Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Hasanuddin Wahid
Sekjen PKB

Sekjen Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Anggota Komisi X DPR-RI.

Masalah BBM dan Ancaman Stagflasi

Kompas.com - 25/08/2022, 16:43 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

Sementara lapangan pekerjaan yang mengalami penurunan terbesar, yaitu Sektor Jasa Lainnya (0,51 persen poin).

Sebanyak 81,33 juta orang (59,97 persen) bekerja pada kegiatan informal, naik 0,35 persen poin dibanding Februari 2021.

Persentase setengah pengangguran turun 0,85 persen poin, sementara persentase pekerja paruh waktu turun sebesar 0,15 persen poin dibandingkan Februari 2021.

Jumlah pekerja komuter pada Februari 2022 sebanyak 7,07 juta orang, jumlah pekerja komuter terus mengalami penurunan dalam tiga tahun terakhir.

Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Februari 2022 sebesar 5,83 persen, turun sebesar 0,43 persen poin dibandingkan dengan Februari 2021.

Terdapat 11,53 juta orang (5,53 persen) penduduk usia kerja yang terdampak COVID-19. Terdiri dari pengangguran karena COVID-19 (0,96 juta orang), Bukan Angkatan Kerja (BAK) karena COVID-19 (0,55 juta orang).

Sementara tidak bekerja karena COVID-19 (0,58 juta orang) dan penduduk bekerja yang mengalami pengurangan jam kerja karena COVID-19 (9,44 juta orang).

Mengenai pertumbuhan ekonomi, Asian Development Outlook (ADO) 2022 menyebutkan bahwa perkiraan 2022 untuk Asia Tenggara sedikit ditingkatkan dari 4,9 persen menjadi 5,0 persen karena permintaan domestik diuntungkan dari pencabutan pembatasan mobilitas COVID-19 yang berkelanjutan dan pembukaan kembali perbatasan di beberapa ekonomi di subkawasan.

ADO secara khusus menyebutkan bahwa PDB Indonesia diperkirakan bertumbuh sebesar 5,0 persen pada tahun 2022 dan 5,2 persen pada tahun 2023.

Jadi, berdasarkan data-data di atas, pada satu sisi kita dapat menyimpulkan bahwa ada potensi ancaman stagflasi. Namun, pada sisi lain, ada potensi juga bahwa Indonesia dapat mencegahnya terjadi.

Optimisme tersebut muncul dari tekad dan kisaran target Bank Indonesia (BI) untuk inflasi headline (indeks harga konsumen/IHK) adalah 2 hingga 4 persen.

Namun BI menyatakan preferensi untuk menentukan laju pengetatan moneter dengan melihat tingkat inflasi inti yang berada di bawah perkiraan BI, yaitu 2,99 persen.

Meski IHK sedikit di atas prediksi, yaitu (4,94 persen), pasokan pangan hingga akhir tahun diperkirakan akan meningkat dan inflasi pangan akan mereda.

Belajar dari pengalaman Amerika Serikat, misalnya, pemerintah tampaknya sepakat bahwa stagflasi dapat dicegah melalui kebijakan suku bunga BI.

Namun BI sudah beriktiar bahwa kebijakan suku bunga tidak dilakukan mengacu ke IHK melainkan didasarkan pada inflasi inti dan pertumbuhan ekonomi.

Terlepas dari apa pun kebijakan moneter yang akan diambil pemerintah, sebagai warga negara, kita juga diharapkan ikut ambil bagian dari solusi dari masalah BBM yang sedang terjadi.

Artinya, selain menaruh harapan dan mendesak pemerintah untuk berhati-hati membuat keputusan berkenaan dengan BBM, kita pun perlu membiasakan diri untuk menghemat penggunaan BBM, dan ikut mengembangkan pemanfaatan energi baru terbarukan (EBT), baik secara personal, mapun dalam komunitas masing-masing.

Dengan demikian, setiap kita telah menjadi bagian dari solusi atas krisis BBM sekaligus peredam ancaman inflasi atau pun stagflasi yang membututinya. 

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com