Kompas.com - 11/08/2022, 12:35 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menilai saat ini ruang penurunan suku bunga mulai terbatas.

Ketua Dewan Komisioner LPS Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan, penurunan Tingkat Bunga Penjaminan (TBP) LPS diikuti penurunan cost of fund perbankan dan tingkat bunga kredit.

Menurutnya, seiring dengan normalisasi kebijakan moneter di berbagai negara, global cost of fund mulai mengalami kenaikan sehingga penurunan cost of fund perbankan Indonesia pun semakin terbatas ruangnya.

Baca juga: Kapan Kemungkinan BI Bakal Naikkan Suku Bunga Acuan?

"Untuk terus mendorong momentum pemulihan ekonomi nasional, LPS akan berhati-hati dalam mengubah tingkat bunga penjaminan," ujarnya dalam keterangan tertulis, Rabu (10/8/2022).

Dia melanjutkan, yang terpenting LPS bersama anggota Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) yang lain terus berkoordinasi dan memonitor segala perkembangan yang terjadi di domestik maupun global.

Saat ini kondisi perekonomian dunia sedang menghadapi ancaman pengetatan likuiditas akibat tapering off yang dilakukan Bank Sentral AS untuk memulihkan perekonomian dengan menaikkan suku bunga dan mengetatkan kebijakan moneter.

Menurutnya, tren tapering ini akan segera berakhir sehingga pengetatan lebih lanjut tidak akan terlalu signifikan.

Baca juga: Airlangga Harap BI Tak Buru-buru Naikkan Suku Bunga Acuan

"Artinya kendala global, dalam hal ini dampak negatif dari pengetatan kebijakan moneter di AS, yang kita hadapi akan tidak akan sebesar seperti yang diperkirakan sebelumnya," ucap Purbaya.

Oleh karenanya, untuk kondisi likuiditas domestik, Indonesia sebenarnya dapat mengurangi dampak pengaruh kebijakan di AS atau global melalui kebijakan dalam negeri yang baik.

Salah satunya dengan mengendalikan suplai uang di dalam sistem finansial oleh Bank Indonesia.

"Pertumbuhan M0 atau pertumbuhan uang primer mencapai 20 persen, bahkan angka terakhir menunjukkan pertumbuhannya di angka 28 persen. Artinya, sudah cukup banyak uang yang berada di sistem perekonomian kita," imbuhnya.

Selain itu, keadaan likuiditas indonesia dalam sistem finansial antara lain ditunjukkan oleh Rasio Alat Likuid atau Non-Core Deposit (AL/NCD) di level 133,4 persen dan Alat Likuid/DPK (AL/DPK) di level 29,9 persen pada Juni 2022. Nilai ini berada di atas threshold masing-masing minimal 50 persen dan 10 persen.

"Intinya likuiditas perbankan nasional tetap terjaga dengan baik," tuturnya.

Baca juga: LPS Belum Naikkan Tingkat Bunga Penjaminan Valas, Ini Alasannya

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.