Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Mengapa Adopsi Komputasi Awan Penting untuk Transformasi Digital Perusahaan di Indonesia?

Kompas.com - 17/08/2022, 22:06 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Pandemi Covid-19 membawa perilaku dan kebiasaan baru di seluruh dunia, termasuk di Indonesia, yakni upaya untuk tetap melakukan berbagai macam kegiatan dengan meminimalisir kontak fisik.

Tak heran jika pada periode pandemi, selama 2020-2022, banyak perusahaan dan pelaku usaha kecil menengah kemudian "beralih" menggunakan kanal digital untuk tetap menjangkau karyawan, pelanggan hingga kliennya.

Di sisi lain, startup atau perusahaan rintisan berbasis teknologi di Indonesia juga terus bertumbuh.

Hal-hal itulah yang menyebabkan "demand" untuk belanja teknologi informasi (IT) di Indonesia jadi tinggi. Termasuk di dalamnya, adopsi atau penggunakan cloud computing, atau komputasi awan.

Apa pentingnya cloud computing atau komputasi awan bagi perusahaan di Indonesia? Berikut paparan dari Country Director Searce Indonesia Benedikta Satya. Searce sendiri merupakan perusahaan konsultasi IT yang mendorong edukasi penggunaan solusi cloud, bermitra dengan Google Cloud dan AWS.

Baca juga: Transaksi Digital Marak, Bank Didorong Tingkatkan Private Cloud

 

Pentingnya adopsi cloud bagi perusahaan

Menurut Bene, panggilan akrab Benedikta, behaviour pelaku usaha berubah semenjak pandemi, yakni banyak melakukan kegiatan bersifat remote office. Orang-orang mulai kreatif dan melihat peluang bisnis apa yang bisa mereka lakukan dari rumah.

Di Indonesia sendiri, teknologi yang ada sudah cukup maju. Namun pelaku bisnis tetap harus mempertimbangkan adopsi atau penggunaan cloud computing atau komputasi awan. Sebab, teknologi ini mampu mempercepat pelaku usaha mempersiapkan bisnisnya.

Komputasi awan sendiri secara sederhana, merupakan kumpulan server sebagai penyimpanan data, serta pusat data, yang saling terhubung di seluruh dunia. Dengan adanya sistem ini, seseorang bisa "menyewa" infastruktur IT sesuai kebutuhan, tanpa harus membeli perangkatnya, seperti server, memori, jaringan, pemeliharaan keamanan data, perangkat lunak dan sebagainya).

"Dulu orang mau bikin perusahaan, mereka harus beli dulu servernya, taruh data di sana. Orang harus kumpulin data dulu karena mereka butuh mengkoleksi data secara manual. Nah dengan adanya solusi cloud, seperti search engine saat ini, orang bisa beli cloud untuk memasok data yang dibutuhkan," papar Bene kepada Kompas.com beberapa waktu lalu.

Baca juga: Serangan Siber Tinggi, Transaksi E-Payment Harus Didukung Komputasi Awan

Dengan menggunakan solusi cloud, maka persiapan membangun bisnis bisa dilakukan secara cepat, lebih murah tanpa modal besar, juga lebih mudah.

"Kenapa lebih murah? karena cloud bentuknya fleksibel. Misal, pelaku usaha e-commerce, mereka selalu punya program kampanye (promo belanja) double date (tanggal cantik setiap bulan). Nah, gimana caranya mereka punya "ruang simpan data" yang cukup saat kampanye belanja itu dilakukan?"

"Kalau dulu mereka (pelaku e-commerce) harus sediakan server yang cukup, maka dengan solusi cloud mereka pakai server biasa saja. Pas double date tinggal mereka naikkan konsumsi (ruang simpan data)nya. Saat program kelar mereka balik lagi."

"Sehingga cost mereka jadi lebih rendah, dibanding mereka investasi server hanya untuk saat puncak pemakaian data. Sehingga estimasi biaya pun jadi lebih gampang diprediksi. Dengan demikian, orang jadi enggak takut untuk bikin bisnis karena modal mereka dari sisi teknologi kecil, atau bahkan enggak ada," papar Bene, yang bergabung ke Searce sejak 2020 silam.

Baca juga: Upaya Transformasi Digital Perusahaan Tingkatkan Permintaan Solusi Cloud, Ini Strategi Oracle

Adopsi cloud mempercepat dan mempermudah bisnis, terutama di perusahaan tradisional yang mengembangkan kanal digital. Hal ini tidak mudah lantaran mindset perusahaan tradisional adalah memiliki aset, padahal dengan cloud hanya tinggal menyewanya.

Oleh sebab itu Searce melakukan pemahaman, kepada perusahaan tradisional, yakni bagaimana cloud bisa meningkatkan performa bisnis mereka.

"Kalau dulu untuk digitalisasi, perusahaan harus pesan server untuk keperluan launching produk baru. Order server aja 2-3 bulan, belum konfigurasi dan sebagainya, sementara kompetitor bisa rilis produk baru duluan karena mereka dengan cloud tinggal one click away," ujar Bene yang mengawali kariernya sebagai marketing di Metrodata pada 2010.

Baca juga: Pemerintah Targetkan Latih Komputasi Awan ke 100.000 Pekerja pada 2025

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya


Rekomendasi untuk anda
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

IHSG Sepekan Tumbuh 0,35 Persen, Kapitalisasi Pasar BEI Tembus Rp 9.504 Triliun

IHSG Sepekan Tumbuh 0,35 Persen, Kapitalisasi Pasar BEI Tembus Rp 9.504 Triliun

Whats New
Kasus Pembobolan Rekening Nasabah BCA, Soal Ganti Rugi hingga Pentingnya Keamanan Data Pribadi

Kasus Pembobolan Rekening Nasabah BCA, Soal Ganti Rugi hingga Pentingnya Keamanan Data Pribadi

Whats New
KCJB Sudah 84 Persen, Menhub: Pak Luhut, Pak Erick, dan Saya Ditugaskan Presiden Mengawal Proyek Ini

KCJB Sudah 84 Persen, Menhub: Pak Luhut, Pak Erick, dan Saya Ditugaskan Presiden Mengawal Proyek Ini

Whats New
Sidak Bandara Juanda, Kemenaker Cegah Keberangkatan 87 Calon Pekerja Migran Ilegal

Sidak Bandara Juanda, Kemenaker Cegah Keberangkatan 87 Calon Pekerja Migran Ilegal

Whats New
Terbaru UMR Kota Pekalongan dan Kabupaten Pekalongan 2023

Terbaru UMR Kota Pekalongan dan Kabupaten Pekalongan 2023

Work Smart
Gaji UMR Brebes 2023 dan 34 Daerah Lain se-Jateng

Gaji UMR Brebes 2023 dan 34 Daerah Lain se-Jateng

Work Smart
Cara Mendapatkan Diskon Tiket Kereta Api Dosen dan Alumni UGM

Cara Mendapatkan Diskon Tiket Kereta Api Dosen dan Alumni UGM

Spend Smart
Sering Dikira Merek Asing, Siapa Pemilik Holland Bakery Sebenarnya?

Sering Dikira Merek Asing, Siapa Pemilik Holland Bakery Sebenarnya?

Whats New
Promo Akhir Pekan Indomaret, Ada Diskon Minyak Goreng hingga Beras

Promo Akhir Pekan Indomaret, Ada Diskon Minyak Goreng hingga Beras

Spend Smart
Belum Validasi NIK Jadi NPWP, Apakah Tetap Bisa Lapor SPT Tahunan?

Belum Validasi NIK Jadi NPWP, Apakah Tetap Bisa Lapor SPT Tahunan?

Whats New
Kereta Api Panoramic Kembali Beroperasi Februari 2023, Ini Harga Tiketnya

Kereta Api Panoramic Kembali Beroperasi Februari 2023, Ini Harga Tiketnya

Whats New
Biaya Haji RI Vs Malaysia, Lebih Mahal Mana?

Biaya Haji RI Vs Malaysia, Lebih Mahal Mana?

Spend Smart
10 Perusahaan Teknologi Ini Lakukan PHK pada Januari 2023, Ada Google hingga Microsoft

10 Perusahaan Teknologi Ini Lakukan PHK pada Januari 2023, Ada Google hingga Microsoft

Whats New
Daftar 10 Orang Terkaya Indonesia Pekan Ini, Kekayaan Low Tuck Kwong Turun Rp 31,46 Triliun

Daftar 10 Orang Terkaya Indonesia Pekan Ini, Kekayaan Low Tuck Kwong Turun Rp 31,46 Triliun

Whats New
[POPULER MONEY] Penjelasan Tokopedia soal Pembatalan Voucher Rp 100.000 | KAI soal Tiket Kereta Mahal

[POPULER MONEY] Penjelasan Tokopedia soal Pembatalan Voucher Rp 100.000 | KAI soal Tiket Kereta Mahal

Whats New
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+