Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Tak Hanya Pendapatan Daerah, Smelter Nikel di Morowali Tumbuhkan Usaha Masyarakat Sekitar

Kompas.com - 16/05/2024, 17:20 WIB
Tim Konten,
Sheila Respati

Tim Redaksi

KOMPAS.com – Kebijakan hilirisasi nikel seolah membawa nafas baru bagi perekonomian Indonesia.

Sejak pemerintah melarang ekspor bahan mentah nikel pada 2020, nilai ekspor nikel meningkat drastis menjadi Rp 504,2 triliun pada 2022. Padahal sebelum kebijakan hilirisasi, nilai ekspor bahan mentah nikel nilainya hanya Rp 15 triliun.

Tidak hanya mendongkrak nilai tambah, kebijakan hilirisasi nikel juga memberi efek positif terhadap pendapatan daerah dan ekonomi masyarakat. Hal ini terlihat di Morowali Utara, Sulawesi Tenggara (Sulteng) yang menjadi lokasi pengolahan nikel.

Dilansir dari laporan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) pada 2015, dilaporkan bahwa industri pengolahan dan pemurnian (smelter) mineral menjadi pendukung pertumbuhan ekonomi Sulteng.  

Hal ini tercermin dalam data pendapatan regional bruto Sulteng selama tiga tahun berturut-turut, yakni mulai 2012 hingga 2014.

Pada 2012, pendapatan regional bruto Sulteng  berada di angka Rp 59,78 triliun. Sejak industri smelter beroperasi, pendapatan regional Sulteng mulai naik signifikan menjadi Rp 64,27 triliun pada 2013 dan kembali meningkat menjadi Rp 68,30 triliun pada 2014.

Fenomena yang sama juga terjadi pada laju pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Pada kuartal empat di 2020, PDRB Sulteng berada di angka 4,4 persen year-on-year (YoY). Namun pada kuartal empat di 2023, angka ini naik dengan persentase 13,06 persen YoY.

Dikutip dari laporan Badan Pusat Statistik Sulteng (BPS) pada 2023,  terdapat tiga  industri yang menyumbang PDRB terbanyak. Salah satunya adalah industri pengolahan yang menaungi  industri  smelter. 

Beroperasinya perusahaan smelter juga memberi dampak positif bagi penyerapan sumber daya manusia di Sulteng. Masih dikutip dari sumber yang sama, jumlah tingkat pengangguran terbuka (TPT) di provinsi ini juga ikut menurun. 

Baca juga: PT GNI Raih Penghargaan PNBP dari Kemenaker atas Kontribusi Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Pada Agustus 2020, TPT Sulteng berada di angka 3,77 persen sementara pada Agustus 2023 jumlahnya menurun menjadi 2,95 persen. Penurunan ini mengindikasikan adanya perbaikan kondisi ketenagakerjaan di provinsi tersebut.

Salah satu industri pengolahan yang membuka peluang serapan tenaga kerja adalah smelter. Contohnya, perusahaan  smelter PT Gunbuster Nickel Industry (PT GNI).

Sejak beroperasi pada Desember 2021, area sekitar smelter PT GNI selalu diramaikan oleh para pedagang kaki lima. Salah satu dari mereka adalah Suwardi. Ia merupakan salah satu penjual siomay yang ada di sekitar kawasan smelter dan sering menjajakan dagangannya kepada para karyawan PT GNI.

“Saya sudah berjualan selama empat tahun. Saya mulai berjualan siomay semenjak adanya PT GNI. Sebelum ada PT GNI saya hanya berkebun,” ungkapnya.

Setelah berjualan siomay ini, ia mengaku pendapatannya meningkat signifikan.

“Banyak sekali perubahan termasuk penghasilan, saat ini saya sudah bisa membuat kos-kosan,” ujar Suwardi.

Halaman Berikutnya
Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com