Kompas.com - 01/08/2022, 11:30 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Amerika Serikat (AS) secara teknis masuk ke dalam jurang resesi setelah mengalami pertumbuhan ekonomi yang minus selama dua kuartal berturut-turut.

Berdasarkan laporan Biro Riset Ekonomi AS (NBER), pertumbuhan ekonomi AS tercatat minus 0,9 persen pada kuartal II-2022. Laju ekonomi itu melanjutkan kontraksi pada kuartal I-2022 yang tercatat minus 1,6 persen.

Meski demikian masuknya AS ke dalam resesi menjadi perdebatan. Para pejabat negara tersebut membantah bahwa AS masuk ke dalam resesi. Menteri Keuangan AS Jannet Yellen bersikeras ekonomi AS berada dalam keadaan transisi, bukan resesi.

Baca juga: Sri Mulyani: Secara Teknis AS Masuk Resesi

Bank Sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) pun tak begitu peduli AS mengalami resesi ekonomi di tengah kebijakan suku bunga acuan yang agresif.

Dalam wawancara dengan CBS, Presiden Federal Reserve Bank of Minneapolis Neel Kashkari mengatakan dirinya tidak begitu peduli dengan resesi. Menurutnya, The Fed masih fokus untuk mengatasi inflasi yang masih terus melonjak di negara itu.

“Apakah kita secara teknis dalam resesi atau tidak, tidak mengubah analisis saya. Saya fokus pada data inflasi. Saya fokus pada data upah. Dan sejauh ini, inflasi terus mengejutkan naik ke atas. Upah terus naik,” ungkapnya seperti dikutip dari CNBC, Senin (1/8/2022).

Pada Juni 2022, inflasi AS melonjak ke rekor tertinggi dalam 40 tahun terakhir, naik 9,1 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kendati demikian, pada saat yang sama, pasar tenaga kerja AS tetap kuat tercermin dari tingkat pengangguran nasional yang rendah yakni 3,6 persen.

Baca juga: Dampak Resesi AS, Sri Mulyani Khawatirkan Ekspor RI Turun

“Biasanya, resesi menunjukkan kehilangan pekerjaan yang tinggi, pengangguran yang tinggi, itu mengerikan bagi keluarga Amerika. Dan kami tidak melihat hal seperti itu," kata Kashkari.

Lebih lanjut, ia mengatakan yang menjadi permasalahan adalah bahkan di pasar kerja yang kuat, inflasi melampaui pertumbuhan upah sehingga membuat banyak orang Amerika merasakan pemotongan upah fungsional karena biaya hidup meningkat secara nasional.

"Memecahkan masalah itu dengan mengurangi inflasi adalah tujuan utama Federal Reserve saat ini," ungkap dia.

Baca juga: Pertumbuhan Ekonomi Minus 0,9 Persen di Kuartal II-2022, AS Resmi Masuk Jurang Resesi?

Halaman:


Video Pilihan

Sumber CNBC
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.