Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Setyo Budiantoro
Dosen

Nexus Strategist Perkumpulan Prakarsa dan Pengajar Pasca-Sarjana Universitas Udayana

Mengapa Malaysia dan Singapura Hambat Industri Semikonduktor Indonesia?

Kompas.com - 14/05/2024, 10:28 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

MENTERI Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, baru-baru ini mengungkapkan ketidaksenangan Indonesia terhadap respons Singapura dan Malaysia terkait rencana pengembangan industri semikonduktor di Pulau Rempang, Kota Batam.

Menurut Airlangga, dalam Seminar Ekonomi "Perspektif Pembangunan dan Pertumbuhan Ekonomi Menuju Indonesia Emas 2045" di Kolese Kanisius, ada upaya untuk menggagalkan proyek ini.

Investasi yang dijadwalkan sebesar 12 miliar dollar AS ini diharapkan menjadi langkah monumental bagi Indonesia untuk bersaing dalam pasar semikonduktor global, yang merupakan aspek kunci untuk kemajuan teknologi dan peningkatan keamanan nasional.

Semikonduktor adalah komponen krusial dalam hampir semua teknologi modern, dari ponsel pintar hingga satelit, dan menjadi pilar penting dalam persaingan teknologi global.

Sebagai inti dari kemajuan dalam komunikasi, komputasi, dan penyimpanan data, semikonduktor juga sangat vital untuk industri pertahanan dan keamanan.

Dengan membangun kapasitas produksi semikonduktor domestik, Indonesia berambisi mengurangi ketergantungan pada impor dan menempatkan diri sebagai pemain penting dalam rantai nilai global.

Konflik dengan Singapura dan Malaysia, yang sudah memiliki industri semikonduktor lebih matang, mencerminkan tantangan lebih luas negara-negara yang berusaha meningkatkan kompleksitas ekonominya (economic complexity) dalam konteks ekonomi politik global.

Ketegangan geopolitik serupa terlihat dalam hubungan dagang antara Amerika Serikat dan China. AS telah mengimplementasikan berbagai pembatasan yang menghambat kemajuan teknologi semikonduktor China, termasuk larangan impor peralatan penting, sebagai strategi untuk mempertahankan keunggulan teknologi dan keamanan nasional.

Pertumbuhan industri semikonduktor global menunjukkan tren positif, dengan permintaan yang meningkat didorong kecanggihan teknologi AI dan mobilitas listrik.

Indonesia, dengan inisiatif mobil listriknya, membutuhkan kapasitas semikonduktor yang mumpuni untuk mendukung transisi ke kendaraan lebih ramah lingkungan dan efisien.

Kebutuhan ini meliputi tidak hanya kendaraan itu sendiri, tetapi juga infrastruktur pendukung seperti stasiun pengisian dan sistem manajemen energi yang memanfaatkan teknologi semikonduktor untuk efisiensi energi maksimal.

Investasi besar telah dilakukan oleh negara-negara seperti Jerman dan Spanyol, yang masing-masing menginvestasikan 13 miliar dollar AS dan 3 miliar dollar AS untuk memperkuat industri semikonduktor mereka.

Keterlibatan ini menunjukkan bahwa pasar global mengakui potensi besar industri tersebut.

Airlangga juga menyebutkan bahwa jika kerja sama dengan Amerika Serikat tidak terwujud, Indonesia sudah menyiapkan alternatif untuk bekerja sama dengan China, menunjukkan kesiapan Indonesia untuk mendiversifikasi kemitraannya dalam mencapai tujuan industri.

Korea Selatan dan Taiwan, sebagai pemimpin global dalam industri semikonduktor, telah membuat investasi signifikan dalam penelitian dan pengembangan yang mendorong inovasi dan produksi.

Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com