Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Apa Itu Negara Dunia Ketiga dan Kenapa Berkonotasi Negatif?

Kompas.com - 22/05/2024, 10:14 WIB
Muhammad Idris

Penulis

KOMPAS.com - Pernahkah mendengar istilah negara dunia ketiga? Sebutan ini kerap dipakai orang-orang di negara-negara Barat untuk menyebut negara-negara berkembang dan miskin, tak terkecuali Indonesia.

Saat ini, negara dunia ketiga adalah istilah berkonotasi negatif dan mengejek dari masyarakat yang tinggal di negara-negara maju. Konotasi buruk negara dunia ketiga tepatnya mulai populer sejak abad ke-21.

Sebelum abad ke-21, negara dunia ketiga adalah adalah sebutan untuk negara-negara di dunia yang tidak termasuk dalam kelompok geo-politik era Perang Dingin.

Kala perang dingin, muncul istilah negara dunia pertama yang diwakili negara-negara yang menganut ideologi kapitalis-demokratis seperti Amerika Serikat, Eropa Barat, Kanada, Korea Selatan, Jepang, Australia, dan sekutu-sekutunya.

Baca juga: Khrushchyovka, Cara Uni Soviet Sediakan Rumah Murah bagi Warganya

Negara-negara dalam kelompok negara dunia pertama inilah yang sampai saat ini kerap disebut Blok Barat. Sementara negara-negara dunia kedua diwakili oleh Uni Soviet, Eropa Timur, dan para sekutunya.

Negara-negara lainnya, yang tidak termasuk dalam kelompok negara pertama dan kedua, dikategorikan sebagai negara dunia ketiga. Kebanyakan negara dunia ketiga adalah negara dari Afrika, Asia, dan Amerika Latin.

Konotasi negatif negara dunia ketiga

Mengutip Investopedia, pasca-Perang Dingin, istilah negara dunia ketiga kini bergeser, berganti menjadi negara-negara berkembang, negara miskin, atau negara terbelakang secara ekonomi.

Sebutan negara dunia ketiga sekarang dianggap sebagai ungkapan yang berarti ketinggalan zaman dan menghina yang digunakan untuk menggambarkan negara-negara yang terbelakang secara ekonomi dan memiliki sedikit atau tidak ada afiliasi dengan negara-negara besar di dunia.

Baca juga: Mengapa Uni Soviet dan Komunis Identik dengan Palu Arit?

Namun sejatinya, masih ada lagi kasta terbawah, yakni negara dunia keempat. Istilah ini dipakai untuk menggambarkan negara-negara yang sepenuhnya terisolasi dari politik dan ekonomi global, seperti Korea Utara.

Karena sering dipakai sebagai olok-olokan, itu sebabnya istilah ini tidak pernah dipakai secara resmi oleh lembaga seperti IMF dan Bank Dunia.

Saat ini, terminologi yang lebih disukai mengkategorikan suatu negara di luar negara maju adalah negara berkembang, negara terbelakang, atau negara berpendapatan rendah dan menengah alias Low- or Middle-Income Country (LMIC).

Negara dunia ketiga adalah negara berkembang?

Apakah masih relevan menggunakan sebutan negara dunia ketiga untuk menyebut negara berkembang dan negara miskin? Indonesia negara dunia ketiga?

Mengklasifikasikan negara-negara ke dalam dunia pertama, kedua, ketiga, dan keempat adalah sebuah konsep yang diciptakan segera setelah berakhirnya Perang Dunia II pada tahun 1945 dan digunakan hingga runtuhnya Uni Soviet pada tahun 1991.

Baca juga: Mengapa Israel Begitu Kaya Raya?

Suatu negara sering kali dicirikan berdasarkan status ekonominya dan metrik ekonomi seperti produk domestik bruto (PDB), pertumbuhan PDB, PDB per kapita, pertumbuhan lapangan kerja, dan tingkat pengangguran.

Di negara-negara berkembang, tingkat produksi yang rendah dan karakteristik pasar tenaga kerja yang sulit biasanya dibarengi dengan tingkat pendidikan yang relatif rendah, infrastruktur yang buruk, kurangnya sanitasi, terbatasnya akses terhadap layanan kesehatan, dan biaya hidup yang lebih rendah.

Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com