Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Untar untuk Indonesia
Akademisi

Platform akademisi Universitas Tarumanagara guna menyebarluaskan atau diseminasi hasil riset terkini kepada khalayak luas untuk membangun Indonesia yang lebih baik.

Peran Model Panutan Membangun Intensi Berwirausaha Kaum Muda

Kompas.com - 28/07/2022, 06:36 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

Oleh: Frangky Selamat, Lydiawati Soelaiman Ida Puspitowati*

Kemendikbudristek telah meluncurkan Program Wirausaha Merdeka yang memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk belajar menjadi wirausaha di sejumlah perguruan tinggi.

Program ini menegaskan kembali bahwa kewirausahaan dapat diajarkan dan wirausaha dapat diciptakan melalui serangkaian proses pembelajaran yang runtut dan sistematis.

Walau tantangannya tidak mudah, pendidikan kewirausahaan membuka kesempatan yang lebih luas kepada seluruh mahasiswa tanpa memandang asal program studi untuk menjadi wirausaha yang sesungguhnya.

Wirausaha sejati adalah mereka yang menciptakan bisnis dengan penawaran yang baru (inovatif) dan bernilai tambah, tidak hanya bagi konsumen tetapi juga bagi masyarakat.

Dalam lingkup lebih luas, wirausaha ini memberikan kontribusi pada pendapatan negara dan berperan meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional.

Wirausaha seharusnya tidak sama dengan sekadar pemilik usaha, karena sesuai nama mereka adalah pahlawan (wira) usaha.

Maka, proses melahirkan wirausaha bukan hanya sekadar mengajarkan konsep bisnis belaka atau proses membuka usaha. Penanaman pola pikir (mindset) menjadi hal utama.

Intensi berwirausaha

Satu sasaran awal paling penting dalam proses pembelajaran kewirausahaan adalah membangun intensi berwirausaha. Intensi yang terbangun menciptakan dorongan untuk berperilaku selayaknya wirausaha.

Studi dari Galloway dan Brown (2002) mengindikasikan bahwa mayoritas lulusan biasanya merencanakan untuk memulai bisnis setelah lima hingga sepuluh tahun pengalaman kerja.

Selama periode itu sikap dan intensi berwirausaha sangat mungkin berubah. Studi tersebut dibenarkan oleh Audet (2004) yang mengukur stabilitas persepsi dan mempertanyakan intensi tersebut.

Lunturnya intensi berwirausaha mendorong perlunya pendekatan alternatif dengan memanfaatkan role model (model panutan) yang biasa digunakan untuk menjelaskan perilaku berwirausaha.

Model panutan merupakan penerapan teori kognitif sosial yang berfokus pada apa dan bagaimana seseorang belajar dari yang lain melalui model praktik yang baik (Ormrod, 1999).

Teori pembelajaran sosial berguna untuk menjelaskan bagaimana model panutan beroperasi (Bandura, 1977).

Teori ini juga digunakan untuk menjelaskan bagaimana model panutan dapat memengaruhi individu lain untuk bertindak, mengimitasi, berpikir, dan mengadopsi karakteristik pribadi, perilaku, gaya dan atribut (Adesola, Outer, Mueller, 2019).

Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com