Waspadai Kenaikan Harga Gandum, Badan Pangan Nasional Dorong Penganekaragaman Pangan

Kompas.com - 20/07/2022, 15:05 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com – Mengantisipasi potensi kenaikan harga gandum dunia yang dapat berpengaruh pada kenaikan harga pangan dalam negeri seperti roti dan mie, Badan Pangan Nasional/NFA (National Food Agency) melakukan upaya mitigasi salah satunya dengan mendorong penganekaragaman konsumsi pangan.

Kepala NFA Arief Prasetyo Adi mengatakan, kenaikan harga gandum yang dapat mengakibatkan naiknya harga mie dan roti di dalam negeri merupakan alarm peringatan untuk memperkuat kembali komitmen penganekaragaman konsumsi pangan dengan memanfaatkan bahan pangan lokal.

Dia menuturkan, saat ini sumber pangan lokal sudah tersedia dimana-mana bahkan aneka olahan pangan sudah banyak dijual baik melalui onsite maupun online.

Baca juga: IDEAS: Banjir Impor Pangan Adalah Ironi Besar Bagi Negeri Agraris Seperti Indonesia

"Kita perlu mendorong masyarakat untuk mengonsumsi olahan pangan lokal tersebut. Sangat disayangkan apabila produk pangan lokal tidak terserap, sudah diolah dan tersedia tapi belum dimanfaatkan secara optimal. Aneka pangan lokal baik juga bagi kesehatan, karena minim gluten," ujarnya dalam siaran resminya, Rabu (20/7/2022).

Untuk percepatan penyerapan, menurutnya, diperlukan penguatan sektor hilir agar berbagai produk pangan lokal alternatif tersebut mampu diserap secara optimal dan memberikan kebermanfaatan ekonomi bagi para penggeraknya.

“Dukungan pola konsumsi dan bisnis sangat diperlukan, melalui saluran distribusi dan fasilitasi bagi pengembangan produk pangan baru. Untuk itu, NFA mendorong pelaku usaha baik BUMN Perum Bulog dan Holding Pangan ID FOOD, serta sektor swasta melakukan sinergi peningkatan pendistribusian dan penjualan produk pangan lokal alternatif,” ungkapnya.

Baca juga: Ramalan Sri Mulyani: Harga Pangan Global Naik 20 Persen di Akhir 2022

Arief juga mengatakan, substitusi seperti inilah yang perlu terus dilakukan, sehingga bukan hanya menjaga ketersediaan bahan pangan, melainkan juga menghemat devisa negara.

"Jika kita bisa melakukan substitusi pangan yang berbahan baku gandum seperti terigu menjadi tepung beras dan singkong sebanyak 10 persen saja, itu telah sama dengan saving Rp 2,4 triliun per tahun," kata Arief.

Selain itu, dengan adanya substitusi tersebut, perekonomian domestik juga akan terus bergerak sehingga industri pengolahan pangan lokal bisa terus berkembang.

Lebih lanjut, Arief menegaskan, salah satu konsen NFA adalah meningkatkan keterjangkauan pangan bagi seluruh masyarakat melalui stabilisasi pasokan dan harga pangan serta keanekaragaman konsumsi pangan.

“Upaya peningkatan keanekaragaman pangan tersebut dijalankan melalui Kedeputian Bidang Penganekaragaman Konsumsi dan Tanaman Pangan Badan Pangan Nasional. Kita dorong konsumsi pangan yang memenuhi standar beragam, bergizi seimbang dan aman," ujar Arief.

Baca juga: Dunia Hadapi Krisis Pangan, Menkeu AS Sarankan 3 Hal Ini

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.