Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Agar Tak "Rontok", BPR Harus Jalankan Digitalisasi dan Modernisasi

Kompas.com - 28/05/2024, 16:39 WIB
Aprillia Ika

Editor

JAKARTA, KOMPAS.com - Penutupan Bank Perekonomian Rakyat (BPR) baik konvensional dan syariah (BPRS) menjadi tren yang tak terelakkan setiap tahunnya di Indonesia. Padahal, BPR dan BPRS masih memiliki ruang tumbuh yang besar di Tanah Air.

Data Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) juga menyebut, rata-rata ada 6 BPR yang tutup setiap tahunnya. Untuk itu, sejak tahun 2023 lalu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus menghimbau BPR dan BPRS untuk menjalankan digitalisasi agar lebih efisien dalam melakukan proses bisnis.

Apa saja manfaatnya?

Menurut Fanly Tanto, Country Director Indonesia dari Google Cloud, ada sejumlah manfaat digitalisasi dan modernisasi BPR, terutama memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) dan machine learning.

Pertama, bisa meningkatkan kompetensi BPR dan BPRS dan masyarakat pedesaan.

"Beragam hal bisa diciptakan untuk perkembangan industri BPR/BPRS ini, misalnya menggunakan teknologi artificial intelligence (AI) dan algoritma machine learning untuk memudahkan proses verifikasi data nasabah, penyusunan marketing plan, hingga mendeteksi adanya aktivitas yang tidak wajar," katanya melalui keterangan pers, Selasa (28/5/2024).

Baca juga: Daftar 12 BPR yang Dicabut Izinnya Sepanjang 2024

Kedua, dengan memanfaatkan teknologi, sistem pembukaan rekening juga bisa sangat mudah, proses pendaftaran menjadi lebih sederhana, mempersingkat waktu, mudah dijangkau kapan saja dan di mana saja, mengingat saat ini banyak nasabah yang menuntut pelayanan 24 jam.

Selanjutnya, penggunaan Generative AI bisa mendorong BPR dan BPRS untuk mengelevasi bisnis mereka secara cepat dan efisien.

"Seperti, meningkatkan kemampuan teknologi untuk memaksimalkan customer service, meningkatkan efisiensi operasional, dan mentransformasi manajemen finansial data," tambah Komang Mertayasa, Artifical Intelligence & Machine Learning Engineer dari Devoteam G Cloud.

Baca juga: BPR Bangkrut karena Kecurangan Pengurus, Ini Upaya OJK

Menggandengkan BPR dengan AI

Untuk mengoptimalkan digitalisasi di Financial Services Industry (FSI), Devoteam G Cloud dan Google Cloud bekerja sama menyelenggarakan sebuah acara bertajuk “Getting to Know Google Cloud for The Financial Services Industry”.

Acara ini dihadiri oleh lebih dari 100 BPR di seluruh Indonesia di Jakarta, pada tanggal 12 Mei 2024 lalu. Devoteam G Cloud sendiri merupakan perusahaan konsultan IT multinasional asal Prancis yang membangun budaya inovasi melalui teknologi Google Cloud dengan 2.300 konsumen di 20 negara.

Acara ini bertujuan untuk memperkenalkan BPR dan BPRS dengan sederet perangkat Google Cloud yang bermanfaat untuk mengelevasi bisnis mereka.

Baca juga: Banyak BPR Tutup, OJK: Tidak Mungkin Kami Selamatkan...

Bambang Supriyanto, Kepala OJK Kediri, yang turut hadir dalam event tersebut mengapresiasi kesempatan yang diberikan oleh Google Cloud beserta Devoteam G Cloud yang telah memberikan banyak wawasan kepada BPR dan BPRS.

"Terutama, tentang pemanfaatan produk Google untuk digital marketing, serta peluang pemanfaatan sederet kemampuan Google Cloud untuk elevasi bisnis dan pemberian layanan yang lebih optimal kepada nasabah, diiringi dengan security system yang andal," katanya.

Halaman:


Terkini Lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com