KOLOM BIZ
Konten ini merupakan kerja sama Kompas.com dengan Experd Consultant
Eileen Rachman dan Emilia Jakob
Character Building Assessment & Training EXPERD

EXPERD (EXecutive PERformance Development) merupakan konsultan pengembangan sumber daya manusia (SDM) terkemuka di Indonesia. EXPERD diperkuat oleh para konsultan dan staf yang sangat berpengalaman dan memiliki komitmen penuh untuk berkontribusi pada perkembangan bisnis melalui layanan sumber daya manusia.

Krisis Pertemanan dalam Bekerja

Kompas.com - 01/10/2022, 08:03 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

LIKA-LIKU hubungan antara atasan dan bawahan di lingkup pekerjaan rasanya tak pernah habis dibahas.

Bagaimana pola hubungan yang sehat dengan partner kerja, membangun hubungan yang mendukung produktivitas, serta cara seorang atasan bersikap terhadap bawahan untuk meningkatkan engagement mereka terhadap organisasi adalah beberapa topik menarik yang kerap dibahas dalam kelas-kelas pelatihan.

Ada seorang chief executive officer (CEO) perusahaan sukses bercerita bahwa kunci keberhasilan perusahaannya merupakan hasil kerja sama tim.

Di kantor, ia memang berkawan baik dengan para bawahannya. Sampai-sampai, ada bawahan memberi anaknya nama yang sama dengan sang CEO ini dengan harapan kelak, anaknya memiliki kualitas-kualitas baik seperti yang dimiliki atasannya.

Pada waktu senggang, CEO itu kerap melakukan kegiatan bersama para bawahannya, baik olahraga bersama, mencoba tempat makan baru, maupun saling mengunjungi keluarga masing-masing.

Baca juga: Kekuatan “Alignment”

Beberapa anggota timnya mengakui pola persahabatan yang diterapkan tersebut. Namun, ternyata ada juga yang tidak termasuk dalam lingkaran pertemanan yang dibuat CEO itu. Mereka berkomentar bahwa CEO tadi menerapkan sistem manajemen “like and dislike”.

Sementara di tempat lain, ada teman yang mengeluhkan kesulitan mendapatkan teman sejati di pekerjaannya. Ia merasa sulit bicara dari hati ke hati dengan bawahannya. Ia merasa bawahan hanya mendekati dirinya ketika mereka membutuhkan sesuatu. Ungkapan “it’s so lonely at the top” benar-benar ia rasakan.

Mereka yang menghabiskan banyak waktu di tempat kerja, tetapi tidak mempunyai teman, bisa jadi merasakan isolasi sosial, bahkan depresi.

Studi yang dilakukan para ahli hubungan interpersonal mengatakan bahwa di tempat kerja, kita membutuhkan setidaknya lima orang kolega yang dekat di hati.

Untuk sampai merasakan “sense of belongingness”, kita membutuhkan sedikitnya tujuh orang yang kita percaya agar dapat mengekspresikan diri sendiri dengan jujur dan menikmati hubungan kelompok yang saling mendukung pada saat sulit ataupun senang.

Eileen RachmanDok. EXPERD Eileen Rachman
Kenyataannya, hubungan pertemanan di tempat kerja memang cukup menantang. Kita ingin bekerja dengan orang yang disukai dan dapat memberikan energi positif agar semakin produktif.

Baca juga: Mengutamakan Manusia

Sayangnya, ada banyak yang khawatir bahwa unsur kedekatan itu dapat membuat situasi menjadi tidak enak ketika terjadi friksi-friksi di tempat kerja.

Bahkan, ada yang menganggap bahwa hubungan yang terlalu erat di tempat kerja harus dihindari karena garis antara hubungan profesional dan personal sangat tipis. Sebuah studi menemukan bahwa 6 dari 10 manajer merasa kurang nyaman berkawan dengan atasan atau bawahannya di media sosial.

Namun, sebenarnya banyak juga hasil penelitian yang menunjukkan bahwa persahabatan di tempat kerja dapat menghasilkan hal produktif.

Baca juga: Apakah Kamu Baik-baik Saja?

Banyak perusahaan, seperti Google, Zappos, Dropbox, dan Southwest, mempromosikan persahabatan dan bonding di antara karyawannya. Bahkan, karyawan Zappos menyebut diri mereka anggota “the Zappos family”.

Kalau hubungan kerja secara potensial dapat membuat kita bahagia, bagaimana caranya agar dapat meningkatkan kualitas pertemanan dan menjaga keseimbangannya supaya kita bisa memberikan kontribusi yang positif?

1. Definisikan ulang makna pertemanan

Teman tidak selalu harus berarti orang yang dapat menjadi tempat untuk menceritakan semua yang ada dalam benak kita atau memiliki minat sama.

Baca juga: Reputasi

Berteman juga dapat berarti saling memberikan dukungan satu sama lain. Dalam dunia kerja, ketika kita menemukan orang-orang yang dapat memberikan dukungan dan bantuan, baik tenaga maupun pemikiran terhadap permasalahan, ini berarti kita sudah membangun pertemanan dengannya.

2. Bedakan pertemanan media sosial dengan yang riil

Dalam situasi saat ini, tidak jarang kita mendapat teman-teman baru melalui media sosial. Teman ini datang bisa jadi karena unggahan-unggahan yang membuat kita merasa akrab. Namun, kita harus sadar bahwa media sosial bisa saja hanya memotret sebagian kecil sisi kehidupan seseorang.

Oleh sebab itu, sebelum membangun hubungan kerja yang berpotensi menimbulkan gesekan, sebaiknya kita melakukan interaksi di dunia nyata secara intensif untuk semakin saling mengenal terlebih dahulu. Ini untuk mengantisipasi perbedaan prinsip yang sangat esensi dan belum tentu muncul di media sosial.

Baca juga: Yuk, Membuka Pikiran!

3. Memahami batasan dalam berteman

Dalam pertemanan yang akrab, ada saatnya kita akan berhadapan dengan konflik. Apalagi, dalam hubungan antara atasan dan bawahan yang rentan terjadi kesalahpahaman, perbedaan prinsip, cara bekerja, dan kepentingan.

Hal itu perlu disadari oleh semua pihak yang membangun pertemanan. Jangan sampai, konflik yang terjadi mengakibatkan komunikasi dalam tim terganggu dan berdampak pada pekerjaan.

Setiap pihak perlu menjaga nilai-nilai profesionalnya, baik sebagai bawahan maupun atasan. Kita harus membekali diri dengan ketulusan, kemampuan mendengar dengan empati, dan tahu batas-batas privasi dalam pergaulan.

Baca juga: Transformasi Organisasi

Dalam pertemanan di tempat kerja, ada hal-hal yang tidak bisa dibagikan begitu saja. Kita perlu menyaring apa yang bisa dibuka secara transparan dan apa yang tidak.

Sikap profesional ditunjukkan ketika ada keputusan tidak menyenangkan yang diambil. Pekerjaan dan organisasi harus menjadi prioritas utama untuk pengambilan keputusan. Di sisi lain, seorang sahabat yang baik akan tetap mendukung keputusan tersebut walau tidak menguntungkan baginya.

“Persahabatan yang hebat terdiri atas dukungan emosional, menyukai satu sama lain, peduli orang lain, merasa percaya dan aman, serta menghabiskan waktu bersama.”


Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.