Kompas.com - 03/10/2022, 17:05 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Koperasi dan UKM (Menkop UKM) Teten Masduki mengatakan partisipasi UMKM Indonesia dalam rantai pasok global masih minim.

Ia mendorong pelaku UMKM bermitra dengan usaha besar agar bisa masuk dalam rantai pasok global. Sementara dari keseluruhan perusahaan besar, sebanyak 25,6 persen di antaranya telah berpartisipasi dalam rantai produksi global.

"Hal ini sangat timpang karena mayoritas UMKM adalah pelaku usaha mikro. Saat ini, partisipasi UMKM dalam global value chain baru 4,1 persen dari jumlah unit usaha," katanya di acara Panel Diskusi Kadin Indonesia bertema Rantai Nilai dan Ekosistem UMKM, di Jakarta, Senin (3/10/2022).

Baca juga: Ini Strategi YDBA Dorong UMKM Lokal Go Global

Dibandingkan dengan negara-negara lain, UMKM Indonesia masih tertinggal dalam rantai pasok global. Di negara tetangga persentasenya sudah lebih besar di antaranya di Malaysia sudah mencapai 46,2 persen, Thailand 29,6 persen, Vietnam 20,1 persen, dan Filipina 21,4 persen.

Teten mengatakan masih ada tantangan lain bagi UMKM go global. Tantangan itu yakni masih rendahnya kemitraan strategis, tingginya biaya logistik, rendahnya daya saing, serta rendahnya pemenuhan sertifikasi internasional para pelaku usaha di Tanah Air.

Teten bilang kemitraan sangat dibutuhkan untuk mendorong UMKM semakin berkembang. Di dalamnya mencakup adanya alih keterampilan dan teknologi, hingga pendampingan produk UMKM.

"Kemitraan saat ini sifatnya masih pembinaan, belum terintegrasi dalam rantai pasok industri. Bukan konsep bapak asuh lagi. Yang kita harapkan, UMKM masuk rantai pasok industri seperti di Jepang, Korsel, dan China," ujarnya.

Baca juga: Bertahan dari Resesi dengan Pemberdayaan UMKM


Selain itu, usaha besar juga wajib mendahulukan usaha mikro dan kecil, dalam waralaba, penyediaan lokasi, dan dalam distribusi memberikan hak khusus memasarkan barang dan jasa.

Dari kemitraan itu terdapat insentif yang mendukung UMKM dan usaha besar. Mulai dari pengurangan pajak dan retribusi daerah, bantuan modal dan riset kepada UMK serta koperasi, dan pelatihan vokasi.

Selain itu kata Tetan, usaha menengah dan besar akan dapat insentif pengurangan pajak dan restribusi daerah, dan super deduction tax atas pendampingan vokasi.

"Pemerintah juga memberikan kemudahan pembiayaan untuk rantai pasok UMK dan Koperasi melalui KUR klaster dan LPDB-KUMKM," ucap Teten.

Baca juga: Ini Cara Seedbacklink Bantu UMKM Masuk ke Platform Digital

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan Video Lainnya >

Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.