KOLOM BIZ
Konten ini merupakan kerja sama Kompas.com dengan Experd Consultant
Eileen Rachman dan Emilia Jakob
Character Building Assessment & Training EXPERD

EXPERD (EXecutive PERformance Development) merupakan konsultan pengembangan sumber daya manusia (SDM) terkemuka di Indonesia. EXPERD diperkuat oleh para konsultan dan staf yang sangat berpengalaman dan memiliki komitmen penuh untuk berkontribusi pada perkembangan bisnis melalui layanan sumber daya manusia.

Sambung Rasa

Kompas.com - 29/10/2022, 08:02 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

SEORANG teman yang baru saja kembali bekerja setelah masa berkabung ditinggal sang suami, terkejut menjumpai karangan bunga di atas meja kerjanya.

Sang mendiang suami memang biasa mengirimkan bunga kepadanya setiap minggu. Ternyata, bunga itu dikirim oleh teman-temannya yang mengetahui kebiasaan mendiang suaminya tersebut.

Hatinya yang kosong kembali menghangat oleh wujud kasih sayang teman-temannya itu.

Welas asih atau compassion yang kita rasakan ternyata tidak hanya menjadi pelipur lara, tetapi juga bisa membangkitkan motivasi. Welas asih yang biasa kita saksikan di rumah sakit dan panti jompo, ternyata tidak hanya dibutuhkan di sana.

Melalui kemampuan welas asih, kita dapat melihat manusia dari sudut pandang lain. Kita dapat melihat manusia sebagai bagian dari alam semesta sehingga dapat melihat diri sendiri dari perspektif yang lebih humanis.

Membangun hubungan dengan orang lain adalah hakikat manusia. Akan tetapi, semenjak era teknologi berkembang demikian pesat, hubungan antarmanusia sering dinomorduakan setelah teknologi. Padahal, kreativitas, resiliensi, bahkan produktivitas, banyak dipengaruhi oleh kualitas hubungan interpersonal kita.

Psikolog organisasi sekaligus penulis buku-buku sains populer, Adam Grant, mengungkapkan bahwa kita sering berfokus pada deadline yang ketat dan teknologi yang berkembang pesat sehingga kerap mengesampingkan silaturahmi di tempat kerja. Padahal, bila kita merasa terasing dari rekan kerja, pekerjaan pun akan kehilangan maknanya.

Dengan dampak sangat kuat yang dimiliki compassion untuk meningkatkan sambung rasa di dalam kelompok kerja, tak ada salahnya untuk mengembangkannya di lingkungan kerja. Berikut cara yang bisa dilakukan.

Pertajam kemampuan menyensor penderitaan orang

Sering kali, kita terlambat mengetahui bahwa ada rekan kerja, atasan, ataupun bawahan yang sedang menderita.

Ketika dihadapkan dengan kondisi seperti itu, norma-norma profesional sering menyarankan agar kita memendam emosi dan tidak membawa urusan personal kita di tempat kerja.

Akibatnya, banyak orang tidak berani menyampaikan masalah rumah tangganya yang sebenarnya sedang membuat dirinya kesulitan. Tembok pemisah ini sering kali menjadi lebih tebal bila kita sebagai atasan atau rekan kerja tidak memberi tanda, baik secara fisik maupun psikologis, bahwa kita ada untuk mereka.

Selain itu, bisa juga karena kita sedang sibuk pada pekerjaan atau karena keengganan membuka hubungan emosi antara atasan dan bawahan.

Contohnya, bila seorang atasan mengalami kesusahan karena anggota keluarga sedang sakit keras, apa yang ada di benak para bawahan?

Terkadang, para bawahan bingung dan sungkan untuk mengungkapkan kepeduliannya kepada atasan. Mereka sering kali tidak mengetahui cara menyampaikan empati yang baik agar tidak terkesan mencari muka.

Di sinilah kita perlu mengasah keterampilan berempati yang dapat meningkatkan sambung rasa serta membuat hubungan antara atasan dan bawahan semakin kuat.

Perkuat keterampilan bertanya

Norma pergaulan sering melarang kita untuk mencampuri urusan personal orang lain. Bahkan, ada istilah “kepo” untuk orang yang mempunyai rasa ingin tahu tinggi terhadap urusan orang lain.

Sebenarnya, rasa ingin tahu tanpa adanya bantuan, pernyataan simpati, atau bahkan hanya bertanya untuk menjadi bahan cerita, memang tidak pantas dalam pergaulan.

Untuk itu, kita perlu berlatih mengajukan pertanyaan yang menunjukkan rasa peduli. Caranya, kita bisa menanyakan tentang rasa sakit, sedih, ataupun kekhawatiran rekan kita.

Eileen RachmanDok. EXPERD Eileen Rachman

Saat ini, banyak organisasi yang menyadari kebutuhan akan compassionate relationship dan mengadakan pelatihan-pelatihan agar orang mampu berdialog dengan lebih bermakna terhadap rekan kerja.

Bersama mencari arti kerja

Banyak orang merasa jenuh dan menganggap pekerjaannya itu-itu saja. Orang yang bosan tidak bisa mempunyai mental “inside out” untuk melihat tujuan yang lebih luas.

Sebaliknya, bila kita dapat melihat gambaran besar dari pekerjaan yang dilakukan, kita bisa mempertahankan antusiasme terhadap tujuan tersebut. Terlepas dari apa pun pekerjaan yang dilakukan, baik itu pekerjaan rutin maupun strategis.

Apalagi, bila perusahaan memang mempunyai misi yang lebih mulia di atas sasaran bisnisnya. Sikap mental karyawan akan berbeda bila mereka menghayati bahwa kontribusinya dapat mendukung perusahaan mencapai tujuan yang lebih mulia.

Makna kerja seperti itu sebetulnya bisa dikembangkan melalui dialog dan diskusi antara atasan dan bawahan mengenai hakikat bekerja, arti pekerjaan kita bagi masyarakat luas, dan juga manfaat mata pencaharian kita untuk keluarga masing-masing.

Pancarkan pikiran bahagia

Pikiran kasih sayang bisa dipancarkan tanpa batas kepada semua makhluk hidup apa pun juga, mulai dari yang lemah dan kuat hingga yang jauh atau dekat, tanpa kecuali.

Berlatih memancarkan pikiran kasih sayang akan membuat diri kita menjadi manusia yang lebih bahagia dan membawa rasa bahagia kepada mereka yang ada di sekeliling kita.

Dengan mentalitas yang senantiasa mendoakan semua makhluk berbahagia, tindakan dan pikiran kita akan diarahkan untuk peduli dan mencari cara apa yang dapat dilakukan untuk membuat orang lain berbahagia.

Pancaran pikiran bahagia itu dapat memberikan semangat dan energi baru kepada orang lain untuk bangkit dan bertahan dalam menghadapi kesulitan yang sedang dialaminya.

Berkreasi mengadakan compassionate actions

Banyak orang berpikir bahwa compassion dan connection adalah hal yang nice to have saja di perusahaan. Padahal, sambung rasa dari hati ke hati yang sampai menumbuhkan rasa memiliki adalah hal penting. Ini dapat mendasari karyawan untuk mau berpikir dan juga berbuat lebih bagi perusahaan dan kelompoknya.

Kita bisa membuat ragam gerakan peduli, mulai dari mengumpulkan dana bagi rekan yang terkena musibah sampai bersama-sama berbagi kepada sesama di luar organisasi, baik untuk kebutuhan pangan, sandang, papan, maupun pendidikan.

Pada zaman dengan kemajuan teknologi seperti ini, kebijaksanaan dan perasaan manusia akan menjadi hal yang paling berharga yang dapat mempersatukan kita semua.


Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.