JAKARTA, KOMPAS.com - Usaha Mikro, Kecil, Menengah (UMKM) di Indonesia membutuhkan pendanaan untuk dapat meningkatkan produktivitasnya.
Alokasi kredit UMKM di beberapa negara di Asia Tenggara sebagian besar berada pada sektor perdagangan besar dan retail.
Wakil Direktur Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Eko Listiyanto mengatakan, regulator di Indonesia perlu memperhatiakan ketimpangan alokasi dana yang dapat berpengaruh pada produktivitas UMKM.
Baca juga: Gandeng PLN, ION Mobility Bakal Bangun 100 SPLU
Untuk itu, Eko menjabarkan strategi guna mendorong produktivitas UMKM pada berbagai sektor.
Pada sektor pertanian misalnya, produktivitas dapat ditingkatkan dengan adanya entitas penyuluh profesional untuk memastikan binis pertanian berjalan baik.
"Bentuknya bisa yayasan atau lembaga swasta. Penekanannya pada peran profesional sebagai pembina petani dan penghubung ke offtaker dan trader," ucap dia dalam Webinar Peningkatan Produktivitas dan Pendanaan UMKM untuk Mengantisipasi Risiko Resesi Global, Rabu (2/11/2022).
Sementara, untuk produk pertanian yang membutuhkan pemrosesan lebih lanjut, petani perlu dukungan alat bantu mesin.
Baca juga: Per September 2022, Siloam Bukukan Laba Bersih Rp 457,34 Miliar
Dari sisi pendanaan, Eko mengungkapkan, dapat dilakukan melalui lembaga pendukung misalnya yayasan tertentu yang terhubung ke pertanian.
Selain itu, pemangku kepentingan juga dapat memberikan jaminan kepada petani agar dapat dipercaya perbankan.
"Perlu memberikan alternatif pendanaan yang tidak mengatasi ketidaksesuaian skema pembiayaan yang ada dengan karakteristik usaha pertanian," imbuh dia.
Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.