Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Menteri ESDM Sepakati Asumsi Makro RAPBN 2023, ICP Dipatok 95 Dollar AS Per Barrel

Kompas.com - 09/09/2022, 21:15 WIB
Kiki Safitri,
Akhdi Martin Pratama

Tim Redaksi


JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif dan Komisi VII DPR RI menyepakati asumsi dasar harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) untuk Rancangan Anggaran dan Belanja Negara (RAPBN) Tahun 2023.

Adapun kesepakatan asumsi makro untuk harga minyak mentah adalah sebesar 95 dollar AS per barrel atau lebih tinggi dari ICP di APBN 2022, yaitu 63 dollar AS per barrel. Penetapan ini juga mengalami kenaikan sebesar 5 dollar AS per barrel dari usulan sebelumnya, yaitu 90 dollar AS per barrel.

"Pada prinsipnya pemerintah sepakat (penetapan harga ICP tersebut)," kata Arifin saat Rapat Kerja bersama Komisi VII DPR RI di Gedung Nusantara Jakarta, yang dikutip dalam siaran pers, Jumat (9/9/2022).

Baca juga: Erick Thohir: Harga Pertamax Bisa Turun jika Harga Minyak Dunia 75 Dollar AS Per Barrel

Arifin menegaskan, ketidakstabilan pasar global akibat ketegangan geopolitik mendorong harga minyak dunia mengalami fluktuasi. Dia mengatakan, penetapan asumsi dasar ICP di level 95 dollar AS per barrel, dilakukan sebagai upaya mengantisipasi adanya peningkatan konsumsi minyak dunia di akhir tahun.

Hal ini dimungkinkan terjadi jelang musim dingin serta terganggunya sektor suplai dari Rusia. Di lain sisi, pihak OPEC+ juga tengah mengontrol laju produksi untuk bisa menahan harga minyak dunia.

"Kondisi baik dari sisi demand maupun harga minyak dunia belum ada kepastian, berubah setiap hari. Kalaupun terjadi harga minyak turun, mungkin adanya indikasi inflasi sehingga demand ikut turun," jelasnya.

Selain ICP, Pemerintah dan DPR RI menargetkan lifting (siap jual) minyak dan gas bumi tahun 2023 ditetapkan sebesar 1,7 juta barrel setara minyak per hari (BOEPD), terdiri dari lifting minyak 660.000 barrel per hari dan lifting gas bumi sebesar 1,1 barrel setara minyak per hari.

Baca juga: Sri Mulyani Sebut Jika AS dan Eropa Masuk Resesi, Harga Minyak Mentah Dunia Bisa Turun

Keputusan ini disepakati melihat realisasi lifting hingga Agustus 2022 mencapai 1,562 juta barrel setara minyak per hari, di mana realisasi lifting minyak bumi sebesar 606.4000 barrel minyak per hari dan lifting gas bumi sebesar 956.000 barrel setara minyak per hari.

Sementara untuk outlook lifting migas pada APBN 2022 sendiri sebesar 1,5 juta barrel setara minyak per hari, terdiri dari lifting minyak bumi sebesar 633.000 barrel minyak per hari dan lifting gas bumi sebesar 964.000 barrel setara minyak per hari.

Pemerintah pun terus mendorong agar Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) melakukan peningkatan produksi migas melalui penetapan cost recovery tahun 2023 sebesar 8,50 miliar dollar AS.

Guna mengoptimalkan produksi migas, Menteri ESDM mendorong pemanfaatan teknologi modern untuk diaplikasikan pada sumur-sumur tua. Capaian ini diharapkan sejalan dengan target pemerintah mewujudkan produksi minyak satu juta barel per hari di tahun 2030.

"Kita lihat sumber-sumber minyak kita ini sudah tua, memang perlu upaya-upaya keras dengan teknokogi yang baru yang tentu saja akan memakan biaya. Kita memang sedang mengupayakan supaya bisa mencapai target satu juta barel per hari di 2030," ujar Arifin.

Namun demikian, untuk mencapai target satu juta barrel per hari membutuhkan waktu yang relatif lama antara 7 hingga 10 tahun mulai dari penemuan, eksplorasi dan eksploitasi.

"Untuk bisa memompa minyak butuh waktu 7-10 tahun mulai dari penemuan, eksplorasi dan eksploitasi. Dan kita memiliki indikasi sumur-sumur baru yang bisa kita upayakan untuk dipercepat," ungkapnya.

Arifin mengungkapkan, pemerintah memahami sektor migas masih bisa dioptimalkan di masa transisi energi bersih. Terlebih, penjualan kendaraan bermotor baik roda dua maupun empat sangat signifikan di Indonesia.

Halaman Berikutnya
Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com