Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Penurunan Yield Obligasi Tenor 10 Tahun Indonesia Berpotensi Tertahan

Kompas.com - 20/05/2024, 23:25 WIB
Nur Jamal Shaid

Penulis

JAKARTA, KOMPAS.com - Pergerakan yield obligasi global bergerak menurun seiring dengan ekspektasi penurunan suku bunga Federal Reserve (The Fed). Namun, penurunan yield obligasi Indonesia berpotensi tertahan.

Senior Economist KB Valbury Sekuritas Fikri C. Permana mengatakan, hal ini tercermin dari pergerakan yield obligasi acuan tenor 10 tahun yang kembali naik ke 6,9 persen. Menurutnya, hal ini disebabkan tekanan pada rupiah, khususnya dari hasil data transaksi berjalan (current account).

Bank Indonesia (BI) melaporkan, terjadi defisit current account sebesar 2,2 miliar dollar AS atau setara dengan 0,6 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Baca juga: Gaji ke-13 untuk Pensiunan Cair Mulai 3 Juni 2024

"Data tersebut menjadi hal negatif, sehingga penurunannya berpotensi terbatas," ujarnya kepada Kontan.co.id, Senin (20/5/2024).

Dengan kondisi saat ini, Fikri menilai di semester I-2024, pergerakan yield obligasi tenor acuan 10 tahun Indonesia masih akan volatile. Sebab, masih ada kemungkinan yield obligasi 10 tahun Indonesia berada dalam kisaran 6,6 persen sampai 6,8 persen.

"Namun, ini dengan catatan current account di kuartal II-2024 defisitnya lebih rendah dan trade surplus tetap terjaga positif. Jika tidak tercapai, maka yield berada di 6,8 persen sampai 7 persen," paparnya.

Baca juga: Masuk ke Beberapa Indeks Saham Syariah, Elnusa Terus Tingkatkan Transparansi Kinerja

Pada semester II-2024, Fikri memproyeksikan yield obligasi tenor acuan 10 tahun bisa lebih baik seiring ekspektasi penurunan Fed Rate yang lebih dekat. Saat ini, ekspektasi penurunannya di September dan satu lagi terjadi di Desember.

Sehingga, ia memperkirakan yield obligasi tenor acuan 10 tahun bisa kembali ke 6,3 persen sampai 6,6 persen. Hanya saja, catatannya adalah adanya perubahan pemerintahan sehingga akan ada ruang fiskal yang berubah.

Ia menyebut, jika menilik pada RAPBN, asumsi makro saat ini, yield SUN di rentang 6,7 persen sampai 7,3 persen. Dengan asumsi tersebut, Fikri menilai pemerintahan baru harus menyesuaikan defisit yang lebih terbatas.

"Lalu, jika melihat hal tersebut, kemungkinan defisit itu akan ditambal dengan suplai bond yang lebih banyak seiring dengan kemungkinan pengeluaran pemerintah yang lebih besar," imbuhnya. (Reporter: Sugeng Adji Soenarso | Editor: Anna Suci Perwitasari) 

Baca juga: ShariaCoin Edukasi Keuangan Keluarga dengan Tabungan Emas Syariah

Artikel ini telah tayang di Kontan.co.id dengan judul Penurunan Yield Obligasi Tenor 10 Tahun Indonesia Berpotensi Tertahan, Ini Alasannya

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com