Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Siswanto Rusdi
Direktur The National Maritime Institute

Pendiri dan Direktur The National Maritime Institute (Namarin), sebuah lembaga pengkajian kemaritiman independen. Acap menulis di media seputar isu pelabuhan, pelayaran, kepelautan, keamanan maritim dan sejenisnya.

Bubarnya Aliansi 2M dari MSC dan Maersk

Kompas.com - 30/01/2023, 05:00 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

PELAYARAN peti kemas dunia tengah meriang. Keguncangan terjadi karena perusahaan Mediterranean Shipping Company atau MSC yang berbasis di Swiss dan Maersk asal Denmark sepakat mengakhiri aliansi yang mereka bangun: 2M.

Walaupun waktu efektif pembubaran masih sekitar dua tahun lagi, tepatnya Januari 2025, tetap saja sektor usaha demam. Pastilah bisnis akan kenapa-kenapa jika mereka betul-betul talak tiga nantinya.

CEO MSC, Soren Toft, dan CEO AP Moller-Maersk, Vincent Clerc, mengungkapkan bahwa pengakhiran kerja sama dilakukan agar kedua belah pihak dapat mengejar strategi masing-masing.

Baca juga: Menhub Tawari Perusahaan Denmark Maersk Line Ikut Kembangkan Pelabuhan Patimban

Ihwal bubarnya aliansi 2M sebetulnya sudah disebut ketika perjanjian vessel sharing antara kedua pelayaran ditandatangani pada 2015. Dalam perjanjian ini disebutkan, masa perikatan (pada rute pelayaran timur/Asia dan barat/Amerika-Eropa) hanya berlaku selama 10 tahun. Dua tahun sebelum berakhir, publik akan diberi tahu. Hal inilah yang sedang berlaku; MSC dan Maersk mengabarkan kepada khalayak bahwa mereka akan berpisah.

Sontak pasar “tidak enak badan”. Pasalnya, aliansi ini merupakan dua operator terbesar penguasa pasar pelayaran peti kemas. Keduanya berada di posisi pertama dan kedua dalam klasemen.

Khalayak cukup demam, meriang atau tidak enak badan saja; tidak perlu pingsan. Karena keputusan kedua pelayaran itu tidak memengaruhi sama sekali layanan yang diberikan saat ini. Para pihak malah akan memperkuat kerja sama dalam waktu yang tersisa. Mereka akan meminimalisasi disrupsi pada jaringan 2M sampai 2025.

Beda Strategi

Strategi masing-masing perusahaan mulai tak seiring-sejalan dalam masa pandemi Covid-19. MSC memilih strategi pengembangan melalui akuisisi kapal-kapal secondhand sementara Maersk fokus kepada target sebagai penyedia jasa logistik end-to-end.

Bila MSC belanja banyak kapal, Maersk meluncurkan Maersk Air Cargo pada pertengahan 2022 dan bermarkas di Billund, bandar udara kedua terbesar di Denmark. Tetapi perusahaan ini bukan pemain baru dalam bisnis penerbangan.

Jauh hari sebelumnya, Maersk juga sudah berkecimpung di lini yang satu ini melalui Star Air yang juga bergerak dalam pengangkutan kargo. Jumlah armada pesawatnya juga lumayan banyak, sekitar 15 unit Boeing 767F. Kapal terbang khusus untuk barang.

Pendirian Maersk Air Cargo adalah upaya mengonsolidasikan Star Air yang mengangkut sepertiga kargo udara tahunan Maersk selama ini.

Di samping itu, Maersk Air Cargo didirikan untuk memanfaatkan peluang yang diciptakan oleh pandemi Covid-19 di mana kargo tumbuh gila-gilaan sejak Maret 2020. Di sisi lain, banyak layanan penerbangan (kargo) ditutup alias grounded sehingga 50 persen kapasitas angkut eksisting menggangur.

Sementara itu, di sektor pelayaran juga terjadi booming akibat pandemi. Ini peluang besar bagi Maersk jika mereka bisa mengontrol kedua moda. Upaya perusahaan yang didirikan Arnold Peter Maersk (AP Maersk) menekuni bisnis end-to-end logistics provider diawali dengan mengakuisisi perusahaan freight forwarding asal Jerman, Senator International yang memiliki konsentrasi layanan pada airfreight.

Maersk merupakan pelayaran kedua yang menekuni bisnis air cargo. Firma pelayaran yang pertama kali menggeluti usaha ini adalah pelayaran Prancis CMA CGM. Mereka mendirikan lini angkutan barang udara pada awal 2021.

Sedikit catatan tentang CMA CGM ini. Pelayaran ini merupakan anggota Ocean Alliance. Tergabung ke dalam kelompok ini adalah OOCL, Cosco, dan Evergreen. Aliansi ini diluncurkan pada 2017.

Pada awalnya para anggota bersepakat untuk berserikat selama lima tahun. Belakangan diperpanjang hingga 2027. Total jumlah armada peti kemas yang tergabung di sini sekitar 330 unit dengan kapasitas angkut mencapai 3,8 juta twenty foot equivalent unit (TEU).

Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com