Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Inco Harper
Dosen Universitas Multimedia Nusantara

Dosen & Koordinator Konsentrasi Public Relations Universitas Multimedia Nusantara (UMN). Pernah menjadi praktisi periklanan. Pencinta audiophile dan film-film hi-definition.

Menata Ulang Komunikasi Pemasaran untuk Konsumen Muslim

Kompas.com - 24/08/2022, 06:36 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

Saat ini di Indonesia, secara nyata telah terdapat pasar substansial yang menginginkan produk, layanan, merek serta komunikasi yang berlandaskan syariat Islam.

Temporal (2011) menyebutkan bahwa siapapun yang masuk dalam pasar syariah haruslah memahami nilai-nilai dan prinsip-prinsip Islam dan ramah terhadap konsumen Muslim.

Pemasaran Islam dan komunikasi pemasaran Islam

Kartajaya dan Sula (2006) mengatakan bahwa pemasaran Islam (atau juga disebut dengan pemasaran syariah) merupakan sebuah disiplin bisnis tentang seluruh proses, mulai dari penciptaan, penawaran, hingga proses perubahan nilai (value) yang tidak boleh bertentangan dengan akan serta prinsip-prinsip muamalah yang Islami.

Kegiatan ini memiliki empat karakteristik, yaitu: (1) Teistis (rabbaniyyah); (2) Etis (akhlaqiyyah); (3) Realistis (al-waqiyyah); dan (4) Humanistis (insaniyyah).

Empat karakter tersebut juga harus diimplementasikan dalam bauran pemasaran (marketing mix) termasuk elemen promosi – yang kemudian berkembang dengan sebutan komunikasi pemasaran (marketing communications).

Dalam kegiatan pemasaran Islam, pada umumnya merek telah melakukan STP (Segmentasi – Targeting – Positioning) secara jelas.

Beberapa merek secara sabar membangun merek mereka melalui komunitas – sebuah proses membangun merek yang membutuhkan waktu panjang dan tenaga tidak sedikit.

Mereka masuk dalam komunitas tertentu, membangun komunikasi dengan anggotanya, sehingga mereka juga secara bertahap dapat dipercaya oleh pemimpin (pemuka agama) kelompok tersebut. Kerja keras ini kemudian berbuah menjadi loyalitas dan bahkan militansi.

Namun demikian, beberapa merek mengambil jalan pintas dengan membubuhkan label HALAL di belakang nama produk mereka, sebut saja menjadi jihab halal, diterjen halal, sampai dengan kulkas halal.

Pelabelan halal tersebut secara tidak langsung membuat konsumen berpikir, ‘Apakah produk lainnya tidak halal?”

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya


Rekomendasi untuk anda
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+