Harga Komoditas Berpotensi Turun di 2023, DJP Otimistis Capai Target Penerimaan Pajak Rp 1.718 Triliun

Kompas.com - 05/10/2022, 16:40 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Kementerian Keuangan optimistis dapat mencapai target penerimaan pajak sesuai Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2023 yang sebesar Rp 1.718 triliun.

Meskipun saat ini hingga tahun depan diperkirakan perekonomian global masih bergejolak sehingga harga komoditas berpotensi mengalami penurunan di 2023.

Direktur Jenderal Pajak Suryo Utomo mengatakan, target penerimaan pajak pada APBN 2023 sudah diperhitungkan dengan matang sesuai dengan prediksi perekonomian di tahun depan.

Baca juga: Ditjen Pajak Kaji Rencana Penunjukan Tokopedia dkk Jadi Pemungut Pajak

Dengan demikian, dia optimistis DJP dapat mencapai target penerimaan pajak di APBN 2023 meski besarannya naik signifikan dibandingkan target penerimaan pajak di APBN 2022 yang hanya Rp 1.265 triliun.

"Masalah capai target, kita usahakan semaksimal mungkin. Jadi pada waktu menyusun itu kita sudah memperhitungkan dengan ekspektasi apalagi kemarin harga komoditas masih ada," ujarnya saat media briefing di Kantor Pusat DJP, Jakarta, Selasa (10/5/2022).

Hal yang sama juga diungkapkan oleh Staf Ahli Menteri Keuangan bidang Kepatuhan Perpajakan, Yon Arsal.

"Kita didalam menyusunkan target kemarin itu sudah memperhitungkan kira-kira nanti kalau harga komoditas sudah tidak lagi setinggi tahun ini, itu sudah dimasukkan di dalam salah satu variable perhitungan target penerimaan yang akan datang," tambah Yon.

Baca juga: Ditjen Pajak Jadikan Temuan BPK sebagai Bahan Evaluasi

Yon optimistis target penerimaan pajak tersebut dapat direalisasikan dengan baik melihat penerimaan pajak di tahun ini tidak ada kendala. Hal ini tercermin pada Purchasing Managers' Indeks (PMI) yang berada di level ekspansi.

Namun pihaknya tetap akan cermat memperhatikan dampak dari gejolak perekonomian yang berpotensi menghambat salah satu pos pendapatan negara ini.

"Optimis namun tetap waspada," kata dia.

Sebab, variabel penerimaan pajak tidak hanya bergantung pada harga komoditas, Yon bilang, masih ada pos penerimaan pajak lain yang dapat didalami potensinya.

"Komposisi yang berasal dari sumber daya alam itu kan kurang lebih sekitar 120 persen dari penerimaan kita. Tumbuhnya memang di atas 100 persen. Tetapi sektor yang lain yang tumbuhnya 70 persen di luar dari itu tumbuhnya juga 30-40 persen. Artinya ekonomi kita secara agregat baik pada tahun ini," tukasnya.

Baca juga: Per Agustus 2022, Pemerintah Kantongi Rp 126,75 Miliar dari Pajak Kripto

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.