Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Di IPA Convex 2024, Pertamina, Petronas, dan MedcoEnergi Sepakat Prioritaskan Kolaborasi

Kompas.com - 14/05/2024, 20:43 WIB
Haryanti Puspa Sari,
Aprillia Ika

Tim Redaksi

TANGERANG, KOMPAS.com - Industri hulu migas harus menghadapi tantangan selain harus memenuhi kebutuhan energi yang semakin meningkat, para pelaku usaha juga diminta untuk menekan emisi karbon yang dihasilkan dari kegiatan operasi produksi.

Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Nicke Widyawati mengatakan, sebagai perusahaan milik negara, Pertamina diamanatkan untuk bisa memenuhi kebutuhan energi.

Ia mengatakan, Pertamina menganggarkan lebih dari 62 persen Capital Expenditure (Capex) untuk program pemenuhan kebutuhan energi.

"Kita mau meningkatkan produksi dengan kondisi saat ini tapi takes time, tapi tetap kami coba dengan menganggarkan capex 62 persen untuk bisa memenuhi kebutuhan energi. 15 persen untuk low karbon business kita support target pemerintah, kita ada alokasi besar CCS, bioenergi," kata Nicke dalam IPA Convex 2024 di ICE BSD, Tangerang, Selasa (14/5/2024).

Baca juga: IPA Convex Ke-48: Momentum Kebangkitan Industri Migas Butuh Solusi Kebijakan

Menurut Nicke, sebagai badan usaha, Pertamina juga dituntut menghasilkan profit atau keuntungan.

Selain itu, kata dia, Pertamina didorong untuk berkontribusi dalam upaya mencapai target mengejar Net Zero Emissions (NZE).

Ia mengatakan, salah satu langkah Pertamina, untuk mengejar peningkatan produksi sekaligus menekan emisi karbon adalah dengan menginisiasi penerapan teknologi CCS/CCUS.

"Kami juga memprioritaskan CCS/CCUS, dengan storage potensial ada 16 proyek CCS/CCUS berjalan, 11-nya digarap Pertamina. Kami Targetkan injeksikan CO2 di CCS block dengan volume 7.000 ton pada tahun 2030," ujarnya.

Baca juga: Kementerian ESDM Lelang 5 Blok Migas di IPA Convex 2024, Ini Daftarnya

Senada dengan Nicke, President and Group Ceo Petronas Tan Sri Tengku Muhammad Taufik mengatakan, apa yang dihadapi Pertamina dihadapi juga oleh Petronas.

Ia mengatakan, jalan terbaik untuk menghadapi tantangan tersebut adalah dengan melakukan kolaborasi.

Taufik mengatakan, Petronas telah menginisiasi kolaborasi dan kemitraan di 20 negara, termasuk Indonesia. Selain itu, kebutuhan untuk berkolaborasi semakin besar dengan adanya proyeksi kebutuhan investasi yang tidak sedikit dalam upaya menjalankan transisi energi.

"Transisi energi butuh modal sangat besar sekitar 2 triliun dolar AS. Kita harus berkolaborasi. Waktu untuk berkompetisi sudah selesai. Tidak ada perusahaan atau negara manapun bisa lakukan ini sendiri. Harus ada kolaborasi," kata Taufik.

Baca juga: Medco Energi Bantu Ratusan Petani di Sumsel Budidaya Karet Organik

 


Dalam kesempatan yang sama, CEO MedcoEnergi Roberto Lorato mengatakan, kompleksitas yang dihadapi oleh perusahaan energi terutama di sektor hulu migas memang sangat tinggi.

Apalagi, kata dia, adanya amanat untuk mengimplementasikan transisi energi serta dekarbonisasi. Untuk itu, komitmen untuk menerapkan ESG dalam perusahaan jadi kunci.

Roberto mengatakan, pihaknya akan terus melanjutkan program yang fokus dalam transisi energi melalui dekarbonisasi operasi melalui ekspansi bisnis gas, EBT seperti panas bumi dan melalui proyek Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS).

"Kompleksitas memang tinggi. Transisi energi ini fundamental yang harus dikejar, tapi memang butuh dana besar serta teknologi. Kita mantain semuanya dengan komitmen ESG," kata Roberto.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.



Terkini Lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com