Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Nuri Taufiq
Pegawai Negeri Sipil

Statistisi di Badan Pusat Statistik

Kasus Korupsi Syahrul Yasin Limpo dan Nasib Petani Gurem

Kompas.com - 13/05/2024, 09:25 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

PERSIDANGAN kasus dugaan korupsi yang menjerat mantan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL) akhir-akhir ini kembali menghangat.

Dalam perkara ini, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mendakwa SYL melakukan pemerasan dan menerima gratifikasi dengan jumlah mencapai Rp 44,5 miliar. SYL juga diduga menggunakan anggaran negara untuk keperluan pribadinya.

Tak bisa dipungkiri, kasus ini sungguh menciderai setidaknya 40,72 juta rakyat Indonesia yang setiap hari harus menggantungkan nasib mereka dengan membanting tulang di sektor pertanian.

Angka 40,72 juta orang tentu bukan jumlah kecil. Angka ini merupakan bagian dari kondisi keadaan ketenagakerjaan terkini hasil Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Februari 2024 yang dirilis BPS pada 6 Mei 2024 lalu.

Tercatat jumlah angkatan kerja Februari 2024 sebanyak 149,38 juta orang. Dalam satu dekade terakhir, pertumbuhan angkatan kerja di Indonesia mencapai 19,22 persen atau mengalami kenaikan 24,08 juta orang.

Dengan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) Februari 2024 mencapai 69,80 persen.

Potensi angkatan kerja yang begitu besar nampaknya belum bisa dioptimalkan dengan baik di tengah masa bonus demografi saat ini.

Ditambah lagi dugaan kasus korupsi yang menjerat SYL menjadi bukti nyata nihilnya etika pada pucuk pemangku kebijakan pertanian yang menyangkut nasib setidaknya 40,72 juta orang yang bekerja di sektor pertanian.

Padahal lapangan usaha ini merupakan sektor yang menyerap tenaga kerja paling banyak di Indonesia. Yaitu mampu menyerap 28,64 persen dari total penduduk yang bekerja.

Artinya sektor pertanian setidaknya masih menjadi sektor pekerjaan utama di Indonesia sampai saat ini.

Petani belum sejahtera

Mayoritas petani di Indonesia merupakan rumah tangga usaha pertanian (RTUP) gurem. Mereka adalah rumah tangga yang menggunakan/menguasai lahan (pertanian dan tempat tinggal) kurang dari 0,50 hektare.

Gurem merupakan kata kiasan yang dapat diartikan sebagai serangga sangat kecil, hampir tidak kelihatan, dan kerap tidak diperhitungkan.

Petani gurem merupakan petani kecil dengan dengan jumlah banyak serta masih mendominasi petani pada umumnya di Indonesia.

Hasil Sensus Pertanian 2023 mencatat bahwa jumlah RTUP gurem mencapai 60,84 persen dari seluruh rumah tangga usaha pertanian. Angka ini bahkan meningkat 5,51 persen poin dibandingkan kondisi pada 2013 sebesar 55,33 persen.

Populasi petani gurem yang seharusnya bisa ditekan sebagai representasi dari keberhasilan pembangunan pertanian terutama berkaitan dengan pengentasan dari kemiskinan, alih-alih menurun, malah justru mengalami peningkatan.

Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com