Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Ini 4 Tren Industri Menara Telko yang Jadi Peluang Pertumbuhan Bisnis Mitratel

Kompas.com - 18/03/2023, 21:51 WIB
Aprillia Ika

Editor

UBUD, KOMPAS.com - PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) atau Mitratel, anak usaha PT Telkom Indonesia (TLKM), mengungkapkan sejumlah tren industri menara telekomunikasi pada tahun ini.

Direktur Bisnis Mitratel Noorhayati Candrasuci mengungkapkan ada empat tren yang mereka soroti tahun ini.

Empat tren ini yang nantinya bakal jadi peluang bisnis dan mendorong pertumbuhan bisnis Mitratel ke depan.

Apa saja? Berikut paparannya.

Baca juga: Pakai Solar Panel di Tower BTS-nya, Mitratel Hemat Biaya Operasi 15-20 Persen

1. Permintaan tenant

Di Indonesia, satu menara telekomunikasi meng-cover 2.700 populasi. Sehingga operator seluler pasti membutuhkan penambahan menara telekomunikasi untuk mendorong pertumbuhannya.

"Apakah ada ruang untuk tumbuh?
Masih ada peluang penambahan tenant akibat coverage dan karena densifikasi (kepadatan) penduduk," kata Noorhayati Candrasuci atau akrab disapa Candra, saat sesi media gathering di Bali, Jumat (17/3/2023) malam.

2. Penetrasi 5G

Pada 2025 diperkirakan penetrasi 5G sebesar 2 persen dengan hanya pemain-pemian utama yang menyelenggarakannya.

Layanan 5G mendorong kebutuhan smartcell pada street furniture, atau tingkat keterisian pada jaringan fiber (serat) optik serta tambahan daya.

"5G akan jadi driver pertumbuhan Mitratel dan Mitratel ready," lanjut Candra.

Baca juga: Perkuat Bisnis Menara Telekomunikasi, Mitratel Genjot Jumlah Menara Berjaringan Fiber Optik

3. Fiber optik

Fiber optik masuk bisnis adjacent, yakni Fiber to the Tower (FTTT) dan Power to the Tower (PTTT).

Menurut Mitratel, FTTT memiliki peluang besar bagi perusahaan menara telekomunikasi untuk mendukung mobile operator meningkatkan kapasitas dan kebutuhan backhaul mereka.

PTTT sendiri peluang kedua terbesar setelah FTTT, karena kebutuhan sumber daya untuk lokasi-lokasi grid off atau terpencil.

"Mustahil 5G digelar tanpa fiber optik," tambah Direktur Operasi dan Pembangunan Mitratel Pratignyo Arif Budiman.

"Fiber optik sesuatu yang mustahil untuk tidak digunakan karena optik sangat robust terhadap latency. Tahun lalu kami gelar fiber optik organik 10.000 km dan anorganik 6.000 km," lanjutnya.

Baca juga: Perluas Cakupan 5G, Mitratel Gandeng Alita Bangun Jaringan Serat Optik

4. Digitalisasi dan energi terbarukan

Untuk optimalisasi operasional, menurut Mitratel, adanya digital twins memungkinkan melakukan pemeliharaan secara prediktif dan simulasinya di menara telekomunikasi pun mirorring.

Di sisi lain, operator telekomunikasi melirik penggunaan energi terbarukan untuk menekan biaya operasional agar jadi lebih rendah, terutama saat penerapan layanan 5G.

"Tahun ini kami push digitalisasi, dan renewable energy agar kami jadi infrastructure provider di masa depan. Kami masuk di fiber untuk kebutuhan infrastructure as a service yang muncul. Lalu ke power to the tower, renewable energy, baru 5G. Tahun 2023 kami akan masuk ke kebutuhan 5G," lanjut Candra.

Halaman:


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com