Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Strategi BSI Hadapi Era Biaya Dana Mahal Imbas Kenaikan Suku Bunga Acuan

Kompas.com - 16/05/2024, 12:00 WIB
Agustinus Rangga Respati,
Aprillia Ika

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) mengatakan, kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) akan memengaruhi pertumbuhan minat pada produk deposito.

Direktur Utama BSI Hery Gunardi menjelaskan, kenaikan suku bunga acuan memang akan memengaruhi pertumbuhan minat nasabah ke produk deposito. Namun begitu, hal ini tidak akan begitu terasa pada tabungan dan giro.

"Terutama dampaknya itu adalah pada time deposit, deposito, tapi kalau misalnya tabungan sama giro mungkin tidak terlalu impact," kata dia ketika ditemui di Jakarta, Rabu (15/5/2024).

Ia menambahkan, BSI mungkin akan sedikit mengalami kenaikan biaya dana atau cost of fund. Meskipun demikian, hal itu dinilai tidak akan terlalu krusial memengaruhi kinerja perusahaan.

"Karena BSI itu komposisi dana murahnya lebih dari 60 persen, karena kalau bank yang dana murahnya itu cukup kuat itu impact terhadap kenaikan suku bunga acuan tidak terlalu besar," imbuh dia.

Baca juga: BSI Luncurkan Sukuk Berkelanjutan, Simak Imbal Hasil yang Ditawarkan

Lebih lanjut, Hery menjelaskan, BSI juga menahan jangan sampai kenaikan suku bunga acuan BI tersebut ditransfer ke suku bunga pembiayaan nasabah.

Itu dapat dilakukan karena kondisi permodalan yang kuat dan rasio likuiditas BSI yang terjaga.

"Belum, saat ini belum (ada kenaikan suku bunga pembiayaan), masih stabil," terang dia.

BSI selalu menjaga laju pertumbuhan dana murah yang terdiri dari tabungan dan giro. Salah satunya dengan tabungan wadiah, tempat nasabah menempatkan dananya atau minta dikelola oleh BSI tanpa meminta return atau imbalan apapun, dengan Cost of Fund (CoF) hampir 0 persen.

Adapun, dalam menghadapi proyeksi pertumbuhan ekonomi yang melambat, Hery bilang, perbankan harus pandai memilih target market yang akan dituju. Seiring dengan itu, pasar syariah masih memiliki target yang sangat luas, karena banyak masyarakat yang belum terlayani.

"Kami tidak ada masalah dengan demand, tetapi masalahnya dari supply, dari kami sendiri," tandas dia.

Baca juga: Potensi Ekonomi Syariah Besar, BSI Gelar Pameran Produk Halal


Sebagai informasi, BSI melaporkan pengumpulan dana pihak ketiga (DPK) tumbuh 10,43 persen secara tahunan (yoy) mencapai Rp 297 triliun sampai kuartal I-2024. Jumlah tesebut didominasi oleh dana murah.

Jumlah tabungan di BSI tumbuh 8,75 persen dan giro tumbuh hingga 10,52 persen.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com