Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

3 Hal yang Bisa Dilakukan Gen Z untuk Ubah Kecemasan jadi Produktivitas

Kompas.com - 27/05/2024, 18:00 WIB
Kiki Safitri,
Aprillia Ika

Tim Redaksi


NEW YORK, KOMPAS.com - Psikolog sosial di Stern School of Business di Universitas New York, Jonathan Haidt menilai akses terus-menerus ke media sosial yang dihadirkan oleh ponsel pintar, telah menyebabkan sejumlah masalah psikologis pada Gen Z.

Disampaikan dalam bukunya yang berjudul “The Anxious Generation: How the Great Rewiring of Childhood is Causing an Epidemic of Mental Illness” Haidt mengungkapkan sejumlah masalah yang dialami Gen Z, seperti masalah sosial, kurangnya jam tidur, hingga kecemasan

Dua dekade sebelmumnya, para ahli telah mengingatkan bahaya ponsel pintar yang tersambung dengan sumber listik bagi perkembangan otak anak. Di sisi lain, para ahli juga menemukan bahwa usia di bawah 30 tahun memiliki tingkat kebahagiaan yang lebih rendah dibandingkan mereka yang berada di usia 60 tahun.

Baca juga: Hampir 70 Persen Gen Z Memilih Jadi Pekerja Lepas, Apa Alasannya?

Peneliti utama Haidt dan ilmuwan peneliti asosiasi di NYU-Stern School of Business Zach Rausch mengatakan, anak-anak yang memiliki akses ke media sosial dan perangkat pintar seperi iPhone di sekolah dasar dan menengah lebih cemas dan kurang produktif.

“Tujuan dari teknologi adalah menjadi alat yang kita gunakan untuk mencapai tujuan kita,” katanya, dikutip dari CNBC.

“Jika mereka tidak melakukan hal tersebut, mereka akan merugikan dan mengorbankan tujuan yang seharusnya mereka gapai,” ungkap Rausch.

Namun, ada cara untuk mengurangi dampak negatif ini. Berikut tiga hal yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kebahagiaan dan tetap fokus, dengan mengubah kecemasan menjadi produktifitas:

1. Gunakan jam alarm

Ponsel yang selalu menemani kamu untuk berinteraksi sebelum tidur dan yang pertama kamu sentuh saat bangun dapat berdampak buruk pada tidur, dan menambah tingkat stres.

Memiliki jam alarm dan meletakkan perangkat pintar kamu di luar kamar tidur dapat menciptakan jarak fisik dan mental dari media sosial.

Baca juga: Nyaris 10 Juta Gen Z Pengangguran, Ternyata Ini Akar Masalahnya

2. Gunakan ponsel untuk bersosialisasi

Seringkali, percakapan di Instagram atau pesan teks tidak berpindah dari digital ke fisik. Hal itu bahkan terus menerus dilakukan setiap harinya.

“Kami menggunakan ponsel untuk terhubung satu sama lain hingga akhirnya bisa bertemu langsung,” kata Rausch.

“Dunia online justru sebaliknya. Kami terhubung untuk tetap di sana, dan argumen kami adalah hal itu tidak cukup,” tambahnya.

Profesor di Universitas Yale Laurie Santos juga menyampaikan hal serupa. Menurut dia, setiap penelitian yang ada mengenai orang-orang bahagia menunjukkan bahwa orang-orang bahagia lebih bersosialisasi.

“Mereka menghabiskan lebih banyak waktu secara fisik di sekitar orang lain, dan mereka menginvestasikan waktu bersama teman-teman dan anggota keluarga mereka,” kata Santos.

Halaman:


Terkini Lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com