Kompas.com - 02/06/2013, 18:45 WIB
EditorBambang Priyo Jatmiko

JAKARTA, KOMPAS.com - Akhir Mei 2013 Indeks Harga Saham Gabungan ditutup pada posisi 5.068,627. Sepanjang periode tersebut, indeks berfluktuasi membentuk rekor, dengan titik tertinggi pada posisi 5.251,29 dan terendah di level 4.907,59.

IHSG tetap melanjutkan uptrend, meski dibayangi oleh beberapa sentimen negatif. Masih dalam periode yang sama, asing melakukan net sell sebesar Rp 7,9 triliun. Meskipun asing gencar melakukan penjualan, adanya optimisme dan masih kuatnya pembelian dari investor lokal membuat IHSG tetap di zona hijau.

Selama beberapa pekan terakhir, menurut analis dari First Asia Capital, David Nathanael Sutyanto, IHSG sebenarnya disetir beberapa sentimen negatif dan positif.

"Masih cerahnya sektor properti menjadi penopang indeks. Namun tingginya asumsi inflasi dalam APBN membuat adanya kekhawatiran jika hal tersebut akan berimbas ke kenaikan tingkat suku bunga. Padahal trend bunga kredit mikro sedang mengalami penurunan," kata David, Minggu (2/6/2013).

Selain itu, Bank Indonesia (BI) juga merilis prediksi pertumbuhan ekonomi kuartal kedua 2013 yang hanya sebesar 5,9% - 6,1%. Prediksi ini turun jika dibandingkan dengan kuartal I, di mana bank sentral memprediksikan pertumbuhan ekonomi 6,2%. Realisasi pertumbuhan ekonomi kuartal 1 hanya sebesar 6,02%. Namun BI memprediksi bulan Mei ini berpotensi mengalami deflasi hingga sebesar 0,09%.

Faktor Eksternal

Adanya wacana pembatasan impor batubara yang digulirkan pemerintah China, juga menekan sektor tambang batubara. Dari dalam negeri, pemerintah juga mencanangkan akan menaikkan pajak royalti dari tambang  batubara yang memiliki Izin Usaha Pertambangan (IUP). Dengan begitu, kata David, sektor batubara sepertinya masih akan tertekan jika wacana-wacana ini terus berlanjut.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Dari global adalah kekhawatiran bahwa AS akan mengurangi stimulus ekonominya dalam bentuk quantitative easing. Selain itu tingkat pengangguran di 17 negara Eropa kembali menembus rekor. Persentase pengangguran naik menjadi 12,2%. Angka pengangguran tertinggi berada di Yunani dan Spanyol sebesar 25%.

Untuk awal Juni ini, David memprediksi, indeks masih akan mengalami aksi profit taking. IHSG menempati posisi kinerja terbaik ketiga setelah bursa Jepang dan Filipina.

"IHSG diprediksi akan bergerak mixed dengan kecenderungan melemah. IHSG berpotensi menguji support di 5.000. Secara teknikal IHSG berpotensi mengalami koreksi," ucap David.

Halaman:


26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.