Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Melihat Kinerja Keuangan Pertamina Geothermal Energy yang Bakal IPO

Kompas.com - 03/02/2023, 17:00 WIB
Rully R. Ramli,
Akhdi Martin Pratama

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - PT Pertamina Geothermal Energy tengah menjalankan rangkaian proses penawaran umum perdana atau initial public offering (IPO). Anak usaha PT Pertamina (Persero) itu berupaya menghimpun dana lewat pasar modal dengan melepas 10,35 miliar saham baru atau setara 25 persen modal disetor perusahaan.

Rencana melantainya Pertamina Geothermal Energy sudah dibahas oleh investor pasar modal sejak tahun lalu. Sejumlah investor telah menantikan IPO dengan target dana yang hampir mencapai Rp 10 triliun itu.

Namun, sebelum memutuskan untuk membeli saham perusahaan yang bergerak pada industri panas bumi itu, ada baiknya mengetahui kinerja keuangan perusahaan terlebih dahulu.

Baca juga: Pertamina Geothermal IPO, Simak Jadwal Pelaksanaannya

Berdasarkan data dokumen prospektus perusahaan, hingga akhir kuartal III-2022 Pertamina Geothermal Energymembukukan laba bersih sebesar 111,43 juta dollar AS. Realisasi itu melonjak sekitar 67,8 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya, yakni sebesar 66,39 juta dollar AS.

Lonjakan laba itu salah satunya disebabkan oleh pendapatan usaha perusahaan yang mencapai 287,34 juta dollar AS hingga pengujung September 2022. Ini sebenarnya hanya tumbuh tipis, yakni sebesar 3,9 persen dari 276,61 juta dollar AS.

Manajemen Pertamina Geothermal Energy menyatakan, peningkatan pendapatan usaha utamanya disebabkan oleh eskalasi harga jual listrik panas bumi yang dipengaruhi oleh naiknya Indeks Harga Produsen Amerika Serikat selama sembilan bulan pertama tahun 2022. Ini melebihi jumlah yang diperlukan untuk menutupi penurunan total listrik yang diproduksi pada periode yang sama di tahun 2021.

Baca juga: Pertamina Geothermal IPO, Pasang Harga Awal Rp 820 - Rp 945 per Saham

Pada saat bersamaan, pos beban pokok pendapatan dan beban langsung lainnya menurun sebesar 9,5 persen secara tahunan menjadi 122,41 juta dollar AS. Ini disebabkan oleh pelemahan rupiah terhadap dollar AS, di mana sebagian besar beban pokok pendapatan dan beban langsung lainnya ditransaksikan dalam rupiah, namun dibukukan dalam dollar AS.

Kemudian, beban keuangan juga tercatat menurun sebesar 19,7 persen menjadi 8,96 juta dollar AS. Penurunan tersebut utamanya disebabkan oleh refinancing shareholder loan dengan bridging loan yang memiliki tarif bunga yang lebih rendah.

Dengan realisasi-realisasi itu, laba sebelum beban pajak penghasilan Pertamina Geothermal untuk periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2022 meningkat sebesar sebesar 69,4 persen menjadi 170,92 juta dollar AS.

Pertamina Geothermal Enegy mencatatkan aset sebesar 2,44 miliar dollar AS hingga September tahun lalu. Kemudian, perusahaan memiliki liabilitas 1,13 miliar dollar AS dan ekuitas sebesar 1,31 miliar dollar AS.

Baca juga: iPhone Generasi Pertama Dilelang, Harganya Ditaksir Tembus Rp 745 Juta

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

Perbankan Antisipasi Kenaikan Kredit Macet Imbas Pencabutan Relaksasi Restrukturisasi Covid-19

Perbankan Antisipasi Kenaikan Kredit Macet Imbas Pencabutan Relaksasi Restrukturisasi Covid-19

Whats New
KKP Tangkap Kapal Ikan Berbendera Rusia di Laut Arafura

KKP Tangkap Kapal Ikan Berbendera Rusia di Laut Arafura

Whats New
Defisit APBN Pertama Pemerintahan Prabowo-Gibran Dipatok 2,45 Persen-2,58 Persen

Defisit APBN Pertama Pemerintahan Prabowo-Gibran Dipatok 2,45 Persen-2,58 Persen

Whats New
Bos Bulog Sebut Hanya Sedikit Petani yang Manfaatkan Jemput Gabah Beras, Ini Sebabnya

Bos Bulog Sebut Hanya Sedikit Petani yang Manfaatkan Jemput Gabah Beras, Ini Sebabnya

Whats New
Emiten Gas Industri SBMA Bakal Tebar Dividen Rp 1,1 Miliar

Emiten Gas Industri SBMA Bakal Tebar Dividen Rp 1,1 Miliar

Whats New
Citi Indonesia Tunjuk Edwin Pribadi jadi Head of Citi Commercial Bank

Citi Indonesia Tunjuk Edwin Pribadi jadi Head of Citi Commercial Bank

Whats New
OJK: Guru Harus Punya Pengetahuan tentang Edukasi Keuangan

OJK: Guru Harus Punya Pengetahuan tentang Edukasi Keuangan

Whats New
Sekjen Anwar: Kemenaker Punya Tanggung Jawab Besar Persiapkan SDM Unggul dan Berdaya Saing

Sekjen Anwar: Kemenaker Punya Tanggung Jawab Besar Persiapkan SDM Unggul dan Berdaya Saing

Whats New
Lowongan Kerja BUMN Viramakarya untuk Posisi di IKN, Ini Posisi dan Persyaratannya

Lowongan Kerja BUMN Viramakarya untuk Posisi di IKN, Ini Posisi dan Persyaratannya

Whats New
Soal Relaksasi HET Beras Premium, Dirut Bulog: Biasanya Sulit Dikembalikan...

Soal Relaksasi HET Beras Premium, Dirut Bulog: Biasanya Sulit Dikembalikan...

Whats New
Potensi Pasar Geospasial di Indonesia

Potensi Pasar Geospasial di Indonesia

Whats New
OJK Minta Lembaga Keuangan Bikin 'Student Loan' Khusus Mahasiswa S-1

OJK Minta Lembaga Keuangan Bikin "Student Loan" Khusus Mahasiswa S-1

Whats New
Soal Tarif PPN 12 Persen, Sri Mulyani: Kami Serahkan kepada Pemerintahan Baru

Soal Tarif PPN 12 Persen, Sri Mulyani: Kami Serahkan kepada Pemerintahan Baru

Whats New
Citilink Buka Lowongan Kerja Pramugari untuk Lulusan SMA, D3, dan S1, Ini Syaratnya

Citilink Buka Lowongan Kerja Pramugari untuk Lulusan SMA, D3, dan S1, Ini Syaratnya

Whats New
Kerangka Ekonomi Makro 2025: Pertumbuhan Ekonomi 5,1 - 5,5 Persen, Inflasi 1,5 - 3,5 Persen

Kerangka Ekonomi Makro 2025: Pertumbuhan Ekonomi 5,1 - 5,5 Persen, Inflasi 1,5 - 3,5 Persen

Whats New
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com