Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Imbas SVB Bangkrut, Saham First Republic Anjlok 32,7 Persen

Kompas.com - 19/03/2023, 09:18 WIB
Kiki Safitri,
Yoga Sukmana

Tim Redaksi

NEW YORK, KOMPAS.com – Bursa saham AS atau Wall Street berakhir merah pada penutupan perdagangan Jumat (18/3/2023) waktu setempat. Penurunan indeks didorong oleh pelemahan saham-saham bank, hingga anjloknya saham First Republic.

Mengutip CNBC, Dow Jones Industrial Average (DJIA) kehilangan 384,57 poin, atau 1,19 persen. S&P 500 turun 1,1 persen, dan indeks saham acuan teknologi Nasdaq Composite melemah 0,74 persen. Beberapa saham yang menekan S&P antara lain First Republic yang terjun 32,7 persen, US Bancorp melemah 9,3 persen, dan Comerica terjun 8,4 persen

Sementara itu, saham yang menekan Nasdaq, Enphase Energy yang ambles 8,6 persen, Meta Platform turun 4,5 persen, dan Gilead Sciences terkoreksi 3,1 persen. Sementara itu, JP Morgan yang ambles 3,7 persen, Goldman Shacs 3,6 persen, dan American Express 2,6 persen membebani indeks Dow.

Baca juga: Kapitalisasi Bursa Susut Rp 107 Triliun, Imbas SVB Bangkrut?

Turunnya harga saham bank karena investor menarik diri dari posisi di First Republic dan saham bank lainnya di tengah kekhawatiran atas keadaan sektor perbankan AS. Penurunan First Republik yang hampir 33 persen, mengakhiri penurunan pekan ini yang mendekati 72 persen.

Itu menandai perubahan dari yang sempat mengalami kenaikan pada hari Kamis, setelah beberapa bank berkomitmen untuk membantu First Republic dalam bentuk likuiditas simpanan sebanyak 30 miliar dollar AS sebagai tanda kepercayaan pada sistem perbankan.

Penurunan harga saham pada hari Jumat membebani SPDR Regional Banking ETF (KRE), yang kehilangan 6 persen dalam sesi, dan mengakumulasi penurunan pekan ini sebesar 14 persen lebih rendah.

Baca juga: Saham PGEO Terus Tertekan, Energy Watch: Geothermal Itu Bisnis Jangka Panjang


Sementara itu, saham Credit Suisse yang terdaftar di bursa AS juga terjun hampir 7 persen, karena para pedagang merespons negatif rencana bank tersebut untuk meminjam hingga 50 miliar franc, atau hampir 54 miliar dollar AS, dari Bank Nasional Swiss. Dalam sepekan, saham Credit Suisse kehilangan 24 persen.

Bursa Saham AS telah dilanda kekhawatiran sejak Silicon Valley Bank (SVB) dan Signature Bank yang mengalami kolaps. Ini mendorong spekulasi investor, bahwa akan ada bank lainnya yang benasip sama. Namun, pasar telah menanggapi perkembangan terbaru di sektor ini setelah regulator mengatakan pada akhir pekan bahwa mereka akan mendukung kedua bank tersebut.

“Investor mundur pada hari Jumat menjelang pengumuman penting di hari Senin. Ada kekhawatiran di akhir pekan, bagaimana semua ini terlihat pada hari Senin,” kata Keith Buchanan, manajer portofolio senior di Globalt Investments.

Baca juga: Silicon Valley Bank Bangkrut, Bank Jago Petik Pelajaran Penting

Pekan depan, Federal Reserve akan mengumumkan suku bunga, yang diperkirakan akan mengalami kenaikan lagi sebesa 25 basis poin, di tengah masalah krisis perbankan yang telah terjadi.

"The Fed tampaknya memberikan basa-basi setidaknya, dan menyadari apa yang baru saja terjadi dengan sektor perbankan. Di satu sisi, tidak ada perubahan mendasar, hanya fakta peristiwa (krisis) di sektor perbankan yang menyebabkan meluasnya sentimen, tetapi belum benar-benar menular dalam hal bank lain," kata Aoifinn Devitt, kepala investasi di Moneta.

Baca juga: Soal Bangkrutnya Silicon Valley Bank, BTN: Kami Justru Semakin Waspada

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.



Terkini Lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com