Transformasi Digital Terus Tumbuh, Mengapa Badai PHK di "Startup" Tetap Terjadi?

Kompas.com - 22/11/2022, 13:46 WIB
Penulis Kiki Safitri
|

JAKARTA, KOMPAS.com – Digitalisasi terus mengalami pertumbuhan secara masif di Tanah Air, dengan potensi yang cukup besar di masa depan. Namun, sayangnya hal ini tidak sejalan dengan penciptaan lapangan kerja.

Belakangan ini, badai pemutusan hubungan kerja (PHK) banyak menghantam perusahaan-perusahaan teknologi, yang sudah pasti erat kaitannya dengan digital. Parahnya, kebanyakan PHK berasal dari perusahan unicorn dan decacorn.

Praktisi Perbankan Abiwodo mengatakan, masalah PHK masih berkaitan dengan kondisi-kondisi yang terjadi saat ini. Seperti, ketegangan politik, pandemi Covid-19, perang, inflasi, kenaikan suku bunga, hingga krisis biaya hidup.

Baca juga: Sebut RI Kecipratan Order Piala Dunia 2022, GBSI Tolak PHK dengan Dalih Resesi Global

“Indonesia termasuk negara yang jauh dari resesi dan berhasil mempertahankan perekonomiannya. Sektor teknologi digital juga selama ini mendapat berkah dari pandemi. Tapi, hampir semua startup menyandarkan pertumbuhan perusahaannya dengan arus kas negatif, dan model bisnisnya bergantung kepada dana investor,” kata Abiwodo dalam siaran pers, Selasa (22/11/2022).

Dia mengungkapkan, dengan kondisi tersebut wajar saja bila terjadi pengeluaran modal yang cukup besar untuk operasional, seperti promosi dan pemasaran, untuk meningkatkan pengguna produknya.

“Jika penggunanya banyak, maka nilai bisnisnya meningkat. Nilai sahamnya pun bisa terkerek naik. Pengeluaran besar-besaran untuk promosi dan pemasaran inilah yang sering disebut-sebut 'bakar duit'. Termasuk berlomba membangun kantor yang 'keren', membuat mereka yang bekerja di startup digital dijamin betah, bergengsi, plus gaji yang rata-rata menggiurkan,” kata dia.

Baca juga: Daftar 14 Perusahaan Teknologi yang Lakukan PHK Massal pada 2022


Namun yang menjadi masalah utamanya adalah ketidakpastian global dan naiknya suku bunga berdampak pada perlambatan ekonomi dan lesunya investasi. Hal ini membuat para investor harus menjaga ketahanan modalnya.

“Banyak investor bahkan menarik dan menyimpan modalnya. Alhasil, startup digital mau tidak mau harus merevisi model bisnisnya,” lanjut dia.

Runway startup

Kondisi keterbatasan modal inilah yang membuat startup digital perlu melakukan efisiensi. Tidak bisa lagi "bakar duit", termasuk efisiensi SDM dengan melakukan PHK, dengan alasan memperpanjang "runway".

Baca juga: Soal PHK Massal di Startup, Komut Telkom: Tidak Ada Bisnis 100 Persen Untung Terus

Runway adalah jumlah waktu yang dimiliki startup sebelum kehabisan uang. Seperti landasan pacu bandara, panjang runway bakal menentukan berapa banyak pendanaan yang dibutuhkan startup.

Halaman:


Video Pilihan Video Lainnya >

Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.