Program Orde Baru Ini Terbukti Berhasil Cetak Orang Kaya

Kompas.com - 24/07/2013, 13:35 WIB
Petani mengumpulkan tandan buah segar (tbs) kelapa sawit di kebun inti kelapa sawit milik Asian Agri, di Kabupaten Siak, Riau, Rabu (17/4/2013). Di Provinsi Riau Asian Agri mengelola sekitar 5.500 hektar kebun inti serta memasok kebutuhan petani yang mengelola 11.000 hektar kebun plasma kelapa sawit. Dalam setahun kebun kelapa sawit Asian Agri di Provinsi Riau mampu memproduksi 25 ton tbs per hektar. KOMPAS IMAGES/RODERICK ADRIAN MOZESPetani mengumpulkan tandan buah segar (tbs) kelapa sawit di kebun inti kelapa sawit milik Asian Agri, di Kabupaten Siak, Riau, Rabu (17/4/2013). Di Provinsi Riau Asian Agri mengelola sekitar 5.500 hektar kebun inti serta memasok kebutuhan petani yang mengelola 11.000 hektar kebun plasma kelapa sawit. Dalam setahun kebun kelapa sawit Asian Agri di Provinsi Riau mampu memproduksi 25 ton tbs per hektar.
|
EditorErlangga Djumena

SIAK, KOMPAS.com — Boleh saja kepemimpinan Soeharto di era Orde Baru dikritik habis-habisan. Namun, tidak semua program pembangunan yang digagas kala itu buruk. Sebut saja program transmigrasi.

Belakangan, program tersebut berhasil mencetak jutawan di daerah seiring dengan naiknya pamor kelapa sawit di pasar internasional, seperti dialami Musimin, transmigran asal Cilacap, Jawa Tengah.

Saat pertama kali datang ke Riau pada tahun 1991, dia mendapat jatah lahan seluas 2 hektar. Lahan tersebut ditanami kelapa sawit. Saat ini, lahan kelapa sawit yang dimilikinya mencapai 16 hektar.

Dia menambah luasan lahan dengan cara membeli lahan rekan-rekannya yang memilih kembali ke Jawa lantaran tidak sabar menanti hasil sebagai transmigran. Dengan lahan seluas itu, Musimin bisa mendapat penghasilan sebesar Rp 40 juta-Rp 50 juta per bulan.  Dia juga memiliki rumah yang besar dan kendaraan.  "Sebelum jadi transmigran, saya kerja sebagai buruh bangunan di Cilacap," ujarnya, Rabu (24/7/2013).

Musimin mengungkapkan, rekan-rekannya yang kembali ke Jawa saat ini banyak yang menyesal karena mereka harus kembali dari nol lagi.

Kisah serupa diungkapkan Rustamari, transmigran asal Solo, Jawa Tengah. Ketika datang ke Riau pada tahun 1991, dia mendapat jatah lahan seluas 2 hektar. Saat ini, lahan kelapa sawit yang dimilikinya mencapai 10 hektar.  Dari lahan itu, dia memperoleh pendapatan Rp 25 juta hingga Rp 30 juta per bulan.

Para pemilik kebun kelapa sawit itu merupakan sebagian dari petani plasma PT Asian Agri. Hingga saat ini, jumlah petani plasma perusahaan ini mencapai 29.000 yang tersebar di wilayah Jambi dan Riau.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Pola kemitraan petani plasma tersebut juga diterapkan sejumlah perusahaan perkebunan kelapa sawit nasional. Adapun petani plasma tersebut sebagian besar adalah para transmigran dari Jawa.

General Manager Asian Agri Freddy Widjaya menjelaskan, pola kemitraan ini berhasil meningkatkan taraf perekonomian masyarakat di daerah. "Untuk tahun ini, kami memperkirakan produksi CPO mencapai 1 juta ton, dan kami mendapatkan pasokan buah juga dari petani plasma," ujarnya.Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.