Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Prospek Reksadana Campuran Dinilai Masih Menarik, Ini Alasannya

Kompas.com - 14/05/2024, 22:46 WIB
Nur Jamal Shaid

Penulis

JAKARTA, KOMPAS.com - Kinerja reksadana campuran masih belum menunjukkan tajinya sepanjang tahun ini. Meski begitu, produk investasi ini dinilai masih memiliki prospek yang cukup baik.

Berdasarkan data Infovesta Utama, secara industri, kinerja reksadana campuran mencatatkan return negatif 1,99 persen MoM pada April 2024. Sementara sejak awal tahun kinerjanya juga mencetak return negatif 1,12 persen YtD.

Head of Business Development Division Henan Putihrai Asset Management (HPAM) Reza Fahmi mengatakan, lemahnya kinerja produk ini di April karena adanya arus keluar dana asing pada akhir Maret 2024. Sehingga memberikan tekanan terhadap rupiah dan menyebabkan penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Baca juga: Pemerintah Kantongi Rp 21,36 Triliun dari Lelang 7 Seri Surat Utang Negara

Turunnya IHSG juga disebabkan oleh adanya sengketa hasil Pemilu. Lalu, tertekannya kinerja sektor transportasi, teknologi, dan properti.

"Faktor global seperti perang Israel-Iran dan inflasi di Amerika Serikat (AS) yang masih tinggi, mempengaruhi kebijakan suku bunga," ujarnya, Selasa (14/5/2024).

Meski kinerjanya tertekan, Reza menilai reksadana campuran masih menarik sebagai pilihan investasi. Sebab, potensi penguatan harga obligasi dan saham yang menjadi aset dasarnya.

Baca juga: OJK Tindak 45 Iklan Keuangan yang Langgar Aturan pada Kuartal I-2024

"Inflasi di Indonesia dan AS yang dapat mempengaruhi harga obligasi, kondisi geopolitik global yang mempengaruhi pasar komoditas dan saham, serta pertumbuhan ekonomi Indonesia yang solid dan meningkatnya optimisme masyarakat," sebutnya.

Tertekannya reksadana campuran secara industri turut menekan kinerja produk reksadana campuran HPAM, salah satunya HPAM Flexi Plus yang turun 1,62 persen MoM. Namun, produk tersebut masih mampu tumbuh 2,24 persen Ytd.

Reza menuturkan, guna memaksimalkan return pihaknya menerapkan prinsip strategi long-bias yang berfokus pada pemimpin industri dan perusahaan dengan kisah pertumbuhan yang menarik.

Baca juga: Asosiasi Vape Gencarkan Edukasi untuk Kurangi Kebiasaan Merokok

Untuk porsi fixed income, HPAM menilai dari keseimbangan yield dan likuiditas, dan juga kondisi makro ekonomi.

Proporsi atau racikan dibuat untuk memaksimalkan pengembalian yang disesuaikan untuk investasi dengan jangka waktu yang panjang, namun juga memasukkan patokan-patokan yang dapat membantu dalam memitigasi risiko.

"Kami seringkali memberikan usulan bagi nasabah untuk melihat long-term gain dan melalui volatilitas dan agar tidak panik jika melihat return negatif dalam jangka pendek," imbuhnya. (Reporter: Sugeng Adji Soenarso | Editor: Wahyu T.Rahmawati) 

Baca juga: Cara Bayar Iuran BPJS Kesehatan lewat BRImo dengan Mudah

Artikel ini telah tayang di Kontan.co.id dengan judul Meski Tertekan, Prospek Reksadana Campuran Dinilai Masih Menarik

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com