Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Anggito Abimanyu
Dosen UGM

Dosen Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Ketua Departemen Ekonomi dan Bisnis, Sekolah Vokasi UGM. Ketua Bidang Organisasi, Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia

Pengalaman Menghadapi Badai Krisis

Kompas.com - 14/11/2022, 07:00 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

Pada waktu yang sama dilakukan pembenahan dan perbaikan tata kelola di sektor keuangan dunia secara menyeluruh, serta reformasi lembaga keuangan multilateral.

International Monetary Fund (IMF) menyediakan fasilitas pembiayaan fleksibel bagi negara yang mengalami kesulitan neraca pembayaran dan cadangan devisa.

Lembaga Pembangunan Multilateral, Bank Dunia (WB) dan Bank Pembangunan Asia (ADB) memberikan pembiayaan siaga bagi negara anggota untuk akses pembiayaan kontigensi.

Fasilitas pembiayaan tersebut dipersiapkan untuk penanganan pembiayaan stimulus bagi negara yang memiliki kinerja ekonomi baik, tetapi mengalami gangguan akses pembiayaan di pasar keuangan global.

Tindakan-tindakan stimulus ekonomi dipersiapkan apabila terjadi penurunan pertumbuhan ekonomi, kenaikan biaya utang SBN, dan krisis sistemik di sektor keuangan.

Jika terjadi keadaan demikian, maka pemerintah dan Bank Indonesia dapat mengambil langkah cepat melakukan pembahasan di DPR dalam waktu satu hari kerja. Pembahasan APBN di DPR biasanya memakan waktu lebih dari satu bulan.

Adapun tindakan cepat tersebut meliputi kenaikan suku bunga Bank Indonesia, perubahan postur APBN, dan langkah stabilitas pasar keuangan, serta akses pembiayaan siaga yang fleksibel dan murah dari WB dan ADB.

Walhasil, krisis global mereda, dunia selamat dari krisis finansial yang sistemik. Ekonomi Indonesia kembali dalam masa pemulihan.

Pelajaran krisis global

Saat ini, pascapandemi covid-19 kondisi ekonomi global membaik, lembaga multilateral sudah memiliki sumber sebagai last resort, tata kelola sektor keuangan global semakin pruden dan penanganan pandemik sudah semakin tertata.

Namun dampak dari Covid-19 dan perang Rusia-Ukraina masih sangat menghantui. Harga energi naik, inflasi dunia meroket, dan Bank Sentral menaikkan suku bunga.

Kondisi krisis global sudah di depan mata, bisa datang dalam enam bulan atau bahkan lebih cepat.

Satu masalah yang saat ini mengganjal adalah kekacauan di pasar energi global dan merembet pada sektor keuangan global.

Belum ada tanda-tanda agresi Rusia akan berhenti. Tetapi upaya menurunkan harga minyak dunia yang tinggi dan cukup lama dapat dihentikan apabila ada tindakan bersama dalam kecukupan pasokan energi global.

APBN 2023 yang saat ini telah dikembalikan pada jalur normal, tampaknya sudah harus siap-siap disesuaikan dengan perubahan APBN yang ekspansif menghadapi kondisi krisis global.

Sektor keuangan harus terus diperkuat, baik permodalan, teknologi dan tata kelola. Intermediasi perbankan tetap dilanjutkan dengan kebijakan yang selektif dan aman.

Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com