BI Tak Akan Agresif Naikkan Suku Bunga Acuan Jika Inflasi Terkendali

Kompas.com - 23/09/2022, 18:08 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Bank Indonesia (BI) memastikan tidak akan agresif menaikkan suku bunga acuan selama inflasi masih terkendali.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, hal ini lantaran kondisi di Indonesia berbeda, di mana tingkat inflasi nasional masih realtif terkendali dibandingkan negara-negara lain.

Selain itu, BI optimistis dampak lanjutan atau second round effect dari kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dapat dikendalikan dengan sinergi yang sangat erat antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah.

Baca juga: Dampak Kenaikan Suku Bunga Acuan BI, Ekonom: Biaya Hidup Masyarakat Jadi Lebih Mahal

"Dengan itu tentu saja second round bisa lebih terkendali dan inflasi kita tentu saja juga relatif terkendlai dibandingkan negara lain. Keperluan kenaikan suku bunga lebih agresif tidak diperlukan di Indonesia," ujarnya saat konferensi pers, Kamis (23/9/2022).

Kenaikan suku bunga acuan yang sebesar 50 basis poin (bps) pada Kamis kemarin merupakan upaya BI untuk menurunkan ekspektasi inflasi Indeks Harga Konsumen dan inflasi inti.

Berdasarkan perhitungan BI, diperkirakan inflasi IHK tahun ini akan melebihi 6 persen dan inflasi ini mencapai 4,6 persen. Angka ini melebihi target sasaran inflasi BI di 2022 yang sekitar 3 persen plus minus 1 persen.

Tekanan inflasi IHK diperkirakan meningkat akibat penyesuaian harga BBM subsidi di tengah masih tingginya harga energi dan pangan global

Baca juga: Rupiah Tertekan, Gubernur BI: Relatif Lebih Baik Dibandingkan Sejumlah Mata Uang Negara Lain

Sementara, inflasi inti dan ekspektasi inflasi diprakirakan meningkat akibat second round effect dari penyesuaian harga BBM dan menguatnya tekanan inflasi dari sisi permintaan.

Oleh karenanya, BI akan terus memantau perkembangan ekonomi global dan domestik serta second round effect akibat kenaikan harga BBM setelah kebijakan suku bunga acuan di level 4,25 persen.

"Kami akan memantau bulan ke bulan dan meperkuat respons kebijakan yang diperlukan dari sisi moneter, makroprudensial, dan lainnya," jelas Perry.

Sebagai informasi, tekanan inflasi global semakin tinggi seiring dengan ketegangan geopolitik, kebijakan proteksionisme yang masih berlangsung, serta terjadinya fenomena heatwave di beberapa negara.

Inflasi di negara maju maupun emerging market meningkat tinggi, bahkan inflasi inti berada dalam tren meningkat sehingga mendorong bank sentral di banyak negara melanjutkan kebijakan moneter agresif.

Perkembangan terkini menunjukkan kenaikan suku bunga acuan Amerika Serikat (Fed Fund Rate) yang lebih tinggi dan diprakirakan masih akan meningkat.

Baca juga: BI Naikkan Suku Bunga Acuan 50 Bps, Ekonom: Indikasi Langkah Pengetatan Dimulai

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.