Dinilai Terlalu Tinggi, Ekonom Usulkan Tarif Ojol Naik Maksimal 10 Persen

Kompas.com - 13/08/2022, 17:55 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Penetapan tarif ojek online (ojol) oleh Kementerian Perhubungan (Kemenhub) menuai pro dan kontra. Tarif ojol dinilai mengalami kenaikan yang sangat tinggi dan berpotensi membebani masyarakat.

Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Piter Abdullah mengatakan, tarif ojek online yang ditetapkan oleh Kemenhub kenaikannya mencapai lebih dari 30 persen. Tarif ojol naik itu bakal memicu kenaikan inflasi yang lebih tinggi dan berdampak buruk bagi perekonomian nasional.

Ia menyarankan agar pemerintah mengkaji kembali kenaikan tarif ojol yang cukup tinggi tersebut. Menurutnya, kalaupun harus ada kenaikan, sebaiknya dilakukan secara moderat alias tidak langsung tinggi.

Baca juga: Tarif Ojol Naik, Maxim: Bisa Membebankan Masyarakat...

“Angka wajar menurut saya itu ya maksimal 10 persen. Saya juga bertanya-tanya mengapa naiknya setinggi itu, kalkulasinya seperti apa," kata Piter dalam keterangan tertulis, Sabtu (13/8/2022).

Menurutnya, tarif ojol naik lebih dari 30 persen, maka akan membuat tarif ojol mendekati tarif taksi. Kondisi itu akan menurunkan minat masyarakat mengunakan ojol.

Bila hal itu terjadi, maka akan berdampak negatif terhadap pengemudi ojol atau driver karena dapat mengurangi pendapatan driver.

“Perlu jadi perhatian bahwa masyarakat bawah itu sangat sensitif dengan kenaikan harga. Apalagi daya beli masyarakat sudah tergerus akibat pandemi, banyak PHK, penurunan gaji, kenaikan harga-harga bahan pangan, harga barang, dan sebagainya,” paparnya.

Oleh karena itu, kata Piter, pernyataan kenaikan tarif ojol ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan driver dinilai tidak sepenuhnya tepat.

Sebab jika penepatan tarif terlalu tinggi akan membuat pendapatan driver turun dan memiliki dampak yang cukup luas pada sendi-sendi ekonomi. Seperti membuat daya beli turun, memicu kenaikan harga-harga, dan mengerek inflasi.

Ia memperkirakan, sebelum adanya kenaikan tarif ojol, inflasi nasional akan berada di kisaran 5-6 persen, sebab saat ini banyak produsen belum mentransmisikan kenaikan harga-harga bahan baku terhadap harga jual kepada konsumen.

Maka dengan kenaikan tarif ojol yang tinggi tersebut dapat menjadi pemicu bagi produsen untuk mulai menerapkan kenaikan harga bahan baku kepada konsumen.

Begitu pun dengan pelaku UMKM yang terkait dengan ojol, seperti GoFood, GrabFood, ShopeeFood, atau makanan lain yang pembeliannya melalui aplikasi, akan mengalami kenaikan.

Baca juga: Kenaikan Tarif Ojol Berpotensi Kerek Inflasi

Hal itu dapat membuat penjualan makanan melalui aplikasi turun dan membuat pelaku UMKM terdampak dan kesulitan berusaha di saat mereka mencoba bangkit usai pandemi.

Di sisi lain, UMKM yang tidak terkait dengan ojol, juga akan terdampak secara tidak langsung dari kenaikan harga pangan dan barang akibat produsen besar turut menaikkan harga.

“Jadi, akibat dari kebijakan kenaikan tarif ini, efek bola saljunya sangat besar, dan bisa memicu inflasi menjadi liar,” kata Piter.

Sebagai informasi, berdasarkan Keputusan Menteri Perhubungan (KM) Nomor KP 564 Tahun 2022, tarif ojol naik dibagi menjadi tiga zonasi. Tarif terbaru pun akan mulai berlaku pada 14 Agustus 2022 mendatang.

Pada beleid itu diatur untuk Zona I meliputi Sumatera, Jawa (selain Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi), dan Bali jadi dikenakan tarif Rp 1.850- 2.300 per kilometer dengan rentang biaya jasa minimal Rp 9.250-Rp 11.500.

Sebelumnya pada zona ditetapkan tarif Rp 1.850- 2.300 per kilometer dengan rentang biaya jasa minimal Rp 7.000-Rp 10.000.

Lalu Zona II meliputi Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) jadi dikenakan tarif Rp 2.600- 2.700 per kilometer dengan rentang biaya jasa minimal Rp 13.000-Rp 13.500.

Pada zona ini sebelumnya dikenakan tarif Rp 2.000- 2.500 per kilometer dengan rentang biaya jasa minimal Rp 8.000-Rp 10.000.

Kemudian Zona III meliputi Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara dan sekitarnya, Maluku dan Papua jadi dikenakan tarif Rp 2.100- 2.600 per kilometer dengan rentang biaya jasa minimal Rp 10.500-Rp 13.000.

Zona ini sebelumnya dikenakan tarif Rp 2.100- 2.600 per kilometer dengan rentang biaya jasa minimal Rp 7.000-Rp 10.000.

Baca juga: Ini Alasan Kemenhub Naikkan Tarif Ojol

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.