Gresik Sponsori Tim Bola Voli Proliga 2024

Produk Petrokimia Gresik Sponsori Tim Bola Voli Proliga 2024

Whats New
OJK Sebut Perbankan Mampu Antisipasi Risiko Pelemahan Rupiah

OJK Sebut Perbankan Mampu Antisipasi Risiko Pelemahan Rupiah

Whats New
Bertemu Tony Blair, Menko Airlangga Bahas Inklusivitas Keuangan hingga Stabilitas Geopolitik

Bertemu Tony Blair, Menko Airlangga Bahas Inklusivitas Keuangan hingga Stabilitas Geopolitik

Whats New
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com