Kompas.com - 05/03/2013, 11:47 WIB
EditorErlangga Djumena

A Prasetyantoko

Apa beda praktik penipuan investasi emas yang kita alami baru-baru ini dengan investasi skema ponzi model Bernard Madoff di AS?

Prinsipnya sama saja, berawal dari sikap aji mumpung yang bertemu mental ingin cepat kaya atau greedy. Dari sisi penawaran dan permintaan, ini sudah cukup menciptakan penyimpangan perilaku investasi, baik sederhana maupun canggih. Kasus penipuan investasi emas yang melibatkan Raihan Jewellery dan Golden Traders Indonesia Syariah (GTIS) menyita perhatian publik karena menyeret nama-nama besar. Kasus ini menambah panjang daftar penipuan berkedok investasi di Indonesia.

Beberapa tahun lalu, muncul kasus PT Qurnia Subur Alam Raya (PT QSAR), G Cosmos, Voucher Key, dan lain-lain. Tak boleh dilupakan kasus Antaboga, disusul bail out Bank Century. Sebenarnya, penipuan mereka tergolong primitif. Memanfaatkan kekosongan regulasi dan pemahaman investor.

Justru yang merisaukan, jika hal seprimitif itu pun lolos dari pengamatan regulator, bagaimana dengan ”penipuan” yang melibatkan teknik dan metode kuantitatif tingkat lanjut? Madoff dihukum karena terbukti melakukan tindak pidana menjalankan investasi skema ponzi. Kerugian yang ditimbulkan lebih dari 50 miliar dollar AS, hampir setengah cadangan devisa kita saat ini. Pihak yang dirugikan pun bank-bank terkemuka, seperti HSBC, BNP Paribas, dan Santander (bank terbesar di Spanyol).

Ada yang menarik dalam persidangan kasus ini. Madoff yang pemilik Madoff Investment Securities mengatakan, semua negara mengembangkan sistem ponzi dalam mengelola keuangan publik. Mungkin fakta di negara maju memang begitu. Sementara masalah kita jauh lebih sederhana, tipu-menipu dan model korupsi primitif.

Perilaku ekonomi

Istilah ponzi sebenarnya mengambil nama mafioso Italia yang menetap di AS, yakni Charles Ponzi, yang menjalankan usaha dengan cara kotor melalui tipu muslihat untuk menumpuk keuntungan. Pemikir ekonomi beraliran strukturalis, Hyman Minsky, memaparkan secara teoretis perilaku agen ekonomi. Ada tiga karakteristik, yaitu mereka yang tergolong hedge, speculative, dan ponzi.

Mereka digolongkan hedge jika dalam mengelola usaha atau portofolio kekayaannya cenderung hati-hati dan menghindari risiko berlebihan. Speculative jika cenderung berani dalam mengambil keputusan sehingga kadang berada pada situasi berisiko. Sebagai ponzi apabila dengan sengaja membiarkan dirinya tidak mampu melunasi kewajibannya. Bahkan, jika seluruh asetnya dijual sekalipun, utang-utangnya tidak akan tertutup.

Meski bersifat kriminal, investasi skema ponzi ini bermain di wilayah elite dalam kesadaran masyarakat. Sama seperti GTIS atau QSAR, mereka menjual nama-nama besar sebagai endorser. Sistem pengelolaannya dibungkus sedemikian rapi dan sepertinya bonafide. Padahal, skema yang dijalankan sama sekali tidak bisa dipertanggungjawabkan.

Halaman:
Baca tentang


    Video Pilihan

    26th

    Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

    Terkini Lainnya

    Karena Ukraina Luhut Akui: Enggak Gampang Naikkan Harga TBS

    Karena Ukraina Luhut Akui: Enggak Gampang Naikkan Harga TBS

    Whats New
    Penumpang Kereta Meningkat Jelang Idul Adha, KAI Pastikan Prokes Diterapkan

    Penumpang Kereta Meningkat Jelang Idul Adha, KAI Pastikan Prokes Diterapkan

    Whats New
    Erick Thohir Yakin Bandara Kualanamu Bisa Dongkrak Hubungan Dagang RI dan India

    Erick Thohir Yakin Bandara Kualanamu Bisa Dongkrak Hubungan Dagang RI dan India

    Whats New
    Luhut Geram Minyak Sawit RI Diatur Malaysia: yang Benar Sajalah!

    Luhut Geram Minyak Sawit RI Diatur Malaysia: yang Benar Sajalah!

    Whats New
    Milenial, Simak Tips Mengatur Uang secara Bijak

    Milenial, Simak Tips Mengatur Uang secara Bijak

    Spend Smart
    Lima Tips Cuan 'Trading' Kripto Saat Kondisi Pasar Cenderung Turun

    Lima Tips Cuan "Trading" Kripto Saat Kondisi Pasar Cenderung Turun

    Earn Smart
    Risiko Global Meningkat, Bos OJK Sebut Sektor Jasa Keuangan Harus Waspada

    Risiko Global Meningkat, Bos OJK Sebut Sektor Jasa Keuangan Harus Waspada

    Whats New
    Harga Cabai hingga Bawang Naik, Luhut: Saya Usul Bupati Bikin Pertanian Kecil...

    Harga Cabai hingga Bawang Naik, Luhut: Saya Usul Bupati Bikin Pertanian Kecil...

    Whats New
    Kini Berusia 57 Tahun, Telkom Siap Bawa Indonesia Menuju Transformasi Digital

    Kini Berusia 57 Tahun, Telkom Siap Bawa Indonesia Menuju Transformasi Digital

    Rilis
    Kurangi Emisi 30 Persen pada 2030,  Ini Strategi Freeport Indonesia

    Kurangi Emisi 30 Persen pada 2030, Ini Strategi Freeport Indonesia

    Whats New
    Pasar Kripto Dalam Tren 'Bearish', Tokocrypto Gratiskan Biaya 'Trading' dan Beli Bitcoin

    Pasar Kripto Dalam Tren "Bearish", Tokocrypto Gratiskan Biaya "Trading" dan Beli Bitcoin

    Whats New
    Pemerintah Berkomitmen Kembangkan Literasi Keuangan bagi Petani hingga Nelayan

    Pemerintah Berkomitmen Kembangkan Literasi Keuangan bagi Petani hingga Nelayan

    Whats New
    IHSG Ditutup Menguat, Rupiah Masih di Level Rp 15.000 per Dollar AS

    IHSG Ditutup Menguat, Rupiah Masih di Level Rp 15.000 per Dollar AS

    Whats New
    Ke Depan, WNI Tak Perlu Tukar Uang Jika Pergi ke 4 Negara ASEAN Ini

    Ke Depan, WNI Tak Perlu Tukar Uang Jika Pergi ke 4 Negara ASEAN Ini

    Whats New
    PMN Lambat Cair, Penyelesaian Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung Terancam Mundur

    PMN Lambat Cair, Penyelesaian Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung Terancam Mundur

    Whats New
    komentar di artikel lainnya
    Close Ads
    Lengkapi Profil
    Lengkapi Profil

    Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.