Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Harga Minyak Dunia Melonjak Imbas Perang Hamas-Israel

Kompas.com - 14/10/2023, 11:17 WIB
Kiki Safitri,
Yoga Sukmana

Tim Redaksi

Sumber CNBC

NEW YORK, KOMPAS.com - Harga minyak dunia naik lebih dari 5 persen karena investor masih khawatir dengan meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah pada hari Jumat (13/10/2023).

Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS melonjak 5,8 persen menjadi 87,7 dollar AS per barrel dan menjadi harga terbaik sejak April 2023. Sementara itu, patokan internasional minyak mentah berjangka Brent kontrak Desember naik 4,89 dollar AS atau 5,7 persen menjadi 90,89 per barrel.

Minyak mentah WTI naik lebih dari 4 persen minggu ini, membukukan kenaikan mingguan terbesar sejak September 2023.

Baca juga: Ada Perang Hamas-Israel, Menteri ESDM Waspadai Kenaikan Harga Minyak Dunia

Konflik Israel-Hamas telah meningkatkan kekhawatiran bahwa perang tersebut dapat mengganggu produksi energi regional. Di sisi lain, Timur Tengah menyumbang lebih dari sepertiga perdagangan energi global melalui laut.

Badan Energi Internasional pada hari Kamis menggambarkan kondisi pasar sebagai yang terjadi saat ini adalah penuh dengan ketidakpastian. Namun, perang Israel-Hamas belum berdampak langsung pada pasokan fisik.

IEA berusaha meredakan kekhawatiran pasar dengan mengatakan pihaknya siap bertindak untuk memastikan pasar tetap berada dalam pasokan yang cukup, jika terjadi kekurangan pasokan secara tiba-tiba.

Tanggapan badan energi ini mencakup negara-negara anggota yang akan mengeluarkan stok darurat atau menerapkan langkah-langkah pengendalian permintaan energi. Adapun Israel bukanlah produsen minyak utama dan tidak ada infrastruktur minyak besar yang beroperasi di dekat Jalur Gaza.

Baca juga: Menkeu AS soal Perang Israel-Hamas: Tidak Berdampak Signifikan ke Ekonomi Dunia

Sanksi AS

AS memperketat sanksi terhadap ekspor minyak mentah Rusia, dan membatasi dua perusahaan pelayaran yang dianggap melanggar batasan harga minyak G7.

“Menegakkan sanksi adalah inti dari upaya kami membatasi keuntungan Rusia dari perdagangan minyaknya. Batasan harga dirancang untuk menjaga pasokan minyak Rusia sambil mengenakan biaya baru pada Rusia, bukan untuk mengurangi pasokan minyak,” kata juru bicara Departemen Keuangan AS.

“Memang benar, harga minyak turun beberapa jam setelah pengumuman tersebut. Tentu saja, harga minyak sensitif terhadap banyak faktor, termasuk konflik yang sedang berlangsung di Timur Tengah,” tambah dia.

Baca juga: BKPM Yakin Perang Hamas-Israel Tak Akan Pengaruhi Investasi di Indonesia

G7 termasuk Australia dan UE menerapkan batasan harga minyak Rusia sebesar 60 dollar AS per barrel pada 5 Desember tahun lalu. Hal ini terjadi bersamaan dengan langkah UE dan Inggris yang memberlakukan larangan impor minyak mentah Rusia melalui laut.

Secara keseluruhan, langkah-langkah tersebut dianggap mencerminkan langkah paling signifikan dalam membatasi pendapatan ekspor bahan bakar fosil yang mendanai perang Rusia di Ukraina.

Kantor Pengawasan Aset Luar Negeri (OFAC) Departemen Keuangan AS mengatakan, pihaknya menjatuhkan sanksi terhadap dua pemilik kapal tanker yang membawa minyak Rusia dengan harga di atas batas harga, yakni Turki dan Uni Emirat Arab.

Baca juga: Perang Israel-Hamas Bikin Bursa Saham AS Menguat

Kapal tanker YasaGolden Bosphorus, yang dimiliki oleh Ice Pearl Navigation Corp yang berbasis di Turki, telah membawa minyak mentah dengan harga di atas 80 dollar AS per barrel setelah batasan harga berlaku.

Sementara itu, OFAC mengatakan, SCF Primorye, yang dimiliki oleh Lumber Marine SA yang berbasis di UEA, membawa minyak Rusia dengan harga di atas 75 persen per barrel dari sebuah pelabuhan di Rusia setelah mekanisme pembatasan harga diberlakukan.

“Langkah membatasi penjualan minyak Rusia menunjukkan komitmen berkelanjutan kami untuk mengurangi sumber daya perang Rusia melawan Ukraina dan untuk menegakkan batasan harga,” kata Wakil Menteri Keuangan AS Wally Adeyemo.

“Kami tetap berkomitmen untuk menerapkan kebijakan pembatasan harga yang memiliki dua tujuan, mengurangi keuntungan minyak yang menjadi andalan Rusia untuk melancarkan perang melawan Ukraina dan menjaga pasar energi global tetap stabil dan tersuplai dengan baik meskipun terjadi gejolak yang disebabkan oleh invasi Rusia yang tidak beralasan ke Ukraina,” tambah Adeyemo.

Baca juga: Tertekan Sentimen Perang Israel-Hamas, Rupiah Sentuh Level Terendah Sejak November 2022

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Sumber CNBC


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com