Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Udin Suchaini
ASN di Badan Pusat Statistik

Praktisi Statistik Bidang Pembangunan Desa

"Student Loan": Memberi Peluang atau Jebakan Kemiskinan

Kompas.com - 29/05/2024, 06:17 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

SATU-satunya jalan peluang peningkatan kesejahteraan untuk memutus mata rantai kemiskinan adalah dengan menyekolahkan anak setinggi mungkin. Apalagi kantong kemiskinan yang erat kaitannya dengan pertanian masih dominan di Negeri ini.

Namun, apa jadinya jika mahasiswa dari keluarga pertanian setelah lulus justru meninggalkan pertanian dan semakin terbebani oleh hutang pinjaman biaya kuliah (student loan) yang terlanjur dinikmati?

Pertanian tidak menguntungkan

Di Indonesia, lapangan usaha pertanian mendominasi pencaharian sebagian besar keluarga. Hasil pendataan Potensi Desa (Podes) 2021 menunjukkan sebagian besar desa/kelurahan masyarakatnya bekerja di bidang pertanian, kehutanan dan perikanan, yang tersebar di 72.724 desa/kelurahan.

BPS mencatat, distribusi tenaga kerja yang bekerja di lapangan usaha pertanian pada Februari 2024 sebesar 28,64 persen. Sayangnya, hasil Sensus Pertanian 2023 menunjukkan ada sebanyak 17.000.000 lebih petani gurem.

Petani gurem biasanya mengusahakan tanaman semusim atau tanaman tahunan atau memelihara ternak dengan tujuan pemeliharaan ternak tertentu dan menggunakan lahan pertanian kurang dari 0,5 hektare. Tak heran, jika hasilnya pun tidak menguntungkan.

Padahal, teori ekonomi Malthusian atau teori ekonomi modern menggambarkan bagaimana pengusaha menjalankan usaha dengan modal sekecil-kecilnya untuk mendapat keuntungan sebesar-besarnya.

Sayangnya, usaha pertanian berbeda dengan usaha lainnya. Petani tidak bisa menentukan harga hasil panen, karena ketergantungan yang tinggi pada harga serapan pasar atau tengkulak.

Jika panennya berlebihan, maka harganya jatuh, bahkan tak mampu menutupi ongkos produksi.

Dampaknya, hasil pertanian bagi petani gurem hanya cukup untuk sekadar hidup, memenuhi kebutuhan makan sehari-hari. Padahal, kondisi ini erat dengan garis batas kemiskinan.

Ujungnya, petani gurem sebagai petani subsisten berakhir menjadi konsumen netto, bahkan besar pasak daripada tiang. Sementara, jika ada kebutuhan lain di luar makan seringkali mengandalkan penjualan aset maupun hutang.

Akumulasi beban

Bagi rumah tangga petani, gagal panen tidak hanya berarti kurang makan, namun otomatis tidak mampu memenuhi kebutuhan di luar makan. Menutupi kebutuhan ini, lazimnya rumah tangga bakal bekerja di sektor lain, menjual aset, maupun hutang.

Namun, jika yang dilakukan rumah tangga miskin menjual aset atau hutang, bakal mengalami akumulasi beban, terjebak dalam kemiskinan berkesinambungan.

Setidaknya ada empat kondisi akumulasi beban yang sering dijumpai. Pertama, kewajiban adat yang memberatkan rumah tangga miskin, seperti perhelatan pernikahan dan kematian.

Kedua, ketidakmampuan fisik karena sakit, kehamilan, hingga kecelakaan. Ketiga, pengeluaran tidak produktif jangka pendek, seperti biaya sekolah, membeli HP, hingga barang-barang konsumtif lainnya.

Keempat, pengeluaran tambahan lainnya seperti ganti rugi, dll.

Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com