Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Lahan Kering di RI Besar, Berpotensi Jadi Hutan Tanaman Energi Penghasil Biomassa

Kompas.com - 20/05/2024, 17:38 WIB
Aprillia Ika

Editor

JAKARTA, KOMPAS.com - pelaksanaan program co-firing atau substitusi batu bara dengan biomassa untuk pembakaran di Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) dinilai cocok dilakukan di Indonesia. Sebab, potensi lahan kering di Indonesia terhitung cukup besar.

Kepala Pusat Penelitian Surfaktan dan Bioenergi (SBRC) IPB University Meika Syahbana Rusli menambahkan, selain berdampak positif ke perekonomian rakyat, program co-firing biomassa pada PLTU juga memiliki dampak positif pada upaya pengurangan emisi Gas Rumah Kaca (GRK).

"Lahan kering cocok ditanami untuk tanaman energi. Lahan kering ini masih banyak yang tidak produktif, yang hanya ditumbuhi alang-alang, rumput-rumputan atau pepohonan yang tidak termanfaatkan," kata Meika melalui keterangannya, Senin (20/5/2024).

"Di Pulau Jawa, ada 1 juta hektar lahan kering yang potensial dimanfaatkan untuk tanaman energi," tambahnya.

Baca juga: Dorong Co-firing Biomassa, Anak Usaha PLN Tanam 100.000 Bibit Pohon di Gunung Kidul

Program hutan energi

Menurut Meika, program hutan energi dapat menjadi solusi yang tepat untuk mendorong pemanfaatan biomassa dalam rangka mengejar target pengurangan emisi lewat program cofiring PLTU. Selain, memanfaatkan limbah serbuk gergaji.

Salah satu program hutan tanaman energi telah digagas oleh PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) di beberapa wilayah seperti di Cilacap Jawa Tengah, Tasikmalaya Jawa Barat dan Gunung Kidul Yogyakarta.

Di wilayah tersebut, pemanfaatan lahan yang terbuka sebagai hutan tanaman energi dapat mengatasi permasalahan lahan kritis. Ada beberapa jenis tanaman yang dapat dimanfaatkan seperti Kaliandra, Gamal dan Lamtoro.

Program ini juga berpotensi mendorong pertambahan nilai ekonomi untuk masyarakat. Pemanfaatan biomassa dari pohon yang ditanami oleh masyarakat dapat berdampak positif untuk perekonomian masyarakat.

"Jadi bisa juga menimbulkan sirkular ekonomi di masyarakat. Nanti, dahan-dahannya bisa dimanfaatkan untuk bahan bakar biomassa sementara daunnya dapat digunakan untuk pakan ternak," pungkas Meika.

Selain itu, implementasi program hutan energi dengan melibatkan masyarakat pun diharapkan dapat ikut mendorong terbentuknya organisasi kelompok tani di wilayah-wilayah yang menjadi sasaran program.

Baca juga: Kebutuhan Biomassa untuk Campuran Bahan Bakar PLTU Diprediksi Mencapai 10,2 Juta Ton pada 2025

Potensi biomassa untuk co-firing PLTU

Sebagai informasi, kebutuhan biomassa untuk campuran batu bara untuk bahan bakar Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) milik PLN Grup diprediksi terus meningkat dari 2024 ke 2025.

Pada 2024, kebutuhan biomassa untuk 47 Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) milik PLN Grup diestimasi akan meningkat hingga 220 persen.

Dengan demikian, kebutuhan biomassa untuk co-firing batu bara tersebut menjadi 2,2 juta ton tahun ini, sementara sebelumnya pada 2023 sebesar 1 juta ton.

Menurut Sekretaris Perusahaan PLN EPI Mamit Setiawan, meningkatnya kebutuhan biomassa tersebut lantaran penggunaan biomassa ini mampu mereduksi emisi di PLTU, dan mengurangi porsi penggunaan energi fosil.

Walau kebutuhan biomassa naik, Mamit bilang penggunaan biomassa tak akan mengerek biaya pokok produksi pembangkit.

Sebab, harga biomassa yang terjangkau bahkan berbanding 1:1 dengan batu bara membuat biomassa sangat ekonomis digunakan.

"Saat ini harga batu bara 5 - 6 sen dollar AS (sekitar Rp 7.795 - 9.354) per kilo Watt hour (kWh). Biomassa juga setara dengan itu. Jika dibandingkan dengan EBT lain, biomassa ini yang paling murah," ujar Mamit melalui keterangan pers, Minggu (3/3/2024).

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.



Terkini Lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com